Mengibarkan Employer Branding Strategi

Mengibarkan Employer Branding Strategi Mengibarkan Employer Branding Strategi youre hired1
Salah satu penyebab mengapa perusahaan yang berkiprah di bisnis head hunter dan mengurusi recruitment talenta perusahaan begitu dicari adalah kecenderungan menurunnya jumlah kelahiran yang berujung pada mengerutnya jumlah tenaga kerja. Seperti di Jepang misalnya, sudah lama kecenderungan ini terbaca. Meskipun diiming-imingi sederetan kemudahan dan support dari Pemerintah untuk mempunyai anak “lebih banyak”, agaknya tidak membuat warganya bergeming. Alhasil, kekurangan tenaga kerjanya sebagian ditutupi oleh pekerja asing yang didatangkan dari luar negeri, termasuk dari Indonesia diantaranya.

Kalau dari jumlah (kuantitas) saja untuk memenuhinya saja termehek-mehek, apalagi untuk mendapatkan seseorang pekerja dengan kinerja kinclong ( secara kualitas) menjadi semakin langka lagi. Tak heran posisi head hunter untuk eksekutif menjadi semakin laku untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Sehingga, head hunter harus semakin rajin “jalan-jalan” untuk bisa mendapatkan calon cemerlang untuk bisa “ditawarkan” ke perusahaan-perusahaan. Semakin sebuah perusahaan head hunter mampu menyuplai tenaga kerja berkualitas, semakin tebal pulalah uang yang diterima dari sang klien. Tidak ayal, praktik “bajak-membajak” pegawai, terkadang menjadi praktik yang semakin lumrah yang kerap terjadi.

Mencermati fenomena tersebut, dalam dunia SDM, ada sebuah strategi baru yang didesain dari sebuah terminologi “branding” di dunia pemasaran yakni perlunya menginisiasi sebuah strategi yang sering dijuluki Employer Branding. Apa makna penting Employer Branding itu? Kalau branding dalam pemasaran berfungsi sebagai kompas bagi konsumen untuk memilih sebuah produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhannya. Maka strategi employer branding adalah sebuah strategi untuk meng-attract pekerja, khususnya yang bertalenta yahud, untuk mau bekerja di suatu perusahaan tanpa harus banyak berpromosi berbuih-buih.

Jadi pendekatannya mirip pada strategi branding di pemasaran tetapi penerapannya berbeda. Bukan sebuah rahasia lagi menahan top perfomers di perusahaan untuk tetap “sehati” tinggal bersama di biduk yang sama bukanlah hal yang mudah. Sudah jumlah mereka tidak banyak, yang “mengkilik-kilik” untuk keluar bukan main banyaknya. Sehingga bila employer branding strategi suatu perusahaan didesain cukup menawan, tanpa perlu susah-susah, para telenta berkualitas top itu akan datang sendiri untuk melamar. Kurang lebih seperti itu tujuan arti penting employer branding.

Beberapa lembaga dan konsultan, khususnya yang berkutat di bidang ini, seringkali mengeluarkan daftar pemeringkatan daftar perusahaan yang “diminati” para pekerja sebagai rumah keduanya. Universum misalnya pernah mengeluarkan study tentang the world most attractive employer 2011, yang menjadikan Google, KPMG, Ernst and Young sebagai perusahaan diminati menjadi tempat untuk bekerja no. 1, 2 dan 3 di panggung dunia.

Apakah strategi employer branding harus mengedepankan kompensasi yang tinggi untuk menahan para pekerja bertalenta hebat untuk tetap tinggal? Barangkali kompensasi dan benefit akan menjadi hal penting tapi itu bukan hal yang utama. Meskipun kelihatannya klise, tapi begitulah adanya. Ada banyak perusahaan selain Google Inc. yang mengganjar pegawainya dengan kompensasi yang lebih tinggi, toh posisinya masih kalah di bawahnya. Karena banyak faktor lain selain hal itu.

Suasana kerja, juga sering ditunding punya andil besar dalam mempengaruhi para pekerja terbaik itu tetap tinggal atau lari. Pernah ditulis di Blog ini, seorang kawan yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional bagus, jabatan menawan, kompensasi selangit, bonus cukup legit. Tapi toh akhirnya dia resigned juga. Ternyata ditelusur lebih jauh suasana kerja yang kurang kondusif menjadi penyebabnya (Baca : Merawat Rumah Ke-2 Menjadi Nyaman).

Memang tidak ada pil ces-pleng (manjur) yang semuanya bisa digunakan untuk meredakan tingginya turn over karyawan top maupun karyawan berpotensi di suatu perusahaan. Tetapi memulai untuk membangun strategi employer branding adalah penting adanya untuk memastikan perusahaan yang Anda nahkodai tetap bisa bersaing di medan bisnis yang kian kompetitif. Dukungan top level di perusahaan untuk menyusun strategi employer branding amatlah penting.

Jadi, sudahkan perusahaan Anda memiliki strategi employer branding?

Credit Photo : fr.linkfluence.net

Previous

Bisnis Berwawasan Kemanusiaan

Next

Memanfaatkan Trickle Down Effect 5,6 US Miliar

4 Comments

  1. salam kenal mas donny, saya suka sekali membaca analisa mas, tajam dan bahasanya enak dikuti apalgi buat saya yang bukan orang bisnis atau management. 🙂

  2. Achmad S Putro

    Hi Don,

    Urun rembug yo.
    You touch a very important thing here. Membangun employer branding semakin menjadi hal strategis bagi perusahaan, terutama divisi SDMnya. Ini menjadi bagian dari HR value proposition ke perusahaan agar SDM benar2 menjadi patner strategis manajemen (Dave Ulrich).

    Menurut studi, hal yang membedakan dari perusahaan yang termasuk dalam Fortune’s World Most Admired Companies dengan yang lain adalah bagaimana mereka bisa mengelola faktor Clarity, Alignment, recognition dan communication mereka dengan baik. Jadi bila kita lihat, recognition atau penghargaan hanya salah satu faktor saja.

    Employer branding sedikit berbeda dengan product branding. Persepsi internal (karyawan) jauh lebih penting daripada citra perusahaan ke luar, sehingga membangun sistem SDM yang fundamental dan berkelanjutanlebih utama untuk dilakukan daripada program promosi belaka.

    Oleh karena itu untuk mengukur sekuat apa employer branding kita, biasanya perusahaan mengukur level ‘engagement’ karyawan, yaitu seberapa jauh karyawan mau melakukan sesuatu yang lebih dari ekspektasi perusahaan. Biasanya melalui survey. Namun hal itu tidak cukup. Perlu diukur juga level ‘enablement’ perusahaan menurut karyawan, yaitu seberapa jauh perusahaan memberikan ruang kepada karyawan dalam berkontribusi.

    Semoga membantu !

    • @Achmad S Putro : Sangat boleh Pak Putro 🙂 wah pakar HR ikut share disini, I do welcome Pak…..memang faktor enablement juga merupakan faktor gak kalah penting ya Pak….artikel ringan yang coba saya share sekedar mengingatkan perlunya perlunya perusahaan mempunyai strategi employer branding agar orang terbaiknya dalam perusahaan tidak gampang hekang…anyway maturnuwun urun rembug-nya Pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén