Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman

Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman mimpi sejuta dolar

Pertama saya mencoba memahami ketika seorang kawan “berkeluh kesah” tidak bisa segera “memulai bisnis”, jawabanya selalu berujung, “Belum bisa dimulai, biasa terbentur masalah modal.” Padahal sebenar betulnya, tidak pas-pas banget alasannya, lha sang kawan ini kalo gak makan harus di resto mahal lidahnya “keplintir” katanya, hampir setengah tahun sekali ganti HP, alasannya untuk ngikutin selera modern. Sebenarnya kalau aku lirik, paling banter HP-nya buat nelpon sama sms, kadang-kadang saja untuk nge-check e-mail lewat HP. Nafsu belanjanya kayak orang “kalap belanja” kalau sedang di mall. Kalau lagi ngobrol sengaja disentil udah ada teman yang mulai bisnis meskipun “nasibnya” jauh dibawah dia, selalu ada alasan jawabnya. Selalu memakai sepenggal mantra “terang-isme,”Lha terang, dia kan anaknya orang kaya, dapat warisan…atau…”Terang dong keluarga istrinya punya bisnis gede…”, cerocosnya. Lama-lama saya menarik kesimpulan….itu bukan masalah “modal” sesungguhnya.

Kalau melihat gaya hidupnya seperti itu, dan jawabannya selalu pakai logika “terang-isme”, saya tidak yakin keinginannya untuk “bebas finansial” sedini mungkin akan tercapai kalau caranya seperti itu. Beberapa hari lalu, seorang nama saya yang cukup familiar di telinga saya, tiba-tiba follow back di akun twitter saya. Saya sedang tidak membahas ke-ge-er-an saya karena nama orang ini cukup ngetop akhir-akhir ini. Tapi karena beliau “folback” saya di twitter, saya jadi ingin cerita tulisan ini. Beliau adalah seorang wanita cantik dari Singapura, yang masa kecilnya dihabiskan dekat lingkungan saya tinggal di bilangan Pulo Mas, Jakarta Timur. Yang suka mampir jalan-jalan ke toko buku pasti tahu karena baru-baru ini bukunya yang cukup laris manis kayak kacang goreng di Singapura…ternyata juga laris di Indonesia. Ya..wanita cantik itu bernama Merry Riana, sang penulis buku “Mimpi Sejuta Dollar”.

Merry, yang ketika krisis melanda Indonesia di tahun 1998, dia “diungsikan” ke Singapura oleh orang tuanya. Dengan uang sangat mepet, bahkan sampai meminjam uang dana pendidikan ke pemerintah Singapura untuk bisa bersekolah, nantinya kalau sudah bekerja, sebagian gajinya dipotong untuk membayar pinjamannya tersebut. Hari-hari sekolahnya disana pun dijalani dengan penuh keprihatinan. Makan untuk ngirit terkadang sehari cukup dua kali. Acapkali, semangkuk mie rebus dan roti tawar menjadi menu “andalannya” untuk itu.

Cerita menyentuh dan sedikit “heroik” ini, memaparkan perjuangannya meraih mimpi “kebebasan financial” sebelum umur 30 yang berhasil direngkuhnya. Di usia yang relatif muda, Merry mampu berpenghasilan pundi-pundi 1 juta Dollar. Salah satu media di Singapura menganugerahinya ”The Young Female Millionaire”. Barangkali sebelum membeli bukunya, Anda bisa mampir di lamannya untuk baca-baca cerita hidupnya itu.

Setidaknya ada dua hal menarik yang perlu di-share dari “pengalaman hidupnya” nan cukup kaya itu.

Pertama, Merry berhasil menampik adagium bahwa untuk menggelindingkan bisnis, modal adalah hal utama. Memang betul modal adalah hal penting. Tetapi ketika tidak ada guyuran modal, akankah menyalahkan “keadaan” seperti yang cerita teman saya yang disinggung di awal cerita yang selalu mengoceh mengedepankan adagium “terang-isme” ? Modal penting, tapi ketika modal tidak ada akankah berarti “kiamat” ? Merry menampik hal itu, merasa gak punya kenalan “orang kaya” dan merasa gak punya, maka untuk mewujudkan impiannya, dia harus mampu menumpuk modal sendiri.

Maka karena keputusannya sudah bulat, maka dia mulai menjajakan produk finansial seperti asuransi, reksadana, deposito dalam rangka menambah pundi-pundi modal untuk bisnis-nya. Awalnya, kenekatannya menjajakan produk finansial ini dipandang hal “mengherankan” untuk lulusan Universitas sekaliber Nanyang Singapore University. Tapi keputusan sudah bulat, untuk bisa lolos jarum financial freedom, harus menjadi menggelindingkan usaha sendiri adalah jawabannya, karena tidak punya modal maka langkah ini yang harus dilakoni.

Kedua, mengingatkan kita bahwa tidak semua pilihan yang kita inginkan bisa direngkuh. Itu trade-off. Barangkali bisa dapat A, tapi kita gak bisa dapat B. Atau sebaliknya dapat B belum tentu dapat A. Karena tangan kita cuman dua. Sebagai lulusan universitas bergengsi di Singapura, bahkan di Asia, mendapatkan sebuah pekerjaan yang gajinya top markotop tentu bukan hal yang terlampau sulit. Tapi karena keinginannya bukan hal itu, tapi ingin “bebas finansial” sebelum umur 30, maka pilihan “ngamen” jualan produk finansial pun dilakoni. Walaupun diiringi tatapan aneh dan barangkali “cemohaan” di belakang para kolega teman sekampusnya. However, it’s a choice. Terkadang kita dididik, untuk bisa ini, itu, walaupun sedikit-sedikit. Padahal kita bukan superman atau supergirl. Dan Merry memilih hal itu.

Jadi saatnya menghapus keinginan menjadi “superman” yang serba bisa, atau punya adagium “terang-isme” yang selalu menyalahkan keadaan. Jalani pilihan hidup Anda dengan penuh antusias dan semangat pantang menyerah. Selamat berjuang 🙂

Credit Photo : goodreads.com

Previous

Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang

Next

Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan

6 Comments

  1. thanks for sharing mas donny. betul2 memotivasi dan menginspirasi saya di hari ini:)

  2. Twino

    Sangat bagus. Kebetulan saya ikut sesi seminar beliau akhir bulan lalu.

  3. that’s right sir, we must learn from the people’s experiences, a bad situation isn’t our reason to stop dreaming and starting a new creativity.

1 Pingback

  1. tips kecantikan

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén