Membidik Anak, Merayu Ibu Membidik Anak, Merayu Ibu ambilkanbulanLiburan panjang anak-anak sekolah telah tiba, sederetan jadwal perjalanan tempat-tempat favorit “ludes” terjual. Jauh-jauh hari para Ibu menyusun daftar jadwal mengisi liburan positif buat anak-anak mereka. Secara bisnis, target market yang disasar memang anak-anak sekolah yang liburan. Tetapi sedikit banyak, keputusan Ibu untuk mempengaruhi serentetan jadwal liburan cukup signifikan. Seorang Ibu tentunya tidak ingin jadwal mengisi liburan diisi dengan jadwal hiburan “senang-senang” semata tetapi juga menginginkan liburan yang ada diisi dengan liburan yang hal-hal yang memperkaya pengalaman. Ingat saat liburan, biasanya anak-anak ditemani ibunya dalam mengisi liburannya. Sedikit banyak ada “veto” Ibu yang mengarahkan jadwal liburan anak-anak.

Inilah sebabnya dalam hukum bisnis, memahami keinginan target market itu “lebih penting” ketimbang keinginan “menjual barang/jasa” kepada konsumen. Kejelian memahami keinginan target market  ini merupakan kata kunci dalam memenangkan kontes persaingan. Salah satu kejelian pemasar dalam masa liburan ini ditunjukkan sebuah sebuah film musikal untuk anak-anak  yang kami tonton. Sang Pemasar tahu persis kalau nantinya anak-anak yang menonton film ini bakalan ditemani orang tuanya. Agar yang menemani juga ikut enjoy, tentunya film itu sedikit banyak juga harus mampu “menghibur” orang tuanya.

Ketika menonton Film Ambilkan Bulan yang disutradarai Ifa Isfansyah merupakan salah satu contoh produk yang mampu “mengawinkan” hal itu. Sudah saya duga, ketika saya mengantar jagoan kecil dan peri kecilku, dominasi Ibu-ibu ketika mengawal anak-anak mereka menonton begitu mendominasi. Film yang diproduksi oleh Mizan ini tidak saja mampu membius anak-anak dibawah 10 tahun duduk manis menonton, tetapi mampu menghibur jajaran para pengantar anak-anak, yakni para orang tua yang didominasi para Ibu.

Ketika para anak menikmati alur cerita khas anak-anak di layar lebar yang dimanjakan background pemandangan-pemandangan yang luar biasa bagus, para Ibu juga ikut bersenandung kecil mengikuti irama lagu-lagu anak yang kebanyakan besutan pencipta lagu kenamaan A.T  Mahmud yang juga populer di masa para Ibu pengantar tadi. Lagu-lagu seperti Amelia, Liburan Telahlah Tiba, Pelangi, Aku Anak Gembala dan Ambilkan Bulanku. Alhasil anak-anak terhibur dengan film tersebut, sementara para Ibu juga ikut riang karena lagu-lagu yang didendangkan merupakan lagu-lagu anak yang familiar di jaman mereka juga.

Contoh film di atas menunjukkan betapa kejelian membaca keinginan target market memegang peranan penting dibanjirinya film tersebut di masa liburan. Lebih hebatnya lagi tidak sekedar anak sebagai the main target yang merasa senang dengan film musikal yang sesuai dengan dirinya, tetapi juga bisa membuat para pengantar anak-anak yang notabene didominasi Ibu yang second layer ikut merasa terhibur juga. Inilah mengapa eksekusi bisnis yang baik haruslah melibatkan sisi yang diinginkan konsumen, tidak sekedar membikin barang “agar” disenangi konsumen.

Industri kreatif, khususnya film yang diperuntukan untuk anak masih amat sedikit. Menurut catatan Oxford Economics, industry film dan TV Indonesia berkontribusi cukup besar di Indonesia. Studi menunjukkan industry ini mampu menciptakan pekerjaan 191.779 lapangan pekerjaan dengan sumbangan pajak langsung ke kas negara senilai Rp. 7,68 Triliun. Padahal masih banyak tema-tema film kreatif yang mendidik yang belum digali secara serius. Sementara jumlah bioskop layar lebar hanya berjumlah 675 buah, padahal penduduk kita lebih dari 245 juta. Masih cukup luas kesempatan di bidang ini.

Yang tertarik berkecimpung di industri kreatif, khususnya film. Peluang bisnisnya masih terbuka lebar. Berminat untuk mencebur di bisnis kreatif?

Credit Photo : m.detik.com