Pekerja Garmen Mengail Hikmah Demo Tuntutan UMR Mengail Hikmah Demo Tuntutan UMR pekerja garmenSerangkaian demo dan maraknya perbincangan akan tuntutan naiknya UMR (Upah Umum Regional) di wilayah Jabodetabek memang membetot perhatian tersendiri. Mulai dari demo yang yang “memacetkan” wilayah kantong-kantong pabrik serta sederetan perdebatan tarik ulur perdebatan antara wakil para pekerja dan wakil dari asosiasi  perusahaan yang wira-wiri ditayangkan di Televisi. Sampai besaran UMR sebesar 2,4 Juta perbulan mengemuka. Cukup dramatis.

Hidup di kota seperti di melakoni hidup seperti kota metropolitan Jakarta  dengan gaji 1,5 juta perbulan bukanlah perkara mudah. Di tengah beban hidup yang kian menghimpit dan kebutuhan hidup yang grafiknya cenderung naik perlu pandai-pandai mengatur agar tidak mengalami defisit angka merah di akhir bulan. Walaupun terkadang jengkel dengan demo-demo yang memacetkan jalan, simpati sedalam-dalamnya untuk para pekerja yang mati-matian menghidupi keluarga mereka uang minimal tersebut.

Di sisi lain tidak semua, pengusaha yang menjalankan roda bisnisnya tidak semuanya mempunyai back up dana yang cukup untuk mampu menggaji para karyawannya dengan format gaji baru tersebut. Yang tidak kuat, barangkali menutup roda bisnis menjadi hal yang tidak terelakkan. Kalau memang mampu barangkali tidak ada masalah. Tak ayal banyak sinyalemen yang menakutkan merebaknya penutupan pabrik atau relokasi pabrik yang berujung PHK yang melahirkan penggangguran sebagai masalah baru. Suatu hal yang cukup dilematis tentunya.

Kalau kasus di atas  diteropong dari basis kacamata biasa-biasa saja, bakalan akan menjadi “beban” tersendiri. Baik bagi kalangan pekerja, yang tiap bulannya uang akan tersedot untuk konsumsi, maupun bagi pengusaha, kenaikan upah yang cukup dramatis dari 1,5 jutaan sampai 2,4 jutaan (kalau nantinya benar-benar disetujui danditerapkan) tentunya bukan hal yang mudah dipenuhi Kalau coba dibenturkan dua hal tadi bakal “sulit” ditemukan dua kutub tersebut. Coba bagaimana kalau coba berpikir “perspektif: yang lain dari kasus ini :

Pertama, coba jangan berpikir kalau kenaikan UMR ini dipandang sebagai beban yang sekedar memberatkan dari sisi biaya gaji, akan tetapi lebih dipahami sebagai sebuah sebuah tantangan untuk para pengusaha untuk lebih detail melihat sisi-sisi mana yang dapat dimainkan untuk bisa lebih produktif lagi. Misalnya sudah saatnya untuk mulai mendesain pekerjaan dengan teknologi yang lebih efisien dan mutakhir sehingga akan lebih efisien. Misalnya beberapa kawan saya yang punya bisnis garment perlu mempertimbangkan pekerjaan “sebagai tukang jahit” semata yang sebenarnya merupakan praktek “pengalihan daya pekerjaan” dari luar yang hanya ingin menekan biaya gaji. Barangkali kalau bisa mendesain pekerjaan sendiri dengan merek sendiri, marginnya tentunya lebih banyak. Jadi kenaikan UMR dilihat sebagai tantangan untuk “bisa naik kelas”, bukan hal yang memberatkan dari sisi penggajian.

Kedua, bagaimana kalau kita berpikir dari sisi lain:  apakah kalau UMR sudah bisa dinaikkan di level itu dengan penuh perjuangan dan demo-demo yang melelahkan dan membuat macet itu akan selalu “mencukupi” kebutuhan yang diidam-idamkan. Jangan-jangan level 2,2 jutaan yang terengkuh tadi bisa memuaskan ? Tentu tidak bukan. Kebutuhan yang lebih baru bakal muncul, dan barangkali diperlukan demo-demo lagi untuk mendongkrak gaji seperti yang diinginkan. Kesimpulannya, tidak bakalan “orang lain” selalu dan selalu mendengarkan, mengamini, meluluskan apa yang kita butuhkan. Barangkali ketimbang “mengeluh” keinginan yang selalu kurang, bagaimana kalau mencoba untuk berani keluar dari posisi kerja sekarang dan memulai menjadi wirausaha mandiri. Dimana menjadi wirausaha (entrepreneur) gaji dan pendapatan kita tidak diukur atau “ditentukan” oleh orang lain. Tetapi nasib gaji kita ditentukan diri kita sendiri.

Jadi kalau Anda menjadi owner bisnis bisa tidak mengambil momentum kenaikan UMR sebagai sebuah tantangan untuk menaikkan level kelas kita? Kalau Anda menjadi pekerja bisakah momentum demo-demo kenaikan upah ini dijadikan batu loncatan nantinya untuk berani untuk menjadi wirausaha mandiri, sehingga tidak perlu kita turun jalan untuk kenaikan gaji ? Bisakah kita mengambil momentum ini

Credit Photos:  anisavitri.wordpress.com ?