Bisnis Pendidikan Mencecap Renyahnya Bisnis Pendidikan Mencecap Renyahnya Bisnis Pendidikan bisnis pendidikan1

“Ilmu dan ketrampilan adalah koin mata uang yang berlaku dimana-mana”

Karena sopir sedang ada urusan lain, kali itu saya dapat jatah mengantar dan menunggui anak ikut tes di sebuah lembaga kursus (bimbel) cukup terkenal yang mengajarkan subjek matematika di sebuah  sudut perumahan dekat rumah membuat saya geleng-geleng kepala. Sebuah kursus bukan di jalan besar, tapi muridanya bejibun, seakan pintu masuk lembaga kursus tidak pernah sepi, buka tutup wira wiri anak peserta kursus keluar masuk. Dalam hitungan kurang lebih satu jam disana, parkiran sempit itu disesaki  10-12 mobil yang bergantian berdatangan dan pergi  mengisi space parkir di bibir jalan mungil itu. Macet pun tidak bisa dihindari.

Dari pengamatan sekilas ini, dan juga berbincang sebentar dengan beberapa orang disana bahwa pendidikan yang agak susah “dibisniskan” terlihat begitu berubah. Kalau melihat sesaknya kursus tersebut, dengan ruang tunggu yang tidak kalah berdesak-desakan, terasa muramnya nasib guru yang dulu diteriakkan terasa terlupakan. Mengintip sekilas dari bilik kaca kelas, terlihat para guru disana pun sibuk bak “pekerja kantoran” di waktu hetic. Melayani dengan penuh ketekunan dan ketelatenan, murid-murid yang datang dan bergegas pergi.

Ini adalah berkah menggelembungnya wajah kelas menengah Indonesia baru yang begitu antusias dan sadar  betapa pendidikan menjadi sarana penting dalam pergulatan memenangkan era hyper-competition ini.  Kalau meminjam istilah dari Menteri BUMN, Bapak Dahlan Iskan menyatakan karena persaingan yang tinggi ini, banyak orang tua yang takut, khawatir anaknya kalah “bersaing”.  “Orang kalau sudah takut, harga tidak akan dihitung, itu sebabnya dunia pendidikan di Indonesia sangatlah menjajanjikan” ungkap beliau ketika memberikan Kuliah Umum di Program Pasca Sarjana Universitas Makasar beberapa saat lalu.

Kalau Lembaga kursus (bimbel) yang di pinggir jalan kecil saja dikerumuni banyak orang, padahal bayarnya tidak murah. Bisa ditarik kesimpulan, betapa harga bukan lagi menjadi sebuah concern, ketika kualitas yang diberikan bisa memuaskan serta  meredakan ketakutan para orang tua yang lebih khawatir ketika ujian datang ketimbang anak-anak mereka….heheheheh J Beberapa  tips sukses berbisnis bimbel :

Pertama, pastikan tempat kursus berlokasi di dekat perumahan dan dekat dengan lokasi-lokasi sekolah. Seperti kursus bimbel yang saya lihat, meskipun di sebuah jalan mungil tetapi lokasinya “bertetangga” dengan komplek sekolah mulai sekolah atas sampai sekolah menengah atas. Sehingga konsumen yang disasar tidak terlampau jauh. Sehingga pasokan murid yang menjadi urat nadi bisnis ini sangat terjaga. Sedikit info, lembaga kursus itu sudah 19 tahun berdiri di jalan kecil itu dan tetap survive menjaring anak didik dari beragam level pendidikan.

Kedua, kalau concer-nya segera mendapatkan keuntungan secara cepat dengan biaya promosi  yang tidak perlu “tinggi”. Pilihan franchise beberapa lembaga bimbingan (kursus) yang sudah punya track record panjang dan teruji kehandalannya. Karena dengan memilih itu, energi yang harus dikeluarkan untuk mem-back up sektor pemasaran tidak terlampau banyak. Sebagai gantinya bisa lebih banyak difokuskan untuk memberbaiki sisi lain. Kecuali Anda mempunyai passion tersendiri terhadap suatu bidang dimana diyakini akan bisa menyedot peserta kursus dengan waktu relatif  pendek.

Ketiga, usahakan mata ajar yang akan diajarkan dan “dibisniskan” itu merupakan dambaan orang tua atau seperti yang saya sebut di atas bisa meredakan kegalauan orang tua akan pelajaran yang menghawatirkan mereka. Beberapa bimbel mata ajar matematika , Bahasa Inggris, Bahasa Asing lain (Jepang, Mandarin, Arab) menjadi incaran orang tua. Ini bisa dilihat dari fenomena kelas-kelas yang mengajarkan bahasa Inggris (dual) yang marak yang terkadang orang tuanya tidak siap ikut mengajarkan di rumah akan menyebabkan para orang tua was-was. Atau malahan, mata ajar lain yang khusus yang merupakan “dambaan orang tua”, seperti kursus music, menggambar, robotic, animasi yang tidak kalah ramai.

Tapi prinsipnya mencebur bisnis di dunia pendidikan, tidak sama dengan bisnis pabrikan atau jualan yang berhubungan dengan barang.  Ada batas-batas dimana di titik-titik tertentu, karena kapasitas tidak bisa digenjot lagi. Misalnya kalau kelas, rasionya sudah penuh, tidak bisa dipaksakan dijejal-jejalkan untuk alasan maksimalisasi. Karena main subject bisnisnya adalah servis kepada manusia. Dan yang tidak kalah penting, tipikal bisnis tidak sepenuhnya “berbisnis”, ada faktor empowerment keilmuan untuk orang banyak. Siapa tertarik menerjuni bisnis ini?

Credit Photoblog.letmeknow.in