Menggunakan 5 Forces Analysis Michael Porter

Menggunakan 5 Forces Analysis Michael Porter Menggunakan 5 Forces Analysis Michael Porter michael porterSalah satu hal yang selalu kita pelajari dimanapun Anda belajar di sekolah bisnis diujung dunia manapun, pembekalan pelajaran competitive analysis akan selalu didapat. Pendekatan ini merupakan hal penting dalam rangka memahami Lingkungan Bisnis dimana Bisnis yang digelindingkan berjalan. Salah satu pendekatan competitive analysis yang cukup populer yang sering dipakai adalah pendekatan yang diperkenalkan oleh Michel Porter yang dikenal dengan pendekatan Five Forces.

Professor Harvard Business School yang bernama lengkap Michael Eugene Porter dikenal sebagai ahli manajemen strategi dengan sederetan adi karya buku yang cukup produktif. Salah satu bukunya  yang berjudul Competitive Strategy, ditasbihkan menjadi  buku yang pernah meraih penghargaan oleh Academy of Management sebagai buku manajemen berpengaruh di peringkat 9 di abad 20. Kalau Anda pernah memasuki program kelas master Management Strategy, saya yakin pendekatan 5 Forces Michael Porter ini masih akan selalu dipakai sebagai referensi penting yang bakalan diulas.

Porter Five Forces Analysis adalah sebuah tool yang digelindingkan untuk memetakan sejauh mana bisnis yang Anda mainkan cukup kompetitif dan cukup atraktif.

Elemen pertama di bisnis ini adalah rivalries within Industry. Elemen ini mencoba mengulik lebih lanjut level kompetisi di industri itu. Karena perlu Anda memetakan dan berhitung pemain-pemain yang yang bermain di bisnis yang ingin Anda masuki. Misalnya Anda ingin mencebur di bisnis makanan lele. Anda pasti tahu begitu banyak warung pecel lele ada dimana-mana, itu menunjukkan tingkat eksepbilitas pecel lele tinggi. Tapi tapi harus bisa memetakan, bahwa disamping kelas lele jalanan pinggir jalan, kelas jualan lele dengan menjaring kelas yang lebih atas pun sudah ada, seperti Lele Lela misalnya, yang sukses mendirikan banyak outlet lele yang dimasak dengan banyak ragamnya.  Jadi kalau Anda berminat masuk bisnis ikan Lele misalnya, dengan persaingan yang sedemikian ketat di kelas pinggir jalan yang ada dimana-mana, Anda harus berhitung di level mana dan strategi apa yang harus dimasuki.  Jangan sekedar asal mencebur jualan lele deperti lele dijual dengan lele goreng ditemani irisan tomat dan lalapan dengan sambal, sudah pasti Anda pasti akan kalah. Tapi kalau harus diversifikasi seperti Rangga Umara (pemilik Lele Lela), pastikan ada hal lain yang bisa ditawarkan dari masakan lele selain racikan Lele Lela.

Elemen Kedua, Entry barrier. Elemen ini mau melihat sejauh mana tingkat kesulitan untuk masuk dalam industri tertentu. Strateginya semakin susah bisnis yang Anda bangun “dimasuki” pesaing, itu semakin bagus. Jadi kalau Anda mempunyai  sebuah bisnis, dimana barang baku cuman Anda yang punya, atau suatu masakan resep khas yang Anda miliki milik warisan orang tua cuma Anda yang punya, kemungkinan bisnis itu langgeng tahan lama kedepan itu lebih besar. Saya mempunyai  langganan soto di kota Semarang tempat posisinya gak strategis-strategis amat, tetapi karena resep oang tuanya dulu yang sudah melekat. Walaupun tempatnya biasa-biasa saja tetap dicari. Jadi Pastikan, bisnis yang Anda bangun susah untuk “difotokopi”.

Elemen ketiga : Buyer Power. Sejauh mana para pembeli atau pelanggan memiliki kekuatan untuk menekan produsen. Kalau Bisnis yang Anda jalankan banyak yang menjalankan banyak yang menjalani, kemungkinan Anda “ditekan” itu besar. Kalau Anda bermain ke daerah Senen, Jakarta Pusat di tempat pengusaha-pengusaha mesin cetak beroperasi. Karena jumlahnya sedemikian banyak, setiap saya kesana selalu saya dapati tulisan di depan mesin-mesin cetak rumahan tadi tawaran untuk mencetak dengan harga bersaing yang lebih miring. Jadi bisnis yang, efek penekan dari pembeli itu relatif jarang.

Elemen keempat : Supplier Power. Kalau bisnis Anda memerlukan supply bahan mentah (raw material), pastikan Anda mempunyai rekanan Supplier yang bisa diajak bekerja sama dengan baik. Misalnya Anda mempunyai bisnis makanan bakso. Walaupun bakso terkenal lezat dan dikerumuni banyak pembeli kalau supply daging sapinya seret, bisnis Anda akan terancam bukan? Jadi pastikan alur suppy barang bisnis Anda aman, sehingga tidak membuat bisnis Anda mandeg. Salah satu solusinya adalah untuk tidak terpaku pada sedikit atau satu supplier, itu berbahaya.

Elemen kelima adalah : Threat Substitute. Atau sejauh mana ancaman datang dari produk pengganti (subtitusi). Di sini Anda harus bisa memetakan, terkadang competitor itu tidak datang dari barang atau jasa yang sama, tetapi malah datang dari barang atau jasa yang berbeda tapi bisa berfungsi sebagai pengganti. Misalnya Anda mempunyai kedai kopi dengan ramuan yahud dan wangi, pesaing yang Anda perlu khawatirkan bukan hanya didepan Anda akan didirikan kedai kopi terkenal Starbucks, tetapi juga gerai minuman yang menghidangkan deretan teh dengan ragam yang enak. Bisa jadi karena pingin rasa kopi baru dia pindah ke gerai kopi lain, tapi bisa juga menjajal rasa teh, akan pingin mengurangi caffeine yang ada dalam kopi.

Jadi bagaimana persiapan Anda untuk membuka bisnis yang Anda idam-idamkan? Sudahkah Anda menyiapkan langkah-langkah persiapannya, semoga ulasan ringan tentang Porter Five Forces Analysis sedikit banyak membantu memetakan rencana membangun bisnis Anda…..selamat mencoba 🙂
Credit Photo : www.flickr.com

 

 

Previous

Mengelola Generasi Y

Next

Dicari Pegawai Negeri Yang Mempunyai Government Intrapreneur Mind Set

3 Comments

  1. Rini Widowati Desaulty

    Pembahasan yang sangat menarik seputar dunia bisnis dan memang selalu ada saja yang bisa kita pelajari dari lingkungan sekitar (real business stories) di belahan dunia mana pun praktiknya akan sama dan hal ini bisa menjadi reference dan knowledge bagi para pelaku bisnis.

    Terkait dengan pembahasan 5 Forces Analysis, saya ingin berbagi cerita tentang kewirausahaan di tempat saya tinggal saat ini (Perancis).

    1. Rivalries within Industry.
    Di Perancis orang pada umumnya mengkonsumsi Baguette (Roti khas perancis) untuk makanan sehari2x layaknya Nasi di Indonesia. Menu makanan Pagi-Siang-Malam identik dengan makanan tsb sehingga tidak mengherankan “Menjamurnya” Toko Roti & Kue (Boulangerie & Patisserie) dan tentu saja “Persaingan usaha menjadi sangat ketat”. Disamping persaingan antara sesama Toko Roti, pesaing yang tidak kalah “Powerfulnya” adalah Supermarket besar seperti (Auchan, Carrefour, Leclerc, dll) yang menawarkan banyak varian dan harga yang sangat kompetitif.
    Namun saya cukup “Tergelitik & Penasaran” ketika melihat satu Toko Roti yang letaknya tidak di Pusat bisnis kota namun banyak pembelinya terutama di hari minggu pagi yang mengakibatkan adanya antrian di luar toko.
    Teryata setelah saya selidiki melalui tanya-jawab dengan Keluarga, Tetangga & Teman, “Rasa & Tektur ” dari Roti yang di jual di Toko tsb yang mengakibatkan banyak orang “Rela antri” hanya untuk mendapatkan “1 Batang Baguette”. Differensiasi produk kunci suksesnya.
    Karena pada umumnya masyarakat Perancis “Lebih menyukai & menghargai” produk Roti rumahan (Home industry products) dari pada produk industrial.
    Saya pribadi lebih memilih produk industrial (supermarket) untuk mendapatkan harga yang kompetitif…:).

    2. Entry Barrier.
    Saat mengunjungi sebuah desa saya sempat mencicipi salah kue khas perancis utara yaitu “Tarte Au Libouli” (baca : tar o libuli). Sekilas nampak bentuknya biasa saja namun saat menyantapnya…wow…enak sekali…
    Teryata hal ini yang membuat Toko kue pedesaan ini (Ferme Auberge) dicari oleh pelanggannya termasuk saya & keluarga yang “rela” menempuh jarak 2 jam perjalanan (tanpa macet…:)) demi menyantap hidangan khas daerah tersebut.
    Strategi untuk memenangkan usaha yang dilakukan oleh pemilik toko kue tersebut adalah ” Menjaga Resep Warisan keluarga” yang tentu saja sulit untuk di duplikasi pesaingnya.
    Ditambah lagi “Gelar Pemenang Lomba Kue tingkat propinsi” berhasil di dapatkannya sebagai salah satu “Added Value” sekaligus “Selling point” sehingga banyak pelanggannya datang dari berbagai kota/desa sekitarnya.
    (Di Perancis Sertifikasi keahlian mengolah pangan, Piagam penghargaan kompetisi, dan sejenisnya sangat diperhatikan oleh Konsumen karena tidak mudah mendapatkannya sehingga hal tsb bisa menjadi “Unique Selling Point” bagi produsennya)

    3. Buyer Power.
    Kejadiannya saat jam makan siang ketika saya turun dari tram dan “cukup terganggu” dengan antrian panjang di salah satu toko roti/kue tepat di depan halte pemberhentian. Teryata antrian untuk mendapatkan 1 Sandwich (isinya cuma irisan tipis tomat, timun, daging/ikan/udang, saus) dengan harga “sangat terjangkau” yaitu 1,5 Euro (+/- Rp. 18.000).
    Strategi “Low price” yang di terapkan Pemilik toko roti tsb untuk memenangkan persaingan yang sangat ketat antar sesama toko roti teryata berhasil menarik banyak anak muda, pelajar, karyawan untuk “rela antri”.

    4. Supplier Power.
    Hal ini yang saya terapkan pada start-up business yang sedang saya rintis saat ini dengan menjalin relasi dengan beberapa teman produsen kerajinan / handicraft di Indonesia. Untuk menjamin kelangenggan supply ke depannya.

    5. Threat Subsitute.
    Semakin menjamurnya restaurant Asia (Cita rasa Thailand, Jepang, China, Vietnam) di perancis mnengakibatkan ketatnya persaingan dan sangat sulit bagi pemilik restaurant untuk mendominasi daerah tertentu.
    Namun teryata persaingan tidak hanya datang dari restaurant makanan sejenis namun Restaurant All-U-Can-eat yang semakin hari semakin di minati oleh Keluarga muda & anak muda karena harganya yang lebih murah 2-3 euro per porsi dan bisa makan sekenyangnya.
    Harganya bisa murah karena menunya kebanyakan adalah Salad (segala macam jenis sayuran – rebus & mentah) dan tentu saja hal ini juga bisa “Cepat membuat kenyang” dan secara “alami” membatasi konsumsi pembelinya.

    Demikian sharing story yang bisa saya sampaikan, semoga bisa menjadi pengetahuan bagi teman-teman wirausaha di Indonesia dan menambah wawasan untuk menemukan banyak ide orisinal dan kreatif untuk menjadi competitive advantagenya.

    • @Mba Rini Widowati : Merci Mba Rini, c’est très apprécié, sharing menarik dari perspektif orang Indonesia Prancis, boleh nih kapan-kapan Mba Rini ngisi forum bisnis di blog Manuver Bisnis tentang Bisnis di Perancis, bisa ga Mba 🙂

      • Rini Widowati Desaulty

        Mas Donny, terima kasih banyak untuk apresiasinya, dengan senang hati saya ingin berbagi dengan teman-teman di Forum ini dengan mengangkat tema yang terkait dengan kewirausahaan di Perancis dan Eropa. Saat ini saya juga sedang mempersiapkan Bisnis Plan untuk mempromosikan produk-produk Indonesia dan mencoba mencari “Jalan” untuk menemukan para wirausaha Indonesia yang potensial untuk memasarkan produknya di Eropa dengan memanfaatkan jalur Chambre de Commerce & Industrie di Perancis (semacam KADIN di Indonesia).
        Jika memungkinkan saya ingin berdikusi lebih lanjut mengenai kewirausahaan ini dengan Mas Donny secara langsung mengenai apa saja yang bisa di kembangkan ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén