Menduniakan Tempe ala Rustono dan Luisa Velez

Menduniakan Tempe ala Rustono dan Luisa Velez Menduniakan Tempe ala Rustono dan Luisa Velez dialog monozukuri rustono“Tempeh is a gift from Indonesia for the world” (Luisa V, pemilik Tempeh Bintang dari Mexic0)

Hari sabtu lalu di aula Kementerian Koperasi dan UKM mendapatkan tamu istimewa, tidak heran ada sekitar 200 orang berbondong-bondong menghadiri dan datang menyambanginya. Dengan dihadiri sekitar 200 peserta yang didominasi mahasiswa dari UI, IPB, IKOPIN, UNAS, BINUS, LP3I, dan masih banyak institusi lain ikut nimbrung acara itu. Ada apa gerangan? Magnitude acara ini tidak lain dan tidak bukan karena sang Raja Tempeh yang membuka pabrik di Jepang dengan merek Rustoh tempe sedang berbagi cerita disana. Didampingi oleh Luisa V, seorang produsen tempeh dengan merek Bintang dari Mexico ikut pula mengegap gempitakan acara yang ramai hujan pertanyaan dan dialog tersebut.

Acara ini digagas oleh kawan-kawan JIK-C (Japan Indonesia Kaizen Center) yang sesungguhnya merupakan kawan-kawan KAJI (komunitas Alumni Jepang di Indonesia) yang mengkhususkan minat dan aktivitasnya pengembangan potensi wirausaha di Indonesia. Mengundang Mas Rustono ini digagas tidak lain tidak bukan untuk memekarkan semangat kewirausahawan sekaligus menunjukkan bahwa makanan khas yang selama ini diasosiasikan sebagai makanan yang mempunyai sumbangsih remeh ini ternyata di tangan Rustono menjelma menjadi sebuah makanan yang layak disandingkan dengan makanan lain dari negara-negara lain. Jadi menggunakan pameo “dasar orang bermental tempe” itu sangat tidak pas.

Menyimak nukilan cerita-cerita yang dibagi oleh Mas Rustono, ada sebuah pesan hadir yang perlu dipunyai orang ketika ingin memulai suatu bisnis, yakni keyakinan dan semangat terus-menerus yang tidak boleh padam manakala keputusan untuk melakoni bisnis. Setelah memutuskan akan berjualan tempe di Jepang, Mas Rustono belajar pada sekitar 60 pengrajin tempe yang terkadang tidak semuanya menerimanya dengan tangan terbuka, hanya tempe dan tempe saja yang ada dibenakny.

Prosedur di Jepang untuk bisa berjualan tempe juga tidak mudah, serangkaian requirements yang harus dipenuhi juga tidak kalah panjang list yang harus dipenuhinya. Disisi produksi, membuat tempe dengan kondisi dan geografis yang berbeda dibanding di Indonesia, disana-sini ditemukan “kegagalan”, tapi itu semua tidak membuatnya patah arang. Bahkan ketika pembuatan tempe di Jepang mulai membuahkan hasil. Tantangan pemasaran pun menghadang, semua tentu paham tempe barangkali popular di tanah air, tapi merupakan makanan baru dan aneh di negeri Jepang.

Satu demi satu rintangan mulai bisa “ditaklukan”, produksi tempe di Jepang mulai bisa ditemukan formulasi yang membuat tempe tahan hingga 6 bulan. Lidah orang-orang Jepang pun mulai mau mencecap tempe. Akhirnya, hingga saat ini Rustoh Tempeh merupakan salah pemasok tempe yang sangat diperhitungkan di Jepang. Tak salah banyak yang menjulukinya Raja Tempe di Jepang.

 Sementara Luisa, orang Mexico yang menggemari tempe punya cerita yang tidak kalah menariknya. Berawal mencicipi tempe ketika berkunjung ke Indonesia, Luisa merasa jatuh cinta pada tempe. Hal ini menyebabkan dia mendalami ilmu nutrisi ketika di Mexico. Dan sempat melakukan proses pencarian panjang menanyakan bagaimana sesungguhnya “cara membuat ” tempe dengan cara yang benar. Pencarian lamanya akhirnya mengantar Luisa pada sebuah artikel berbahasa Inggris di Indonesia yang memuat kiprah Rustono dan akhirnya terjadi kontak via dunia maya.

Sekarang Luisa di Mexico, walaupun belum sebesar Rustono, tempenya sudah mulai dikenal oleh masyarakat Mexico. Kalau Anda menyambangi fan Page  Facebook bernama Tempe Bintang dengan tulisan spanyol, itu adalah tempe milik Luisa, yang isinya mengkampanyekan konsumsi tempe yang menyehatkan ini. Barangkali yang membedakan adalah, tempe Bintang milik Luisa ini tidak dijual seperti tempe-tempe laiknya yang kita lihat di Indonesia. Tetapi tempe Luisa hadir dengan beragam jenis tempe yang diracik dengan keju, tempe yang dijadikan isi hamburger, dll. Intinya, Luisa mencoba mengagas tempe dengan pilihan yang lebih variatif.

Melihat sharing yang mereka lakukan hari, sempat menyembulkan setitik rasa malu, terkadang untuk melangkah bisnis tidak perlu melihat pontensi bisnis “yang jauh-jauh”. Tempe yang dekat dengan keseharian orang kita saja bisa dijadikan potensi bisnis yang cukup menjanjikan. Terbukti orang Mexico seperti Luisa mampu menangkap potensi ini

Tertarik menjajal bisnis seperti yang dilakukan Mas Rustono dan Luisa dari Mexico ?  .

Credit Photo :  Ivannanto/JIK-C.

Previous

Sungging Senyum Untuk Sang Bumi

Next

Ketika Perubahan Dihadang Resistensi Internal

5 Comments

  1. Mas Donny, Rustono sudah menunjukkan pada kita bahwa sesuatu yang sederhana bisa menjadi luar biasa. Seperti yang selalu dia ucapkan, ‘lakukan hal-hal yang sederhana, yang canggih adalah prosesnya’. Tempe yang menurut kita sederhana, dengan cara yang ‘canggih’ menggunakan filosofi monozukuri Jepang menjadi produk yang luar biasa!

    • @Sigit Widodo : Betul sekali Mas Sigit, orang-orang seperti Mas Rustono ini harus dijadikan panutan, terutama sekali dalam menginisiasi bisnis dengan penuh semangat dan dedikasi…..ruar biasa Mas…saya sepakat 🙂

  2. artikel yang sangat menarik and inspiratif…boleh tahu gak alamat email pak Rustono? siapa tahu saya bisa jualan tempe di florida 😉

  3. Betul sekali, mereka memang gigih, dan pantang mundur……Tempe yang kelihatan sederhana..ternyata bisa membuat orang terpukau…..Selama Luisa di Indonesia…terpaksa kami istirahat makan tempe……Selamat…dan semoga sukses

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén