Menginjeksi “Can Do Virus” dalam Berbisnis

Menginjeksi  “Can Do Virus” dalam Berbisnis Menginjeksi  “Can Do Virus” dalam Berbisnis badminton slipper buddha

Business is a marathon, not a sprint game

Sebagai penikmat bulu tangkis sejak kecil dan sekaligus juga pemain bulu tangkis “level kampung”, menonton dari layar kaca perhelatan perebutan piala Thomas dan Uber tahun 2010 minggu lalu hukumnya adalah “wajib berat ”. Memelototi pertandingan bulutangkis level kelas dunia memang terasa mengasyikkan bagi “penikmat” bulu tangkis seperti saya. Apalagi tim Thomas dan Uber Indonesia ikut serta dalam pertandingan akbar itu, walaupun “belum berhasil” merebut kembali kedua piala supremasi beregu putra dan putri tersebut.

Pertandingan yang paling menarik menurut saya adalah tumbangnya supremasi sang ratu juara beregu putri China yang selama ini menggenggam piala Uber oleh tim beregu Korea Selatan. Enam kali Tim Korea Selatan masuk final vis a vis dengan regu putri China. Selama itu pula selalu ditaklukan China, tetapi kegigihan yang tanpa reserve, di pertemuan ke-6, tim putri Uber Korea selatan menggilas tim putri China dengan skor 3-1. Walaupun secara ranking IBF (International Badminton Federation) rata-rata rangkingnya di bawah pemain China, berkat kegigihan dan keuletannya, “Sang Goliath” bisa juga dirobohkan. Bola-bola shuttle-cock sulit yang penempatannya nyaris sulit dijangkau, dengan “mati-matian” selalu dikejar, membuat frustasi para pemain Uber China.

Melihat kengototan, persistensi dan daya juang pantang menyerah yang dipertontonkan tim Korea Selatan yang akhirnya bisa juga menumbangkan Tim favorit China jadi mengingatkan saya akan “resep sukses” yang pernah dibagikan oleh Cak Eko, pemilik bakso Malang kota yang memiliki sederetan outlet dengan ribuan karyawan. “Daya juang penuh kengototan, tanpa kenal menyerah” merupakan resep utama keberhasilan Cak Eko membangun imperium bisnisnya.

Beliau pernah menceritakan sederetan “perjalanan kegagalan bisnis-nya” yang pernah diretas, sebelum akhirnya berhasil dengan bakso Malang kota-nya saat ini (Sebuah cerita yang persis sama dengan cerita tim Uber Korea Selatan yang selalu menggapai final, tetapi selalu “disikat” tim Uber China). Tetapi karena keputusan untuk menjadi entrepreneur sudah bulat. Dari sejak lulus kuliah dari ITS di kota Surabaya, Cak Eko tidak tertarik mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan laiknya temen-temen sekampusnya. Membuka bisnis sendiri pun langsung dilakoninya.

Menurut catatan saya, setidaknya ada 10 jenis bisnis yag diretas dalam rentang 10 tahun (1997-2005) yang dilakoni Cak Eko sebelum memutuskan menekuni bakso Malang Kota. Berbisnis HP bekas (‘97), Menekuni MLM (’98), Berbisnis Jahe/Agro (’99), Berjualan tas&dompet kulit (’00), jual busana muslim (’01), berdagang kerajinan (’02), jual-beli mobil bekas (‘03),franchise gerobak makan (’04), bisnis bandeng cabut duri (’05). Sebuah perjalanan bisnis yang luar biasa.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kedua kisah di atas adalah, kedua fenomena di atas merupakan keberhasilan menginjeksikan “Can Do Virus” (CDV) ke diri mereka secara konsisten. Khususnya dalam berbisnis, masih banyak orang menerjuni bisnis, didasari segera meraup keuntungan semata tetapi ketika didera sedikit kerugian saja, mentalnya ciut, rasa manja bergelegak dan banyak yang akhirnya putar haluan 360 derajad, kapok menceburinya. Padahal seperti yang Cak Eko contohkan dalam berbisnis di atas, mengalami kejatuhan, rugi adalah hal lumrah yang sangat mungkin terjadi.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana ketika disentil kerugian serta mengalami sederetan kegagalan, dengan segera bangkit kembali. Banyak rekan dan kolega yang saya temui “berkeinginan” menceburi bisnis tidak siap untuk itu. Ngiler untungnya, tapi gak tahan sama bau ruginya. Ndak mungkin dalam berbisnis itu menangguk keuntungan terus menerus. Yang perlu dicermati adalah “mereduksi kerugian” tersebut agar tidak merembet terlampau jauh. Karena ingat, Business is a marathon, not a sprint game, kata sebagian teman saya yang berbisnis.

Jadi kalo keputusan untuk berpindah kuadran sudah bulat, pastikan Can Do Virus terinternalisasi dalam mind-set dan perilaku Anda. Sehingga ketika terjerembab dalam bisnis tidak menyebabkan Anda angkat koper berpindah kembali dari kuadran kanan ke kuadran kiri kembali. Kalau terkadang terjatuh ketika berlari, yakinlah itu hanya jatuh sesaat, segeralah bangkit dan berlari kembali menuju garis finish yang dicita-citakan. Selamat ber-marathon….

*Tulisan ini didedikasikan untuk teman, kolega, kerabat yang memutuskan pindah kuadran dengan tujuan mulia, membuka usaha untuk “berbagi kue” dengan sesama di tengah deraan mencari kerja yang semakin sulit di tanah air (Pengangguran semakin membumbung bok….). Jangan pernah ada kata “menyerah” kawanku. Anda pasti bisa…..

Credit photo : slipper budhha@flickr.com

Previous

The Right Man in the Right Place

Next

PLN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia 2012

4 Comments

  1. Inspiring mas 🙂 saya sendiri masih suka terjebak ikut sprint, padahal soal hidup dan berbisnis jelas marathon. Mungkin karna umur kali yah 🙂

  2. @Arham : he…he…he…saya yang kebetulan nulis inipun acapkali berlaku sama….”terjebak marathon”…saling sharing seperti itu “mengingatkan”….thanks for stop by…..:)

  3. sinta damayanti

    pada saat memutuskan utk memulai suatu usaha..kegigihan modal utama… konsekwen pada satu bidang…utk mengasah kepintaran n kejelan kita..insyaalloh.. suatu hal yg terus diasah n dikembangkan suatu saat ada hasilnya ibarat tetesan air yg bisa menghancurkan batu karang

    • @Sinta : Ibu yang berani berpindah kuadran satu memang komentarnya penuh antusias dan penuh semangat. Kapan-kapan mengalamannya “mengarungi” bisnis boleh tuh di-share di blog Manuver Bisnis 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén