Mengeksploitasi Keunikan ala Singapura dan The Raid

Mengeksploitasi Keunikan ala Singapura dan The Raid Mengeksploitasi Keunikan ala Singapura dan The Raid the raid1Menyambangi Negara Singapura yang besarnya gak lebih besar dari kota Jakarta terkadang sedikit menimbulkan sedikit perasaan “iri” sekaligus “kagum”. “Iri” karena negeri kecil ini ternyata mampu menyulap negeri mungilnya menjadi cukup digdaya secara ekonomi. Walaupun relatif tidak mempunyai kekayaan alam mampu mentransformasikan sedemikian sehingga menjadi negeri yang disegani dalam kancah bisnis internasional. Hampir semua perusahaan besar dan multinasional dunia mempunyai kantor perwakilan di negeri itu. “kagum” karena dengan penduduk yang sedikit dan minim kekayaan alam tapi mampu menjadi “negara broker” yang mempunyai kelebihan tersendiri.

“Keirian” lain terhadap negeri Singa ini adalah kemampuan mereka menarik kocek para orang “indon” (sebuah jelukan yang kurang aku suka, tapi sudah menjadi  panggilan untuk orang Indonesia) dengan cara menjadikan orang Indonesia sebagai pembeli barang-barang obralan mereka. Tak heran, mendengar obrolan beraksen bahasa Indonesia di Orchard Road adalah pemandangan lumrah terjadi. Dari Koran yang saya baca pagi itu, peran pembeli Indonesia di sana cukup signifikan dalam “menyesaki” sale-sale di mal-mal yang didengungkan para pebisnis Singapura yang didukung penuh oleh permerintah Singapore. Diperkirakan,  pembeli Indonesia di Singapura

Pagi itu ditemani gerimis tipis itu, saya mencoba menyimak lembar demi lembar tulisan dalam Koran The Straits Times yang cukup tebal tersebut. The Straits Times merupakan Koran beroplah paling banyak di Singapura.  Sebuah ulasan menarik yang coba diberitakan di majalah itu tentang akan diputar langsung sebuah film Indonesia di bisoskop-bioskop Singapura. Ulasan tentang pernak-pernik film tersebut mencapai satu halaman penuh.  Film buatan anak negeri yang membetot perhatian publik Singapura ini berjudul The Raids yang dibintangi oleh Iko Uwais sebagai pemeran utama.

Dari ulasan Koran The Straits itu bisa diketahui bahwa film action The Raid itu memang menarik perhatian publik Singapura. Kalau Anda penggemar film action khususnya bertema Kung Fu ala Jackie Chan berharap bak-bik-buk didalam film itu meniru gaya mereka, bersiap-siaplah untuk kecewa. Karena genre dan gaya martial art yang akan diperagakan bukanlah jotos-jotosan ala Jackie Chan tapi berbasiskan bela diri Indonesia, silat. Gareth Evans, sang sutradara film yang pernah meriset tentang beladiri Pencak silat agaknya tahu betul mengorek “kelebihan” dan “mengeksploitasi” pencak silat yang tidak ditemuakan di bela diri kung Fu.

Kasus Singapura dan Kesuksesan Film The Raid diputar di Singapura (saya dengar di beberapa negara Film ini juga mendapat sambutan hangat) menunjukkan bahwa mengeksploitasi keunikan dalam bisnis terkadang membawa berkah. Singapura sebagai negeri kecil yang nyaris tidak mempunyai  kelebihan SDA mampu menunjukkan posisi sebagai “negara broker” professional adalah hal yang menguntungkan secara bisnis. Kalau Singapura ikut-ikutan meniru berperilaku seperti negara yang kaya SDA seperti Indonesia misalnya malah akan blunder.

Demikian pula dengan film The Raid. Kalau malah mencoba menyontek habis bak-bik-buk ala Jackie Chan, film tersebut tidak akan mendapatkan sambutan semeriah itu. Justru karena berani “menonjolkan” keunikan yang ada, tidak mengekor dan ikut-ikutan. Kekhasan yang unik tadi jadi terlihat jelas. Membuat trend sendiri ini yang nampaknya masih jarang dan terlihat takut-takut dilakukan banyak pelaku bisnis di tanah air.

Mengikuti  mainstream bisnis terkadang menghilangkan keunikan dari bisnis yang akan kita bangun. Jadi pede saja seperti Uwais dan Negeri Singapura !

Credit Photofilmjunk.com

Previous

Menekuk Follower Business

Next

Mitra Kongsi Bisnis Yang Harus Dihindari

2 Comments

  1. memang sngat d’sayangkan msyarakat indonesia cm bangga jd konsumen bkn bangga jd produsen .
    d’artikel ini sya trtarik dgn kta keunikan bisnis.dmn mna qta hrs memiliki ide bisnis yg unik tnpa hrs khawatir utk mnjalankannya.

    mnrut sya ad bbrpa faktor yg mmbuat indonesia cm mnjdi konsumen yg sya rasakan sendri :
    1.salahnya sistem pngjaran d’sekolah ataupun d’perkuliahan yg hnya mmntingkan sebuah theory.pdahal satu tindakan yg brarti lbh brharga drpd sepuluh theory.
    2.kbnyakan msyarakat yg lebih memilih jd pkerja drpd mnjdi pngusaha d’karenakan tdk mau mngambil resiko yg akan trjadi bila jd pengusaha.

    mudah-mudahan ini semua bisa jd pembelajaran buat kita 🙂
    salam sukses pak .

    • @Getar : Thanks for stop by….ya masalah pengajaran di bangku sekolah atau kuliah….sebenarnya sudah ada “pembagian” kalau untuk yang lebih menekankan di jalur akademisi sekolah S1 dan seterusnya menjadi pilihannya. Tapi yang ingin menjadi praktisi barangkali sekolah macam vocation atau politeknik (D-3) komposisi prakteknya harus lebih banyak. Cuman masalahnya sekarang terkadang kampus berorientasi politeknik, jam pengajaran teorinya meniru seperti sekolah bergenre S-1….ini yang jadi rancu dan kurang pas……sukses juga ya buat Anda 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén