Menekuk Follower Business

 

Menekuk Follower Business Menekuk Follower Business marketfollowerKeberhasilan menangguk keuntungan dalam melakoni bisnis apa saja, sedikit banyak pasti mengundang para follower (pengikut) bisnis lain yang ingin ikut mencicipi serta mereguk nikmatnya keuntungan yang dirasakan para inisiator bisnis ini. Sebuah fenomena yang lazim dan lumrah terjadi. Apalagi di Indonesia “demam” untuk ikut-ikutan sering kerap terjadi. Dulu di daerah Sokaraja, dekat Purwokerto yang terkenal dengan getuk Sokaraja-nya, konon hanya satu keluarga saja yang menginisiasi produk getuk sokaraja. Tapi kalau Anda lewat Sokaraja, nyaris semua toko di jalanan utama sekarang “mengklaim” getuk asli Sokaraja.

Follower dalam sebuah bisnis memang sebuah hal yang tidak bisa dihindarkan. Dan hal itu adalah sah-sah saja selama, meniru dan mengikutinya tidak “menjiplak” mentah-mentah bisnis yang dikopinya. Misalnya di Jogja, para penjual kaos Dagadu follower, jelas-jelas berjualan kaos di daerah Malioboro dengan menggunakan merek yang sama dan desain yang mirip. Yang membedakan adalah kualitas barang yang ditawarkan, karenanya “follower dagadu” menawarkan kualitas kaos lebih rendah dengan harga yang lebih miring. Ini adalah contoh follower bisnis yang tidak beretika, menjiplak mentah-mentah. Pia-pia Jogja, semua makanan oleh-oleh terkenal khas dari kota Pelajar Jogja, juga tidak luput dijiplak followernya, Cuma brand yang digunakan berbeda tapi namanya sama serta tagline khasnya “Cara Lain Menikmati Bakpia Jogja” dicomot tanpa ijin.

Terus bagaimana manuver bisnis yang perlu dilakukan para inisiator bisnis untuk mengantisipasi para follower yang gencar ikut-ikutan mengerat keuntungan yang diciptakan dan dibangunnya? Ada beberapa resep yang dipakai untuk mengantisipasi manuver bisnis para follower-nya :

Pertama, Menentukan dengan jelas lokasi tempat penjualannya. Cara ini pernah diterapkan oleh kaos Dagadu dengan hanya menjual kaos “aseli” dagadu-nya di tempat-tempat tertentu. Kala itu langkah pertamanya adalah hanya menjual kaos nyentrik-nya di sebuah lower ground mall di Jalan Malioboro yang legendaris itu. Menurut saya, manuver bisnis ini cukup jitu, walaupun hampir semua lapak di Jalan Malioboro “mengeroyok” ikut-ikutan nimbrung. Dagadu Aseli yang “meneriakkan” kepada khalayak hanya menjual di tempat tertentu tetap eksis, bahkan beberapa pembeli fanatiknya tetap kekeuh beli yang hanya dijual di tempat-tempat tertentu. Dagadu berhasil membuat pembelinya mau dan bangga membeli produk aseli di gerai lokasi yang ditentukan.

Kedua, Perluas jaringan dengan membuka banyak hubungan (koneksi). Manuver bisnis ini pernah dijajal oleh kripik pedas aseli Bandung yang mereknya nenek-nenek berciput : Maicih. Dengan omset 7-10 milyar per bulan, inisiator maicih, Reza Nurhilman “dihantam” dengan banyak follower bisnis yang ikut-ikutan mencebur bisnis ini. Tercatat ada puluhan merek baru berbasis keripik yang mengekor produk ini. Maka Reza menangkisnya dengan melebarkan jaringan distribusinya dengan skala lebih luas (nasional) dan malah internasional. Jumlah follower-nya yang lebih dari 400 ribuan merupakan cara ampuh untuk meneriakkan kemana-mana, dimana produk maicih bisa didapat. Negara seperti Singapura, Malaysia, Korea, Inggris sudah menjadi tempat distribusi baru maicih untuk melebarkan jaringan distribusinya.

Ketiga, mendiversifikasikan bisnis akan lebih luas dan mekar. Misalnya kaos dagadu dulunya hanya baju oleh-oleh khas Jogja yang diperuntukkan untuk segmen anak muda yang pas dengan suasana Jogja sebagai kota Pelajar. Tapi ketika Dagadu mulai membikin kaos juga untuk anak kecil (kaos adik kecil misalnya) ternyata mampu menyedot pembeli dengan segmen yang lebih luas. Atau Maicih yang melebarkan sayap bisnisnya tidak sekedar berjualan keripik pedas tetapi juga makanan yang lain seperti pizza yang dinamai Pizzaacih, atau makanan tom yam seperti Tom Yamicih. Sedang Pia-Pia Jogja yang hanya menjual satu rasa original (kacang ijo) mulai menyisipkan keju dalam pia-pia menjadi pia-pia rasa keju yang dikenal dan disukai banyak orang.

Bagaimana manuver bisnis Anda bila produk atau servis yang Anda punyai mulai banyak disesaki para business follower Anda? Ngomong-ngomong tentang follower dalam bisnis, terkadang baik juga untuk industri  bisnis tersebut. Karena pasar akan lebih bergairah dengan masuknya follower.

 

Credit Photo : http://phfranchise.com

 

Previous

Menjajakan Kesehatan, Memupus Kecemasan

Next

Mengeksploitasi Keunikan ala Singapura dan The Raid

7 Comments

  1. Andreas Mulianto

    Menarik nih artikelnya Don. Fenomena maicih yang menjual barang komoditi dengan tempelan brand yang kuat perlu dicermati sampai seberapa lama. Kalau berhasil dipertahankan sampai 5 tahun lagi saja, saya angkat dua jempol. Mungkin perlu dimuat dalam jurnal bisnis. Bahkan iPod yang sangat kuat brandnya dan luar biasa kuat lingkungan pendukungnya (fans support base, Mac, proprietary system) mungkin sulit mempertahankan diri dari kuatnya arus komoditisasi. Patut dicermati terus memang…

    • @Andreas : Betul Bro….semua brand itu perlu “diuji” daya tahannya (endurance) karena sesungguhnya bisnis itu lomba lari marathon bukan lari sprint 🙂

  2. arif strada

    Sekarang “ide” sudah menjadi kata yg tidak sakti lagi.
    Tapi…kenapa tidak diimbangi dengan: “Bagaimana menjadi Followers yg sukses”?

    • @Arif : Pak Direktur betul sekali….ide mencor dalam bisnis tidak diikuti dengan inovasi yang berkesinambungan akan menjadi sasaran empuk para follower business….:)

  3. Rinaldi Malimin @Green Solutions

    He he he …disini lah seni nya ber bisnis..mau jadi pioneer atau follower..sama sama menarik…semenarik pertarungan balapan GP1…dan sah sah aja kok…

  4. bagi yang mau cari uang di internet silahkan click nama saya untuk mendaftar. terbukti membayar membernya dari tahun 2007.GRATIS.untuk pembuktian dan caranya silahkan aktif di forum

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén