Menghindari Jebakan Aset Tetap

Menghindari Jebakan Aset Tetap Menghindari Jebakan Aset Tetap rat trap kevindean

“Lagi sibuk renovasi kantor nih Mas, sambil buka lowongan untuk 2 orang biar terlihat seperti kantor beneran”, jelas seorang kawan via telepon ketika saya menayakan apa kegiatannya sekarang. Teman saya ini, sebut saja Mas Indra, baru saja berpindah kuadran. Kebetulan jabatan terakhirnya di kantor adalah seorang manager yang membawahi beberapa orang staf. Saya perlu mengacungkan jempol “salut” dan angkat topi atas keberaniannya berpindah kuadaran setelah usianya tidak muda lagi serta sudah berada di comfort zone sebagai karyawan (pada posisi manager) dalam rentang waktu yang cukup lama.

“Apa tidak sebaiknya renovasi kantornya ditunda dulu Mas, kan kondisi bangunannya masih lumayan bagus, dan juga tipe bisnis yang digeluti kayaknya kan jarang klien berkunjung langsung”, tanya saya ingin tahu. “Iya sih, tapi ben kethok koyo kantor tenanan ngono lho Mas”, jelasnya dalam bahasa Jawa dengan nada sumringah. Artinya kurang lebih dalam bahasa Indonesia “agar kelihatan seperti kantor beneran gitu lho Mas” . “Cuma direnovasi kayak gitu saja, biayanya gedhe juga lho Mas”, paparnya lebih lanjut. “Wah, lumayan juga tuh biayanya kalo dikonversi menjadi modal kerja”, jawab saya menimpali. “Iya sih, tapi…..”, jawabnya sambil tidak meneruskan jawabannya. Padahal kantor yang direnovasi sebelumnya juga baru saja dibeli dengan uang cash, dari uang tabungan dan uang pensiun dininya.

Terkadang, beberapa teman yang baru-baru pindah kuadran kiri ke kanan melakukan apa yang seperti yang Mas Indra lakukan. Keinginan untuk mendadani kantor baru setidaknya ‘mendekati” kantor lamanya dulu bukanlah tindakan yang sepenuhnya salah. Artinya, hal itu sah-sah saja. Tetapi menilik posisinya sekarang yang sudah berpindah kuadran, langkah membeli kantor dan merenovasi kantor itu sangat menyedot cash flow dan “modal kerja” untuk berpindah kuadran. Agaknya sedikit “blunder” langkah yang diambil kolega saya ini.

Ternyata dugaan saya benar saja, ketika suatu saat mendapat proyek yang membutuhkan dana besar, Mas Indra kelabakan mencari fresh money ke mana-mana. Akhirnya dapat sih talangan untuk itu, walaupun ada pinjaman dari kerabatnya. Padahal kalo dulu cukup menyewa kantor saja, dan tidak membelinya. Dananya cukup kuat untuk meng-handle proyek tersebut. Untung proyek itu tidak lepas, terbantu dana talangan dari saudaranya. Ingat lho, terkadang tidak hanya dalam bisnis, kesempatan kedua itu jarang sekali singgah.

Kasus yang dialami oleh Mas Indra tadi, seringkali saya sebut sebagai “jebakan aset tetap”. Sekilas memang uang yang ditanamkan di pembelian kantor tidaklah hilang, barangkali malah akan naik di kemudian hari. Akan tetapi, dana siap pakai (fresh money) akan berkurang secara signifikan. Apa lagi ketika berpindah kuadran dengan berbisnis sendiri nyata-nyata menggunakan dana pensiun dini, deposito pribadi atau malah pinjaman dengan menggadaikan sesuatu, itu bisa berabe. Lain halnya kalau bisnis yang dijalankan disokong oleh suntikan pemodal besar, itupun kalo terjebak juga dalam perangkap “pembelian aset tetap” yang berlebihan, menghela laju bisnisnya bisa agak tersendat.

Sedikit berbagi pengalaman saja, awal-awal pindah pindah kuadran-pun, saya sempat tergoda untuk melakukan hal yang sama dilakukan oleh Mas Indra. Tetapi menyadari “keterbatasan modal” yang saya miliki, saya mencoba menahan diri untuk tidak “mengkonsumsi” hal tersebut di atas, bahkan untuk beberapa pekerjaan tertentu saya lakukan sendiri (multi-tasking job) untuk menghemat pengeluaran. Menjaga cash flow tetap terjaga dan dalam posisi aman, itu penting bagi yang baru hijrah ke kuadran kanan. Walaupun di sisi lain, terkadang saya sangat bisa “memahami” keputusan rekan saya di atas, Mas Indra yang terbiasa di kantor lamanya sebagai manajer, tentunya ingin “kantor baru”-nya di kuadran kanan senyaman ketika masih menjabat dulu di kantor di kuadran kiri. Memang mempunyai kantor lux, mobil mewah barangkali merupakan sebuah kenikmatan tersendiri ya…..

Akan tetapi ada kalanya, kita perlu “menunda kenikmatan” untuk merengkuh hasil yang lebih besar. Yakinlah, sebuah hasil yang “luar biasa” membutuhkan aksi dan langkah yang luar biasa pula.

Credit Photo : kevindean@flickr.com

Previous

Lowongan Pekerjaan itu Bernama Entrepreneur

Next

Melongok Sejenak Pola Asuh ala Jepang

4 Comments

  1. ohayou gozaimasu…

    nice posting…

    eks kenshuusei jepang rata-rata begitu. setelah kembali ke tanah air biasanya beli rumah, beli mobil, maen ke sana ke mari “menghabiskan uang receh”.
    pada saat pengen mulai buka usaha, barulah mereka kebingungan dengan uang yang sudah menipis. sering saya ditelpon temen2 tsb yang nanyain apa ada kerjaan buat mereka apa nggak…. bahkan ada yang sudah mulai jual aset-asetnya (tanah, rumah, mobil dll). sedih deh..
    andai aja pemerintah (depnaker) sering mengadakan bimbingan kewirausahaan kepada tiap eks kenshuusei yang baru kembali dari jepang, tentu hal yang menyedihkan tersebut bisa diminimalisir.

    doumo

    • @Masfiq : Ohayou Gozaimasu….perilaku kenshuusei yang Mas ceritakan sesungguhnya tidak semata terjadi di kalangan kenshuusei semata, tetapi bisa terjadi di kalangan lainnya. Memang yang dibeli tanah, bangunan, atau mobil yang kelak bisa dijual kembali. Sayangnya aset yang dibeli bukanlah aset liquid alias aset yang mudah “dijual atau diuangkan” (kecuali kalau dijual murah), jadi ketika ada usaha yang membutuhkan dana segar, jadi seakan kehabisan nafas. Singkatnya memang perlu hati-hati dan bijaksana dalam membeli dan mengelola aset tetap.

      Oleh karenanya saya sedang menyusun pelatihan kewirausahawan, semoga bisa bermanfaat. Matur Nuwun rawuhipun di Blog Manuver Bisnis Mas….:)

      Doumo Masfiq-san

  2. Arief Budiyanto

    kebiasaan dari kebanyakan orang yang berpindah kuadran akan berperilaku seperti itu, ingin menunjukkan ke rekanan bahwa inilah perusahaan saya……mereka tidak berpikir akan proyek selanjutnya karena sudah terbiasa dengan adanya dana yang mendukung (tanpa berpikir dana untuk proyek tersebut sudah tersedia)……nah, kebiasaan ini yang mereka lupa bahwa sekarang mereka telah berpindah kuadran…… dan sebagian besar juga dari mereka yang belum ada proyek,…. cenderung akan berperilaku konsumtif untuk memperbanyak/memperbaharui aset tetapnya…….sukses mulia selalu mas Donny.

    • @Arief Budiyanto : Memang mengurangi perilaku konsumtif masih merupakan hal yang berat bagi sebagian kita ya Mas Arief….sukses mulia selalu buat Mas Budi.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén