Meneropong Kekuatan Diri dan Lipat Gandakan Meneropong Kekuatan Diri dan Lipat Gandakan lipat gandakan

Seorang supervisor departemen sebuah pemasaran merasa “gemas” dengan prestasi staf dalam timnya yang “gitu-gitu saja”. Tidak ada kenaikan yang cukup memuaskan dahaga sang supervisor yang nampaknya haus prestasi untuk melengkapi “kesuksesan” marketing report-nya ke Sang Manajer Pemasaran. Beberapa pelatihan marketing public workshop, beberapa staf-nya diikutkan, dengan harapan “prestasinya” lebih moncer. Setelah pelatihan, emang sih terlihat ada beberapa “progress” tapi seiring dengan jalannya waktu, kembali prestasi “biasa-biasanya” kembali kambuh. Pernah dong mendapati staf dengan kondisi seperti ini?

Gak tahan dengan prestasinya yang biasa-biasa saja, sang supervisor pun gak tahan. Sindiran-sindiran bernada sarkatis mulai menjadi tradisi di setiap evaluasi marketing. Padahal sang staf tadi sudah merasa “mati-matian” berusaha, mulutnya berbusa-busa ketika menjajakan dan mempromosikan produk yang hendak dijual sesuai arahan yang ada. Sementara sepatunya tergerus tipis naik-turun di kantor, sambil didera kemacetan jalanan yang terkadang tidak bisa diprediksi. Ada rona keletihan organisasi menelusup hadir, sang supervisor merasa sudah mati-matian meng-up grade sang staf dengan pelatihan dan coaching yang memadai. Di sisi lain, sang staf merasa sudah mengeluarkan daya upaya untuk itu, tapi kegagalan masih menggelayuti.

Sebenar betulnya, kalau mau merunut persoalan di atas sesungguhnya muaranya adalah titik berat akan hadirnya kelemahan (weakness-based approach) dipakai sebagai titik tolak untuk mengukur. Jadi kelemahan dijadikan pokok pembicaraan, sehingga faktor kekuatan yang ada seringkali alpa untuk digali. Kalau sudah ketahuan staf tadi kurang piawai mendekati konsumen, membuka pembicaraan dengan konsumen di telpon ketimbang susah-susah mengikut sertakan di marketing workshop yang notabene tidak murah serta dikhotbahi nada-nada nyinyir di rapat evaluasi ujung-ujungnya juga tidak produktif. Padahal kalau ditilik lebih jauh kemampuan terbesar sang staf lebih kuat pada ketelitian dan kejelian hitung-hitungan. Berarti dengan memindahnya ke departemen keuangan atau akuntansi dimana tingkat ketelitian hitung-hitungan bermuara lebih sering digunakan, “sebagian masalah” akan selesai dan lebih produktif?

Harus diakui berbicara kelemahan dan kekurangan, apalagi yang dimiliki orang di sekitar kita adalah seribu satu lebih mudah ketimbang mencari kekuatan alami yang dimiliki (strength-based approach). Dalam persaingan bisnis yang ketat membahas “kelemahan” berlama-lama sehingga alpa menggunakan “kelebihan” yang melekat yang ada, adalah hal yang sangat kontra produktif dan sungguh berbahaya. Tetapi barangkali hal ini memang lebih sering terjadi di perilaku keseharian. Misalnya masih sering orang tua terjebak “menceramahi” kesalahan anak bermenit-menit, ketimbang memujinya ketika melakukan hal positif barang sebentar.

Jadi bagaimana agar lebih mampu memfokuskan pada kekuatan diri ketimbang melihat pada kekurangan diri? Idealnya dalam tiap personal harus aware dengan kekuatan yang dimiliki. Saya mempunyai saudara yang “menyadari” betul kemampuan “berbahasa” dan berkomunikasi agak sedikit memprihatinkan. Tetapi Dia menyadari betul kemampuan terhebatnya adalah kemampuan “mencongak” (menghitung dalam jumlah besar dengan cepat tanpa menuliskan di kertas atau memakai alat bantu hitung seperti kalkulator) serta kemampuan pemograman komputer. Jadi, alih-alih dia mengambil kelas tambahan conversation dalam bahasa Inggris, Dia malah menambah kelas pemograman yang lebih canggih sesuai dengan passion-nya itu. Akhirnya, karena kelebihan lebih dimaksimalkan, walaupun kemampuan berbahasa-nya sedikit “menyedihkan”, orang di kantor mengenalnya sebagai “komputer berjalan”, karena rujukan segala permasalahan komputer di kantor selalu berujung kepada dia.

Kedua, sang pemimpin dalam tim juga harus “peka” membaca kelebihan dan kekurangan timnya, sehingga langkah pencegahan agar tidak terjadi seperti kejadian yang saya paparkan tidak terjadi. Hal itu bisa dirunut rekam jejak “success story” yang pernah dikerjakan bersama-sama dalam Tim. Sempatkan sejenak untuk memikirkan hal itu. Jadi sudahkan Anda memahami kelebihan Anda sendiri dan Tim yang Anda pimpin?

Temukan kelebihan Anda, dan gandakan kekuatan itu setinggi yang Anda bisa. Berhenti menangisi kekurangan yang Anda miliki.


Credit Photo : phillipatanzilo.com