Mencermati Kecenderungan Outsourcing

Mencermati Kecenderungan Outsourcing Mencermati Kecenderungan Outsourcing outsourcing mattbuck com

Dua pekan lalu kebetulan di “gubug” saya nan mungil, saya didapuk menjadi tuan rumah untuk acara kangen-kangenan mini reuni bersama teman-teman ex intra kampus dulu. Ditengah mengobrolkan dan berbagi cerita akan pengalaman kondisi kekinian serta sederetan aktivitas yang dilakoni, ada sebuah tema obrolan “kantor” yang mengemuka. “Di kantor saya sebentar lagi, semua pekerjaan yang tidak berhubungan dengan core business perusahaan dan pemasaran akan di-outsource ke pihak ketiga”, kata seorang teman yang bekerja di oil industry manca negara dengan mimik serius. “Wah sama dong, di tempatku saja bagian akuntansi tidak bakalan merekrut banyak orang lagi, sebagian sudah digantikan system, bisa jadi ke depannya departemen akuntansi bisa ikut kena outsource tuh,” sambung teman lain dengan nada “khawatir” yang bekerja di sebuah perusahaan grup otomotif besar di Republik ini.

Kecenderungan outsourcing atau sering disebut alih daya sepertinya mulai dilakukan banyak perusahaan. Perusahaan beramai-ramai meng-outsource pegawai. Sistem yang dipakai adalah “kontrak pegawai” yang berlaku dalam kurun waktu tertentu yang kemudian kalau habis masa kontraknya, diperpanjang atau tidak sangat tergantung kebutuhan perusahaan. Kalau beberapa saat lalu biasanya yang menjadi pegawai kontrak hanya “supporting job” seperti bagian keamanan, bagian kebersihan, kurir. Kecenderungan sekarang pekerjaan sekretaris, staf bagian pay-roll, bagian akuntansi seperti yang dikhawatirkan oleh kawan di atas mulai berjalan. Tak ayal sebuah kecenderungan yang sempat dikhawatirkan banyak pihak.

Dengan mengatasnamakan apapun, di tengah deraan persaingan yang tajam, sesungguhnya ujung dari efisiensi semacam ini adalah penghematan agar perusahaan mempunyai “nafas” lebih panjang untuk survive. Kalau posisi karyawan tetap yang biasanya diikuti “segepok” benefit yang terkadang cukup lumayan, dengan menggunakan karyawan kontrak akan sedikit meringankan. Di beberapa perusahaan, biaya kesehatan dan biaya pensiun merupakan komponen yang sering disebut sebagai pos gemuk benefit tersebut. Kalau terlalu banyak karyawan tetap, nantinya bakal menggerogoti kemampuan perusahaaan untuk melakukan manuver bisnis menghadapi persaingan. Saya melihat, beberapa perusahaan pelat merah yang tidak mempunyai perencanaan matang dalam perekrutan karyawan tetap, bakal kedodoran nantinya di kemudian hari.

Dari sisi karyawan, kecenderungan fenomena ini memang bukan “berita bagus”. Ancaman “comfort zone” sebagai karyawan sedikit banyak “mengganggu” dan mengintai kenyamanan. Tetapi hal ini sepertinnya merupakan kecenderungan global yang tidak bisa dielakkan. Kalau mencermati perbincangan kolega saya di acara reuni yang notabene bekerja di perusahaan multinasional dan perusahaan besar di negeri ini, agaknya kompas arah outsourcing bakal melaju kencang ke depan. Terus apa yang harus kita lakukan? Tentunya memaki-maki kecenderungan ini adalah bukan tindakan bijak bukan, dan barangkali juga kontra produktif. So, what will we do?

Pilihan pertama adalah, memastikan dalam setiap langkah kita ke depan secara terus menerus mengasah kemampuan kita. Harapan yang ingin direngkuh jelas, dengan kemampuan yang memadai dan di atas rata-rata rekan sekantor, nama Anda bukan termasuk salah satu orang yang “kehilangan meja” karena posisi Anda akan digantikan “karyawan kontrak” dengan ditawari golden shake hand. Pilihan ini mengisyaratkan bahwa pilihan menjadi pegawai di perusahaan sekarang adalah prioritas utama.

Pilihan yang kedua, kalau menjadi pegawai adalah pilihan utama, pastikan kalau program outsourcing di perusahaan Anda bekerja masih akan diterapkan dalam waktu yang relatif lama. Kalau akan terjadi dalam waktu dekat, pastikan siapkan curriculum vitae lagi yang lebih solid dan dahsyat untuk melamar pekerjaan yang perusahaannya lebih mapan dan tidak mengimplementasikan kebijakan outsourcing dalam waktu dekat.

Pilihan yang ketiga, ini untuk Anda mempunyai sedikit jiwa “risk taker” dan berkemauan untuk berusaha sendiri (entrepreneur). Mulailah menyiapkan bendera sendiri untuk menggelindingkan bisnis sendiri dengan asumsi bahwa kecenderungan outsourcing merupakan kecenderungan global yang bisa menimpa kita semua, kapan saja, suka atau tidak suka. Berbisnis terkadang tidak harus sendiri, bisa mulai berbisnis “patungan” dengan rekan sejawat, atau apapun bentuknya.
Saya sarankan mencari bisnis yang sesuai dengan passion Anda. Ingat menjadi entrepreneur bukan pilihan karena kepepet. Ini sebuah pilihan yang memerlukan persiapan secara fisik maupun mental, khususnya yang sudah mempunyai keluarga atau tanggungan anak.

Jadi apa pilihan Anda dalam mencermati kencenderungan derasnya outsourcing ini?

Credit Photo : www.mattbuck.com

Previous

Sepenggal Kisah Toko Jepang

Next

Mengintip Perilaku Transumers : Konsumen Masa Depan?

9 Comments

  1. Tampaknya ini sudah tanda jaman Mas. Semakin ke depan, perusahaan akan semakin ramping dan effisien. Tenaga security dan cleaning, seperti yang Mas Donny sebutkan, biasanya yang paling pertama merasakan. Mungkin tidak lama lagi kosakata “tenaga kerja paruh waktu” atau part time job akan akrab di telinga kita.

    Jangankan perusahaan, keluargapun sepertinya akan menjadi semakin ramping. Tenaga PRT, baby sitter, supir mungkin akan semakin mahal dan langka dan hanya orang kaya saja yang memiliki. (nyambung ndak ya ?)

    Salam dan terima kasih atas artikel dan juga solusinya. (Jadi ingat buku “Who moved my cheese ?”)

  2. Rinaldi

    Menjadi yang terbaik di lingkungan anda, adalah yang pilihan yang tepat, dalam kondisi apa pun.
    Dengan menjadi yang terbaik, akan lebih menjamin masa depan anda.
    Bila tempat berusaha anda tidak bisa menilai itu, percaya lah masih banyak mata yang masih bisa melihat talent dan kemampuan yang memang brilian dan di butuhkan dan anda miliki.

    How to be the best? Pertanyaan yang selalu muncul. Jawaban nya :
    – Kenali job description anda dengan benar dan coba pahami. Suka atau tidak suka.
    – Tidak ada pekerjaan yang tidak ada rintangan nya, se mudah atau sesusah apa pun. Tingkat kan kemampuan anda
    – Kenali dan pahami minat anda, apa kah benar ini yang anda suka. Semakin anda suka dengan apa yang anda kerjakan, semakin besar minat anda unt mengasah kemampuan.
    – Buka wawasan dan jangan berburuk sangka dengan hal yang baru. Pelajari dan coba pahami hal tersebut.
    – Selalu berani mengasah diri, semua tantangan yang datang akan membantu kita mengasah diri.
    – Berani bertanya, bila memang tidak tahu. Hilangkan kebiasaan unt menguji orang lain. Karena musuh paling besar anda , adalah anda sendiri. Bukan orang lain.
    – Banyak membaca , apa pun juga. Jangan membatasi diri pada hal ter tentu, kemungkinan anda akan menemukan suatu hal yang baru, yang justru baik buat anda.
    – Pelajari sesuatu di mulai dengan hal yang benar, sebelum anda mencoba mengimprovasi dengan melakukan seperti yg orang lain biasa lakukan.
    – Berusaha unt belajar 1 hal baru setiap hari, sekecil apa pun.

    Dengan semakin berubah pola bisnis dengan out sourcing, arti nya profesionalitas seseorang semakin di butuhkan.

    Outsourcing, tidak melulu hanya karena cost. Tapi perusahaan semakin berupaya, memaksimalkan daya dan sources yang di punya, unt lebih fokus pada core business nya, to be come more a specialist and expert.

    Semoga ber manfaät.
    Rinaldi

    • @Rinaldi : Sebuah masukan yang jeli Bang Rinaldi, sekali-sekali perlu ulasannya ditambahkan pengalaman Bang Rinaldi mengurus perusahaan di luar negeri….pasti lebih top Bang 🙂

  3. Pandu Truhandito

    Halo mas Donny,

    Masih tetap dengan artikel yg bermutu tinggi 🙂

    Saya melihat outsourcing adalah trend global dan tidak akan berkurang. Karena istilahnya, outsourcing makes sense dari segi bisnis. Biaya yg mas sebut diatas menjadi non-existent.

    Tips yg mas berikan memang ada benarnya. Tapi saya lebih suka untuk memfokuskan diri menjadi yg terbaik (atau istilahnya Seth Godin: lynchpin).

    Pekerja yg bisa digantikan oleh system atau outsource bukanlah seorang lynchpin. Pekerja yg metodis dan algoritmis (yg beroperasi dengan SOP yg sudah terstruktur rapih) tentu akan dengan mudah digantikan oleh alternatif yg lebih murah. Lah wong prosedur sudah ada tinggal dilakukan, siapapun yg melakukan asal bisa mengikuti prosedur. Dengan demikian alternatif termurah lah yg menang

    Tapi selama kita bisa memberikan kontribusi yg jauh melebihi kapasitas sebuah SOP, kita tidak akan mudah tergantikan

    • @ Pandu Truhandito : Mas Pandu pa kabar? sudah lama sekali saya tidak mampir Blog Anda yang top markotop itu 🙂 Terima kasih ya masih bersedia mampir….kapan-kapan mampir lagi ah walaupun saya jarang kasih komen 🙂 anyway, as usual komentar Mas Pandu selalu ada yang “baru”…thanks ya….

  4. Achmad S. Putro

    Hi Don,

    Ikut urun rembug.

    Menurutku kita perlu melihat 2 sisi disini, kepentingan diri kita yang aku asumsikan sudah punya modal kompetensi dan kepentingan saudara2 kita yg dengan kompetensi pas2an n jumlahnya jutaan.

    Bagi kita, semua apa yang disampaikan rekan2 benar semua. Yang perlu dicermati adalah kita tidak hanya berkompetisi dengan orang lokal saja. The world is flat, baik informasi maupun resources. Di kantorku sudah ada 2 orang India yang mau kerja dibayar paket lokal.
    Point is, once you survive from local role competition, then you will face global competency competition.

    Yang kedua utk teman2 kita hrs masuk lingkaran outsourcing,aturan outsourcing kita juga tidak tegas. Memang ini merupakan tuntutan cost leadership semua perusahaan, tetapi jg tidak terpungkiri kalau jumlah angkatan kerja kita dan lap kerja tidak seimbang. Solusinya buat aturan khusus untuk melindungi kelompok karyawan outsourcing, sehingga mereka bisa menerima keberadaan status mereka sebagai karyawan outsourcing dan tidak mencari status permanen sebagai solusi bila ada masalah.

    cheers Bro

    • @Putro : Memang benar adanya kawan Putro, yang sedikit menambah kompleks adalah tidak tegasnya policy outsourcing kita. Jadi kesannya menjadi karyawan outsourcing kesannya jadi “penuh ketidakpastian”. Thank you kawan Putro atas inputnya, emang kalau yang malang melintang di HR, hal ini di luar kepala ya 🙂 Thanks Kawan Putro…..

  5. semoga membantu

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén