Mengelola Generasi Y

Mengelola Generasi  Y Mengelola Generasi  Y generation yEach generation images itself to be more intelligent the one that went before it, and wiser than the one that comes after it.” (Geoege Orwell).

Seorang kawan yang karyawannya didominasi anak-anak muda pernah curhat dengan nada setengah putus asa dan geleng-geleng kepala karena merasa betapa anak-anak muda yang dipinpinnya beda sekali. Setidaknya dibandingkan dengan keadaan di jamannya. “Coba bayangkan, mau kerja bergaya dan narsisnya gak ketulungan…ini niat mau kerja apa mau sok-sok eksis,” semburnya sebal. Saya mendahem sambil menganggukan kepala mencoba mengerti apa yang dikeluhan perihal anak buahnya yang menurutnya agak “susah diatur”. Sebuah fenomena menarik!

Suka atau tidak suka, generasi Y yag lahir tahun 1980-an, atau berumur di range 22-30 tahun bakalan menyesaki sekaligus mendominasi lapangan kerja kekinian. Teman saya tadi merasa (menurut pendapat pribadi dia) anak buah yang notabene generasi Y ini perilakunya jauh dibanding dengan jaman dia. Jadi sebenarnya kurang pas sih teman saya ini, mengharapkan jajaran anak buahnya berperilaku “anak penurut” seperti yang mereka lakukan ketika dia menjadi anak buah seusianya.

Karena pernah mempunyai pengalaman mempunyai kru generasi Y di kantor, kalau mau sedikit sharing, cirri-ciri generasi Y ini memang “khas”.  Misalnya mereka mempunyai self-confidence yang cukup besar, seperti yang dikatakan temen saya : narsis. Sedikit banyak punya rasa ambisius yang memuncak. Dan yang pasti –seperti yang dikeluhkan teman saya diatas—rada-rada sulit diatur…hehehehehe J Terkadang para pemimpin bisnis (baca :perusahaan) yang tidak menyadari hal ini, akan timbul “rasa tidak suka” pada karyawan muda generasi Y ini. Tapi satu hal yang tidak bisa dihindari, angkatan kerja dari generasi Y ini bakalan menjadi mendominasi jumlahnya.

Jadi kalau Anda sebagai seorang pemimpin, manajer atau direktur di kantor merasa “uring-uringan” dengan generasi Y, maka siap-siaplah untuk bersiap sakit hati. Karena kemungkinan besar untuk mendapatkan kembali karyawan generasi Y amatlah besar. Kecuali Anda melakukan rekrutmen jabatan senior yang umurnya di atas 40. Itu lain soal. Menurut pengalaman pribadi, ada beberapa pendekatan agar “sukses” mengelola anak buah bergenerasi Y ini.

Pertama, Jangan kebanyakan mengatur mereka! Ini bukan berarti lose control, tetapi bukan jamannya lagi kita datang dengan sederetan aturan “terlampau jauh”. Menurut hemat saya, jauh lebih  baik memberikan satu aturan tetapi berilah kebebasan untuk mencapai aturan itu. Gampangnya,  kita berikan perintah untuk perintah utamanya untuk pergi ke kota Semarang. Kita gak mau tahu caranya gimana terserah dia, yang tanggal sekian jam sekian harus sudah di kota Semarang. Ada semacam “kebebasan” memilih tetapi koridor tujuannya tetap harus jelas. Hal ini akan lebih bisa diterima oleh anak-anak muda sekarang. Karena sifatnya yang self confidence yang tinggi tadi.

Kedua, Ciptakan suatu atmosfer kerja yang nyaman serta merangsang prestasi maksimal. Anak-anak Gen Y ini pada dasarnya keinginan berprestasinya sudah ada. Ini berarti simpul-simpul tekanan dalam kantor, barangkali jaman kita masih semuda mereka melihat para bos dulu yang mudah marah, untuk ditemui saja birokrasi lama sudah tidak senada lagi dengan para gen Y ini. Alhasil saya pernah melihat sebuah kantor yang turn over karyawannya cukup tinggi dikarenakan atmosfer kantor dibangun dengan gaya feodalistik kantor lama. Kalau saya istilahkan, para gen Y di kantor harus diperlakukan bak sebagai seorang kawan, bukan anak buah atau bawahan.  Dengan diajak ngobrol dengan gaya berteman, pekerjaan sering beresnya ketimbang mandeg-nya.

Ketiga, Selalu meningkatkan kapabilitas sebagai seorang “pemimpin sejati”. Artinya ketika promosi menghampiri Anda untuk menduduki jabatan lebih tinggi, sedang dibawah Anda staff ber-Gen Y cukup banyak, bersiaplah untuk semakin belajar lebih banyak dan lebih keras. Jangan malah sering duduk dan asal main suruh. Dulu adalah hal biasa mendapati atasan “gaya lama” yang sebetulnya kemampuanya pas-pas, cuma karena senioritas saja dia yang naik menduduki jabatan tersebut. Dulu itu merupakan pemandangan biasa. Dulu, Saya pernah mempunyai atasan gaya stok lama seperti itu, tapi kala itu banyak karyawan memkluminya dengan kata-kata “maklum si Bos yang mau”. Tapi hal ini akan mengundang “resistensi kerja” jika dihadapkan oleh Gen Y. Sebaliknya, Anda harus bekerja lebih keras, kalau datang ke kantor lebih pagi dan pulang lebih malam. Tidak hanya itu, Anda dituntut semakin rajin belajar, membaca , juga bergaul agar tidak kalah oleh bawahan yang Anda kelola.

Selamat mengelola Gen Y. Kalau Anda gagal “mengelola anak” Gen Y yang Anda miliki, sejatinya Anda juga sudah “gagal” dalam memimpin Gen Y. Bagaimana dengan Anda?

Credit Photo : www.marcellapurnama.com

Previous

Menghadirkan Excellence Service, Bukan Model “Pelayanan Rata-Rata”

Next

Menggunakan 5 Forces Analysis Michael Porter

4 Comments

  1. gen Y bukan masalahnya…kekakuan sistem yg tidak efektif yang terus dipertahankan lah yang sebenarnya menjadi masalah,,,memang betul gen Y berbeda dengan gen Z ataupun yang sebelumnya, namun coba dipikirkan dengan tenang…yang menciptakan gen Y menjadi seperti yang saat ini, menginginkan kualitas di atas sistem lama (yang mementingkan kuantitas baku dengan makna yang kabur…) bukankah yang membesarkannya adalah gen X??? manusia berevolusi, dan mau tidak mau harus mau beradaptasi untuk tetap bisa hidup di zaman yang dijalani…dan menurut pendapat saya, pertentangan generasi bukan yang menjadi masalah…pasti akan terjadi selama manusia hidup dimanapun, kapanpun…
    Yang lebih dahulu harus dibenahi adalah sistem kacau yang tercipta secara sejarah yang tidak jelas (misalnya senioritas tanpa kualitas yang menuntut ini itu tanpa mengerti cara kerjanya, dan bahkan menuntut segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya dikala dia tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalahnya sendiri)…hal ini yang jauh lebih baik harus dicari jalan keluarnya….
    sorry for my bluntness…just an opinion 🙂

  2. @Pepi Lubis : Tenang saja, blog in didesain bukan untuk “pencitraan” tetapi untuk berbagi, mudah2an akan menjadi pembelajaran bagi yang membaca. Saya sendiri juga tidak bermaksud menyalahkan…tapi malah mengingatkan bahwa perlu pendekatan yang lain untuk “memperlakukan” para Gen Y yang sekarang menjadi mayoritas angkatan kerja…terima kasih berkenan mampir dan berkomentar di Blog ini 🙂

  3. Wisnu Kelapa Gardjito

    Nilai-nilai kehidupan jaman dulu warisan leluhur adalah nilai nilai kehidupan yang sudah diuji dan teruji (walau hidup dalam jaman kuda gigit besi). Bagi saya nilai budaya “jaman dulu” begitu indah, anggun, precise mengatasi EGOISME (termasuk sikap narcis, sok modern, konsumtif, tidak mau ke bawah, maunya dilayani dan diperhatikan dsb dsb). NAMUN……. Nilai Nilai Luhur warisan nenek moyang kita semakin tidak mendapatkan tempat akibat TERGERUS riuh dan hiruk pikuknya arus modernisasi. Generasi muda kini sudah begitu sulit mendapatkan kesempatan untuk mempelajari dan menghayati Nilai Nilai Luhur Nenek Moyang kita karena wahana untuk itu memang sudah HILANG dan (lebih parah lagi) DIHILANGKAN (oleh kaum Neo-kolonialist). Bagi saya itu seperti ada kesengajaan untuk MENGHANCURKAN bangsa besar ini. Dalam istilah war-fare ini disebut peperangan Generasi ke-4, dimana untuk menguasai suatu negara atau bangsa tidak harus menggunakan senjata. Yang lebih strategis adalah kalau mereka bisa merusak SDM bangsa sasaran tersebut dengan aneka alat yang dianggap lebih “make sense, lebih adil, lebih ber-HAM dsb dsb yang kita semua dicekoki dengan aneka parameter ASING”. Caranya macam macam. Hasil riset saya mereka masuk melalui cuap-cuap aneka LSM boneka (suruhan), pendidikan, seni dan budaya, makanan dan minuman (untuk merusak otak dan tubuh misal GMO), politik (drakula politik yang kelakuannya merusak segala tatanan hidup bangsa yang sudah tertata rapih), dsb dsb. Kebetulan saya generasi “tua” yang sehari-hari bergaul dengan generasi “muda”. Saya setuju dengan keluhan teman Mas Donny, tapi saya melihat justru yang merusak adalah generasi tua yang kebablasan. So, Old and Young Generations are contributing to DESTROY the Old Wise Value. Semoga tulisan saya ini dapat menyaadarkan bahwa MUSUH bukan “akan” menyerang untuk merusak bangsa ini, namun justru mereka sudah “berhasil” merusak bangsa ini. tatanan Hidup kita sudah dibentur-benturkan di mana-mana. Bagi mereka bangsa Indonesia tidak perlu diadu domba dengan menimbulkan persang saudara seperti di timur tengah, tapi cukup rusak mereka dengan Gaya Hidup Hedonis yang jauh dari ajaran tetua kita yang bijaksana dalam mengarungi hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén