Mengendus Potensi Bisnis Agro di Jerman

Mengendus Potensi Bisnis Agro di Jerman Mengendus Potensi Bisnis Agro di Jerman chancellor house markusr

Waktu menunjukkan pukul 19.30 sore waktu Jerman. Tetapi terik matahari malu-malu masih menyapa ditingkahi angin sepoi-sepoi musim panas yang menari nari menerpa wajah. Musim panas memang membuat waktu siang lebih panjang, rasanya terasa seperti pukul empat sore di Indonesia. Hari ini saya dijanjikan bertemu dengan seorang Indonesia yang cukup lama bermukim di Jerman. Kita akan mengobrol di Hotel Krug, sebuah hotel di bilangan Poppelsdorfer Platz di kota Bonn, mantan ibu kota Jerman Barat sebelum kembali ke kota Berlin setelah menyatunya Jerman.

Dalam suasana penuh keakraban ala “Indonesia” sambil menyantap makan malam, kita mengobrol beragam topik, tidak ketinggalan tentang bisnis. Kolega Indonesia saya bernama Bapak Adam Pamma, Public Relations and Investment Promotion Manager AIPSE (Association of Indonesian Professionals for Science Technology and Enterprises). Sebuah Organisasi perkumpulan professional Indonesia yang bekerja di Jerman yang menjembatani know how bisnis dari Jerman ke Indonesia (khususnya yang berbasis teknologi). Kebanyakan anggotanya adalah jebolan universitas Jerman yang bekerja di Jerman.

“Saya sebenarnya agak gemes Mas,” ujar Mas Adam sambil mencocol es krim strawberi. “Sebenarnya banyak peluang yang terlewat orang Indonesia untuk bisa berkiprah bisnis di Jerman” lanjutnya serius. “Banyak produk makanan dan agro industri yang notabene ada banyak di Indonesia dari kopi, kakao sampai buah-buahan, dan ikan tidak bisa masuk di sini,” ujarnya serius dengan nada penuh sesal. “Malah produk dari Thailand, Vietnam sudah banyak yang masuk”, paparnya. “Oh begitu,,,,apa sebabnya Mas?”, respon saya sembari menyeruput teh Jerman. Dengan panjang lebar beliau menjawab pertanyaan saya itu.

Ternyata memang ada beberapa potensi bisnis yang kurang tergarap di Negara berkekuatan ekonomi nomer satu di Uni Eropa ini. Dalam perbincangan makan malam yang singkat itu dengan Mas Adam, saya mencatat beberapa “pembelajaran” menarik yang bisa dipetik untuk para pebisnis yang ingin melakukan panetrasi ke Jerman :

Pertama, pebisnis Indonesia harus rajin membangun networking dengan mengikuti expo-expo bisnis di Jerman. Bukan rahasia lagi, pebisnis kita masih sedikit yang melakukan hal ini secara teratur di pameran-pameran bisnis di Frankurt misalnya. Dengan kebijakan satu pintu Uni Eropa, keberhasilan menembus pasar di Jerman, akan mempermudah menembus pasar-pasar Negara Eropa lainya. Apalagi dengan posisi sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, Negara berpenduduk 80-an juta ini masih menjadi pusat yang “dipandang” oleh Negara-negara Eropa lain. Artinya, keberhasilan masuk di Jerman, merupakan “rekomendasi sakti” masuk ke Negara Eropa lain.

Kedua, produk-produk agro industri yang ditanam di Indonesia seperti buah-buahan dan sayuran harus “organik”, artinya penggunaan seperti pestisida yang lumrah digunakan di tanah air harus ditiadakan ketika ingin menembus pasar Jerman. Dari segi kualitas sebenarnya produk agro Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan produk Thailand dan Vietnam, tinggal bagaimana mulai mereduksi bahkan mengurangi sama sekali penggunaan semacam itu, serta menggalakan tanaman berbasis organic di kalangan petani kita.

Ketiga, suka tidak suka mensertifikasi-kan produk agro dengan standar Jerman dan Uni Eropa harus mulai dilakukan. Memang kesannya “ribet”, tapi begitu sertifikasi bisa didapat, kemungkinan menembus barikade pasarnya akan lebih mudah. Dalam hal ini langkah-langkah memberikan pendampingan yang lebih serius dan terencana kepada para petani di Indonesia harus diintensifkan, mengingat Jerman dan Uni Eropa mau membayar mahal produk agro yang sesuai dengan sertifikasi yang mereka standarkan.

Indonesia sebagai Negara tropis 2 musim yang dikenal sebagai “lumbung” produk agro yang berlimpah ruah, adalah sebuah keanehan tidak bisa melakukan hal ini. Kalau Thailand dan Vietnam saja yang lahannya tidak seluas Republik yang kita cintai saja bisa menempatkan produk agronya di rak-rak supermarket di Jerman, apa yang salah dengan kita, kok tidak bisa? Jujur saja, saya agak iri melihat buah-buahan dan sayuran yang nangkring di rak supermarket Jerman didominasi produk agro Negara tetangga kita. Ada entrepreneur yang berminat melakukan panetrasi pasar di Jerman?

Danke Herr Adam Pamma 🙂

Credit Photo : markusR@flickr.com

Previous

Tips Kecil untuk Kohai Kenshusei

Next

Reverse Brain Drain dan Entrepreneur

5 Comments

  1. ISM

    Melihat potensi produk agro Indonesia sangatlah memungkinkan untuk mengembangkan pasar mancanegara seperti di negara Jerman. Yang menjadi sebuah PR adalah sebagian besar petani kita masih terfokus pada pangsa pasar lokal tanpa harus ribet memenuhi persyaratan standar yang harus dipenuhi. Dengan kondisi ini dibutuhkan perubahan sistem dan pola pikir bahwa produk agro yg ada disini harus berstandart mutu yg memadai shg siap bersaing dan masuk ke pasar eksport. Peluang agrobisnis menembus ekspor sangat besar tinggal pengelolaannya diperbahuri dan ditingkatkan mutunya.

    • @ISM : Betul sekali Mas Imam, karena itu di poin ke tiga saya menyarankan perlu melakukan pendampingan ke para petani untuk tidak puas “memenuhi” permintaan domestik saja. Permintaan luar negeri juga tidak kalah “kinclong”. Mudah-mudahan organisasi semacam AIPSE di atas bisa ikut men-support, karena mereka paham standar yang diinginkan di pasar Eropa seperti Jerman. Terima kasih atas sharingnya 🙂

  2. arief

    Itulah dinamika permasalahan agro di negara kita, dimana penguasaan produk tidak dikuasai dari hulu sampai hilir, jikalau penyuluh pertanian maupun perkebunan menyuruh utk menggunakan pupuk organik & pupuk lainnya dan hasil panennya bagus, mereka juga tidak tahu produk yg bagus & berlimpah harus dikemanain sehingga harga jatuh di pasaran karena produk berlimpah. Dengan kondisi spt ini akhirnya membuat petani jera untuk mengikuti petunjuk penyuluh. Qta tidak usah muluk2 dulu sampai ke jerman (memang ini sangat menjanjikan….) untuk mencukupi kebutuhan horeka (hotel, restoran, kafe)di dalam negeripun qta kebanyakan musti impor, bgmn ini????…..Sy berpendapat, berusaha & mengimpikan adanya pertanian terpadu yang sudah terjamin pasarnya dengan komoditas sektoral seperti halnya padi rojolele di delanggu klaten, kangkung di lombok, kentang di pangalengan & dieng, jeruk di berastagi dlsbgnya…. yang mana komoditas ini kalau di tanam di daerah lain hasilnya tidak bisa maksimal. Dengan program seperti ini aja petani qta akan dapat merasakan kebahagian tersendiri karena meningkatnya penghasilan mereka. Dan klo program ini jalan, pangsa eksporpun akan bisa kita sikat juga. Sy juga heran…kenapa ada pengusaha indonesia malah mengkespor beras thailand ke afrika dengan tonase kurang lebih 50 matrik ton per bulannya. Lalu dikemanain program swasembada beras qta????????????

    • @ Arief : Mas Arief, kalau dikupas lebih lanjut isu agro industri di negara kita bakalan merembes kemana-mana, isu ini diangkat di blog ini karena “modal” kita sebagai negara “agraris” kita ini kurang dimanfaatkan secara maksimal…jadi ikut gemes. Tapi terima kasih atas tambahan ulasannya yang informatif…..

  3. Eko Nurrahmanto

    Sudah 2 tahun, mengendus2 agribisnis.. tetap aja ga ada perubahan.. bagaimana ne… adakah peluang daun jeruk purut dan jahe merah di jerman…????

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén