Memanfaatkan Trickle Down Effect 5,6 US Miliar

Memanfaatkan Trickle Down Effect 5,6 US Miliar Memanfaatkan Trickle Down Effect 5,6 US Miliar indonesia japan1

Belasan tahun lalu kalau melihat rekan trainee dari IMM Japan (sekarang IM Japan) atau sering dikenal dengan nama kenshuusei (研修性)mengirim uang kepada keluarganya, terkadang saya “geleng-geleng kepala” sekaligus bersyukur. Betapa tidak, anak-anak muda itu seringkali mengirim uang ke tanah air secara nominal cukup besar yang dipastikan belum tentu dinikmati oleh seorang level staf bahkan terkadang selevel supervisor sekalipun di Indonesia. Kala itu pengirimannya belumlah menggunakan medium perbankan resmi yang sekarang gencar disosialisasikan oleh pemerintah lewat Bank Indonesia. Kala itu, banyak “bank-bank gelap” yang rajin beroperasi menawarkan jasa “pengiriman uang” dengan ongkos yang lebih murah.

Tapi tak urung saya tetap terkejut ketika membaca sebuah berita bahwa jumlah remitasi (pengiriman uang) tenaga kerja Indonesia (TKI) per Oktober 2011 mencapai 5,6 milliar US Dollar. Atau setara 51,07 triliun rupiah jika dikurs per dollar Rp.9.100. Sebuah angka cukup besar, yang disumbang para saudara TKI kita di luar negeri yang terkadang perannya masih dianggap sebelah mata. Masalahnya adalah dari jumlah uang yang cukup besar tadi, seberapa jauh kiriman remitasi tadi punya efek incremental terhadap munculnya bisnis-bisnis baru di tanah air?

Inilah masalahnya. Program pengiriman TKI, termasuk yang bekerjasama dengan IM Japan (tiap bulan mengirim 80-120 trainees) merupakan program mulia yang didesain untuk membantu mereduksi tingkat penggangguran yang cukup akut. Tapi sepertinya kiriman uang yang semakin lama semakin besar pundi-pundinya ini agaknya lebih banyak digunakan untuk aktivitas “konsumsi” ketimbang langkah-langkah produktif. Tak heran, besaran uang yang cukup besar tadi tak jarang habis untuk hal konsumtif. Sehingga para pekerja ini tergoda kembali minta “dikirim” ke luar negeri kembali, karena uang simpanannya sudah menguap habis. Di sisi lain, policy untuk “menggarap” para pekerja yang pulang ke tanah air “kalah perhatiannya” dengan kebijakan pemberangkatannya yang sangat diperhatikan dan digarap relatif lebih serius. Saya melihat perhatian kepulangan para kenshuusei tidak sehebat dan sebesar ketika akan dikirim. Seolah dibiarkan saja, toh pulang sudah bawa uang.

Padahal dengan potensi uang yang dibawa pulang di “atas rata-rata” itu, seharusnya kalau hal ini dimanfaatkan dengan cerdik, akan menimbulkan efek domino yang strategis untuk memperkuat sendi-sendi ekonomi Republik ini. Beberapa minggu lalu, saya mendapat kehormatan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah untuk sharing dihadapan para pengurus LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) yang didirikan para mantan kenshuusei di Denpasar dan di Solo. Kebetulan sesi sebelumnya Direktur IM Japan, Kyoei Yanagisawa-san berpesan untuk mengirim kenshuusei yang “bermental pejuang”. Jadi kalau pulang ke Indonesia, mereka akan bernyali “会社を作って、社長になりたい” (mendirikan perusahaan, bermental menjadi direktur). “Kalau hanya mencari pekerja yang memburu yen semata, gampang !!”, sambungnya dengan mimik serius.

Sebuah kata-kata yang cukup dalam, sekaligus menandakan bahwa direktur IM Japan melihat betul trainee yang dikirim ke Jepang lebih banyak yang motif-nya di-drive mencari yen semata, jumlahnya lebih banyak ketimbang yang berkeinginan untuk mandiri membuka usaha sendiri. Ini yang menyebabkan uang lumayan yang dibawa pulang “tandas” di meja konsumtif bukan produktif. Agaknya wejangan Yanagisawa-san tadi membangunkan serta mengingatkan kita semua, ada banyak peluang dari triliunan uang remitasi tadi yang belum tergarap dengan maksimal.

Betapa banyak peluang bisnis di negeri ini yang bisa digarap dengan uang tersebut. Tidak usah jauh-jauh, barang-barang yang secara tradisional (barang-barang agro dan laut) diproduksi di negeri ini sering “dikacaukan” dengan policy impor yang berujung alasan “lebih murah”. Mengapa peran kekurangan barang tadi tidak dilimpahkan saja kepada para mantan kenshuusei yang sudah lama digembleng bekerja di Jepang. Tentu hal ini akan membuka banyak lapangan kerja baru ketimbang mengimpor yang hanya menguntungkan segelintir perusahaan. Memang langkahnya sedikit lebih “ribet” dan panjang, tapi hasilnya pasti berbeda. Saatnya kita “menggarap” potensi ini secara serius, pendampingan bisnis secara lebih terstruktur dan intens adalah salah satu jawabannya. Jangan hanya berkutat dalam hal mengirim saja, tapi juga mengurus mereka yang pulang membawa uang juga tidak kalah penting. Karena, banyak trickle down effect yang tercipta disitu.

Bukan berarti selama ini tidak ada elemen anak negeri yang “bergerak” sama sekali. Di Jepang, Mas Dodik Kurniawan dan kawan-kawan WGGT –nya (Working Group for Technology Transfer) Japan, yang tidak pernah lelah menginjeksikan semangat “Kaisha o tsukutte, sachou ni narimasu” sekembali dari Jepang kepada para teman-teman Kenshuusei. Beberapa teman yang tergabung dalam KAJI (Komunitas Alumni Jepang di Indonesia) juga mencoba menginisiasi melakukan breakthrough dengan mendirikan JIK-C (Japan Indonesia Kaizen Center) yang dibangun dengan semangat untuk itu.

Saatnya untuk bergerak maju. Sekalipun disesaki luapan berita “negatif” di tanah air yang seringkali menyiarkan “perilaku tidak terpuji” oknum-oknum di negeri ini, menjawabnya dengan langkah-langkah postitif adalah lebih utama. Tidak perlu terjebak dengan berdebat kusir yang berkepanjangan. Saatnya menginjak pedal gas dalam-dalam untuk maju.

Credit Photo : www.crossed-flag-pins.com

Previous

Mengibarkan Employer Branding Strategi

Next

Menyisipkan Gelegak Nasionalisme di Ranah Bisnis

2 Comments

  1. angga

    Ganbarimasu!!!

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén