Mengibarkan Merek Berdarah Indonesia di Kancah Dunia

Mengibarkan Merek Berdarah Indonesia di Kancah Dunia Mengibarkan Merek Berdarah Indonesia di Kancah Dunia aku cinta indonesia
“Sebagian besar hambatan ada dalam diri kita, bukan berasal dari luar”.

Kalau diteropong di tingkat banyaknya penduduk di dunia, posisi 10 besar dipastikan nama Indonesia bakalan kesebut, karena setelah China, India, dan Amerika Serikat, Republik yang kita cintai ini menduduki posisi ke-4. Di Benua Asia, benua yang disebut-sebut akan mengalami lonjakan ekonomi di abad ini, posisi Indonesia bahkan nangkring di posisi 3 (238 juta) besar setelah China (1,332 milyar) dan India (1,153 milyar), data tahun 2008. Sayangnya, kedigdayaan di urusan jumlah penduduk belum diikuti kehebatan di urusan mengibarkan merek berlanggam Indonesia di kancah dunia bahkan kawasan Asia sekalipun. China telah memiliki Lenovo, setelah mengakuisisinya dari PC IMB. Sedangkan dari India, Bajaj (perusahaan otomotif) dan Grup Tata mulai dilirik pasar internasional. Bagaimana dengan perusahaan dan merek Indonesia?

Agar merek bernuansa “Indonesia” mampu berkibar di pasar global, tentu saja, Republik ini harus mampu mencetak sebanyak-banyaknya perusahaan yang berorientasi ekspor. Untuk benchmarking, rata-rata perusahaan Jepang yang merajai ekspor dunia dengan mendominasi sektor industri otomotif yang dikomandani Honda dan Toyota dan sektor elektronik yang dipimpin Sony, perusahaan Jerman mencengkeram kuat di kelas otomotif kelas wahid seperti duo BMW dan Mercedez Benz. Amerika Serikat secara terang-terangan mengekspor pop culture melalui bisnis hiburan (film) dan musik. Bagaimana dengan kans Indonesia?

Kalau merunut data, tidak melihat kecenderungan trend bisnis yang menitik beratkan pada kepopuleran sebuah bisnis semata, sejatinya kans Republik ini untuk menelurkan produk-produk berorientasi ekspor sangatlah memungkinkan. Sektor manakah kans merek Indonesia berpeluang berkibar di kancah dunia itu? Sebuah sektor yang barangkali “tidak se-mengkilap” bila dibanding sektor informasi teknologi, komputer, industri otomotif yang kini seringkali menjadi primadona dibahas majalah-majalah bisnis dunia. Dialah, sektor agrobisnis dan pertambangan. Suka tidak suka, di bisnis berbasis sumber daya alam inilah, Negara ini punya strength points, setidaknya kalo ditilik dari SWOT analysis.

Mari kita kulik dan elaborasi fakta tersebut. Dari buku Globality: Competing with Everyone from Everywhere for Everything (2008). Penulis Harold L.Sirkin, James W.Hemerling dan Arindam K.Bhattacharya dalam penelitiannya mengambil sampel perusahaan-perusahaan Negara berkembang (delevoping countries), beliau menyatakan akan banyak perusahaan dunia berkembang yang mengambil alih kepemimpinan pasar global. Artinya merek-merek dan perusahaan nomer wahid dunia tidak hanya didominasi Negara-negara maju semata. Dari 100 perusahaan yang dijadikan sampel, hanya satu perusahaan yang dicomot dari Indonesia, yakni PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Sebuah perusahaan produsen mie instan berbasis tepung terigu yang notabene berbasis agrobisnis.

Fakta lain adalah komoditas agrobisnis dengan nilai ekspor tertinggi, dicomot dari BPS yang diolah Pusdatin Depdag (2008), produk Kelapa sawit (nilai ekspor 9.652,91 juta US$) yang sudah menyalip sang pemimpin pasar Malaysia, Kakao (nilai ekspor 829,92 juta US$), bahan dasar coklat, Kelapa (nilai ekspor 707,93 juta US$), Kopi (nilai ekspor 658,28 juta US$) merupakan adalan ekspor Indonesia, dimana banyak perusahaan Indonesia bermain dan menjelajah pasar ekspor. Bahkan, beberapa di antara mereka telah menjadi pemain utama di pasar internasional. Sebut satu saja, PT.Indesso Aroma (tidak banyak yang mengenal nama ini tentunya), merupakan pemain dunia di industri pewangi berbasis minyak cengkeh (flavor dan flagrance) dan turunannya. Dari 3.500 ton total produksi minyak cengkeh dunia, 2.500 ton-nya diproduksi dan dipasok oleh PT.Indesso. Padahal awal mulanya mereka hanya menyuling daun cengkeh yang berjatuhan di kota Purwokerto, Jawa Tengah. Mengagumkan !!

Kebetulan majalah SWA pernah mengulas beberapa perusahaan-perusahaan Indonesia yang sukses “menembus” barikade-barikade negara-negara tujuan ekspor yang terkadang quality control-nya cukup rigid, belum lagi rambu-rambu non tarif yang dipasang untuk “memproteksi” produk domestik mereka. Tetapi mereka dengan gigih (tidak mengumbar kecengengan seperti sinetron dan reality show di TV yang sekarang bertaburan) dan tetap setia di core competence-nya, tidak tergiur untuk “pindah ke lain hati”. Mereka bertarung di pasar global, yang pastinya diperebutkan banyak pemain kelas kakap dunia. Dengan kejelian berinovasi dan kegigihan untuk tetap setia di core competence-nya (kompetisi inti), mereka berhasil mengibarkan mereknya di panggung global. Salah satunya PT.Indesso, yang saya sebut di atas.

Sudah saatnya kita kembali kepada titik kekuatan yang kita miliki. Jangan sampai ada cerita lagi, seorang petani menjual lahannya dan melegonya menjadi sebuah sepeda motor, karena ingin menjadikannya ojek. Karena uang dari hasil bumi tidak bisa menutupi kehidupan sehari-harinya. Pasti ada yang salah dari fenomena yang “menyayat hati” itu. Sebingung mengapa kita sebagai salah satu produsen kopi dunia, tetapi toko-toko kopi yang ramai dan enak itu dimiliki Negara lain.

Saatnya berbenah…..kita pasti bisa !! Aku merindukan suatu saat aku menyeduh dan menyeruput kopi made in Indonesia di suatu sudut café di New York atau di kawasan Chiyoda-ku, daerah elit deket istana milik kaisar Jepang di down town Tokyo. Pasti nuansa rasanya lebih mak nyuuss di lidah……..We love Indonesia full.

credit photo : andrewaziz@flickr.com

Previous

Menyunat Kemubaziran, Mengakrabi Efisiensi ala Jepang

Next

Brand Extension dan Brand Stretching ala Lego

6 Comments

  1. Dalam ‘the power elit’, seorang sosiolog amerika; C. Wright Mills pernah menjelaskan adanya pembagian peran antara Pemerintah, pengusaha, dan militer amerika dalam hal industry militer Amerika. Pemerintah mencari pasar, pengusaha mendanai, dan militer sebagai pemilik technology militer.

    Di Jepang, Japan Incorporated konon sangat giat mencarikan pasar untuk perusahaan-perusahaan Jepang.

    Di Indonesia, kita memiliki KADIN, HIPMI, dan Pemerintah. Apa bedanya ?

    Saya percaya bahwa bahwa Ketiga pemerintah; Indonesia, Jepang, dan Amerika berkepentingan mencarikan pasar untuk negaranya, tetapi model dan caranya saja yang berbeda.

    Beberapa tahun lalu Pemerintah Amerika sempat menghentikan tekstil Indonesia, karena Indonesia dianggap kurang terbuka terhadap film mereka. Amerika meminta Indonesia lebih membuka diri terhadap film Amerika. Dengan Ini Pemerintah Amerika membukakan jalan untuk industry film mereka. Dalam hal ini Amerika banyak menggunakan tekanan agar industry mereka dapat masuk suatu Negara.

    Jepang Konon lebih suka membantu perbaikan jalan di Indonesia ketimbang fasilitas sektor perkeretaapian. Konon ini dikarenakan pasar mereka di Indonesia adalah: mobil dan motor, bukan kereta api. Jepang dalam hal ini lebih menggunakan penetrasi sosial budaya (CSR )

    Indonesia, dalam hal ini kiprah pemerintah untuk memajukan ekspor, sebenarnya juga banyak, namun menurut saya yang awam, aspek teknis yang terlalu banyak dikerjakan, dan lebih bersifat kedalam, kecuali dalam hal indusri pariwisata. (saya melihat pameran di luar negeri lebih kepada pameran kebudayaan u/ menarik wisatawan, bukan untuk penetrasi pasar ekspor )

    Dari perbandingan strategi penetrasi pasar saja sudah tertebak kira-kira feedback yang diperoleh bukan begitu  (ini belum dari sisi bagaimana melindungi industry dalam negeri.. weleh..weleh…)

    akhirnya
    jika anak TK ingin jambu tinggal minta, Pekerja membeli, maka politisi jika menginginkan sesuatu harus melobby…

    • @Weka : artinya memang perlu duduk bersama antara pemerintah, pengusaha, dalam usaha mengembangkan ekspor. Duduk bersama barangkali sudah, tetapi secara intens dan berkesinambungan. Jam terbang ini yang perlu, jadi tercipta sinergi yang maksimal. Terima kasih atas masukannya Pak weka 🙂

  2. Wah banyak PR ya… Mungkin untuk generasi saya nanti makin ‘berat’ nih… 😀

  3. Salam kenal mas Donny,

    Sumber daya alam Indonesia memang luar biasa kaya. Walaupun demikian, saya pribadi merasa, perkembangan di sektor lainnya (termasuk teknologi) bukan artinya tidak mungkin.

    Mungkin untuk mengembangkan piranti (hp, hardware komputer) itu sendiri Indonesia akan tetap tertinggal. Tetapi bagaimana dengan sektor yang bertumpu kepada perkembangan teknologi secara global? Contohnya sektor internet di mana perkembangannya terjadi secara global termasuk juga Indonesia.

    Salah satu website yang menyediakan servis yang sangat dapat dibanggakan adalah http://koprol.com yang juga disanjung oleh Yahoo! Saya rasa ini adalah ladang subur bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk dapat tumbuh dan berkembang. Sejauh yang saya lihat, minat dan hasrat akan teknologi dan internet di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan luar negeri. Masalahnya tinggal masalah klasik orang kita: tekad. Tekad kita suka pupus di tengah jalan, padahal kesuksesan tinggal di seberang jalan.

    Adalah impian saya agar kita semua bisa ikut andil berkontribusi untuk menorehkan nama Indonesia di peta dunia.

  4. ina

    ngomongi pemerintah indonesia ni gk akan pernah kelar.biarpun kita banyak mengkritik lewat website pemerintah atw yg terang2an di media,tetep aja Pemerintah RI itu tidak bisa bergerak,alias maju selangkah mundur 3 langkah, Saya Cinta INDONESIA tpi saya lihat INDONESIA yg begitu besar dengan potensi2 yg ada , saya jadi jengkel dan kesal sama PEMERINTAH RI, kenapa gk bisa seperti india/china/malaysia…??? PEMERINTAHAN YG MANDUL membiarkan INDONESIA di jajah EKONOMI nya ,,,seluruh NEgara2 di dunia Senang Melihat INDONESIA menjadi Negara Tong sampah!! Hampir semua barang2 bgus/busuk dari luar bisa di buang di INDONESIA,!! hebat kan INDONESIA,???hahahah kesel dan jengkel saya melihat PEMERINTAHAN ini..!!!! makanya banyak daerah2 yg pengen lepas dari RI,

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén