Membumikan Spirit Technopreneurship Membumikan Spirit Technopreneurship kaos technopreneur

Kopdar ke-6 pada hari Minggu lalu yang diselenggarakan KAJI (komunitas Alumni Jepang di Indonesia) yang anggotanya sudah lebih dari 600 orang yang tersebar di seluruh pojok dunia memang terasa sedikit berbeda nuansanya. Karena kopdar-kopdar sebelumnya selalu diadakan di gedung pertemuan, kali ini diadakan di Museum Kelistrikan Taman Mini Indonesia Indah yang relatif masih ada nuansa hijau-nya. Sharing topik di acara kopdar juga sepertinya cukup “seksi” untuk diikuti : Technopreneurship ! sebuah gagasan dan upaya menyisipkan “inovasi” teknologi dalam berwirausaha.

Dr.Bapak Bambang SP, M.Eng, jebolan S-2 dan S-3 dari Nihon Daigaku, yang kebetulan dalam keseharian berkutat serta memimpin inkubator bisnis berbasis teknologi di BPPT membuka prolog sesi pertama dengan cerita dan sindiran yang cukup memanaskan sesi itu. Misalnya cerita yang cukup mengagetkan serta memprihatinkan tentang perusahaan minyak milik Negara di Republik ini yang yang sampai saat ini belum mampu sepenuhnya melakukan “pengeboran” sendiri. Jadi selama ini, pengeboran minyak di Indonesia selalu dikerjakan “perusahaan rekanan” yang notabene perusahaan dari luar. Pemerintah hanya melihat saja dan merasa puas hanya mendapatkan “komisi” dari usaha yang sesungguhnya untungnya sangat besar bila diolah dan diurus sendiri.

Jadi tidak heran, kalau dihitung keuntungan Pertamina saja di tahun 2006 hampir sama keuntungan yang diraup Mark Zuckerberg dengan FaceBook-nya. “Jadi ngapain saja kita selama ini?” tanya Pak Bambang SP retoris. Ditelisik lebih jauh, ternyata teknologi ringan yang seharusnya sudah bisa diproduksi sendiri seringkali masih juga import, tidak hanya kasus di industri minyak saja. Tetapi juga industri-industri lain. Sehingga banyak opportunity cost yang gagal direngkuh. Akhirnya cerita pun melebar ke ranah lain seperti teknologi ringan yang kadang alpa dilakoni dan ditekuni bangsa ini. Tempe saja, makanan khas Indonesia misalnya yang sudah dipatenkan di Amerika sejak tahun 1960-an, banyak mobil bersliweran tapi kita belum punya pabrik milik bangsa sendiri. Pak Bambang juga menuturkan sekaligus menantang kalau ada yang mempunyai sentuhan polesan teknologi untuk “menghadap” beliau, dipastikan akan dibantu.

Akhirnya memang kesadaran untuk membumikan “teknologi” dalam bungkus wirausaha memang tidak bisa mekar dan melenting dengan dibiarkan apa adanya (given) tetapi harus dikondisikan (by design). Sudah saatnya entrepreneur di Indonesia membasiskan diri pada teknologi, tidak lagi berbasis “dagang” semata, artinya membeli di suatu tempat kemudian dijual di tempat lain tanpa sentuhan “teknologi” sama sekali. Nilai tambahnya lemah, dan mudah rontok karena mudah ditiru.

Pak Bambang diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk membangun inkubator bisnis berbasis teknologi. Lamanya pendampingan bisnis ini 1 tahun lamanya. Karena program inkubator bisnis berbasis teknologi merupakan program dikedepankan pemerintah. Beberapa produk seperti kantong aspal, kapal pengangkut ikan dan wisata ikan, pupuk organic, alat elektro Cardiografi (pedeteksi detak jagung) dan beberapa list lain merupakan contoh “pilot project” technopreneurship yang sedang digawangi Bapak Bambang dan tim. Sebuah upaya yang perlu diapresiasi. Tertarik menekuninya ?

Sementara ini Bapak Dr.Ir.Wisnu Gardjito,MBA sebagai pembicara kedua tidak kalah “seksi” presentasinya. Doktor Industri Teknologi Pertanian IPB yang juga bergelar MBA dari International University of Japan (IUJ) di Niigata-ken “nekat” minta pensiun dini sebagai PNS dan langsung mengibarkan UD Sumber Rejeki sekaligus menabiskan diri sebagai technopreneur. “Saya tidak mau dikontrak “miskin” sampai tua”, katanya berseloroh. “Bangsa kita kaya akan bahan baku yang tidak dimiliki bangsa lain, kita tidak pantas miskin”, tambahnya berapi-api dan bersemangat.

Selepas mengajukan pensiun dini, Pak Wisnu yang pernah mengabdi di Departemen Perindustrian membuka bisnis di agro industri khususnya berbahan dasar kelapa. Tercatat ada puluhan derivasi berbahan kelapa yang diproduksinya, mulai sirup, sambal, minuman vitamin C, minuman isotonic, lulur, sabun mandi, lotion dan aroma therapy yang semua berbahan dasar dari kelapa. Mengapa Kelapa? Indonesia mempunyai 3,7 juta hektar tanaman kelapa, saingan terdekat hanya Philipina yang mempunyai 3,1 juta hektar. Disamping itu, pohonnya sudah tidak perlu menanam lagi, serta kalau diolah serius akan punya 1600 produk akhir. “karena kita kaya akan bahan baku, seringkali kita menelantarkan dan tidak menyadari potensi kekayaan yang kita miliki”, sesalnya.

Saatnya bergerak memang, apalagi laporan dari World Bank pendapatan perkapita kita sudah mendekati $ 3000, pasti “ledakan-ledakan” ekonomi seperti yang dialami oleh Negara China yang perkapitanya sudah melewati itu bakalan kita alami dan kita rasakan. Jangan sampai kita hanya menonton, kita harus ambil bagian prosesi itu.

Kedua panelis yang membuat para peserta bertahan sampai sesi terakhir dengan mendengarkan secara seksama dan tekun (bahkan menguap untuk ngantuk pun tidak sempat), mengakhiri sesi dengan statemen pertanyaan yang nyaris sama dan cukup menggelitik. Kalau boleh saya bahasakan memakai kalimat saya pribadi, kalimat redaksionalnya menjadi seperti ini: “Kalau potensi yang ditangguk menjadi technopreneur begitu menggelegar, masih tetapkah kita nekat dan setia menjadi karyawan?

Sebuah pertanyaan yang pantas direnungkan bersama. Hal itulah yang saya rasakan di akhir acara, sambil menikmati nasi yang disajikan dalam batok kelapa hari itu……terima kasih atas pencerahannya Pak 🙂

Credit Photo : www.bisniskaos.com