“The Best way to predict the future is to invent it” (Alan Kay)

toyota-kijang-78 Memahat Masa Depan ala Toyota Memahat Masa Depan ala Toyota toyota kijang 781Salah satu kelihaian Toyota sebagai salah satu pemain otomotif kelas dunia disamping kehandalan menerapankan efisiensi ala Toyota yang dapat dibaca dibukunya Jeffry Liker di buku Toyota Way, menurut saya adalah kelihaian “membaca” apa yang konsumen inginkan dan harapkan. Contoh keberhasilan Toyota Kijang di Indonesia kalau merujuk sejarahnya, sempat “ditertawakan” dan diolok-olok seperti mobil “kotak sabun”, karena modelnya kala itu “tidak trendy” sama sekali ketimbang mobil-mobil lain khususnya mobil-mobil buatan Eropa dan Amerika kala itu. Tetapi sejarah mencatat mobil Toyota Kijang dan turunannya (Innova, Avanza, dll) adalah mobil dengan tingkat lakunya paling tinggi, bahkan dengan guyonan ada beberapa menyebutnya “mobil rakyat”, karena rata-rata orang mempunyai mobil tipe ini.

Beberapa minggu lalu saya mendapat kesempatan langka untuk mendengarkan salah satu pelaku penting di Toyota yang mengurusi masalah Perencanaan Toyota yang mengadakan seminar di Fakultas Ekonomi, Nagoya University. Salah poin penting yang bisa ditangkap dari obrolan sore itu adalah di perlunya seorang designer (dalam hal ini car designer) untuk tidak semata-mata mendesain sebuah mobil yang “bagus” semata, akan tetapi juga membikin mobil yang dengan sentuhan “sense of culture”.

Artinya dalam mendesain mobil, tidak sekedar aspek-aspek teknis yang membuat mobil lebih praktis, lebih murah tetapi lebih daripada adalah kemampuan untuk mengedus “budaya” orang yang membeli mobil tersebut. Bukan pekerjaan yang mudah memang membikin mobil yang kira-kira “pas” dengan “budaya” orang yang diprediksi akan memakainya. Oleh pentingnya posisi ini, Divisi Perencanaan dan Pengembangan Desain di Toyota tidak di bawah Divisi Teknik maupun di bawah Divisi Marketing dan Penjualan, tetapi langsung di bawah jajaran Dewan Direktur.

Kelihaian untuk mengikuti “sense of culture” orang yang berbeda dan selalu berubah merupakan tantangan terberat yang harus bisa diatasi, oleh karenanya tuntutan akan peka terhadap perubahan ini adalah hal utama. Ada beberapa tips menarik agar dalam mendesain mobil itu ketika dilempar ke pasar akan diminati pembeli:

Pertama, selalu peka, mendengar semua keinginan para konsumen untuk diobservasi satu persatu untuk kemudian diambil intisarinya yang kemudian diterjemahankan dalam sebuah konsep. Terkadang problem dalam mendesain mobil (barangkali juga produk lain) adalah mendesain mobil dengan “kacamata” dan “pola budaya” serta minat para designer, bukan keinginan konsumen itu sendiri. Ini yang perlu dijaga, kadang ego untuk membikin desain seperti yang membikin produk yang kelihatannya hebat dan canggih, tapi akan “keok” di pasar. Misalnya untuk kategori mobil jenis sport, keinginan terbesar para konsumen akan stabilitas ketika dalam kecepatan tinggi (stability in high speed) serta kenyamanan serta keamanan (comfortable and safety) menjadi hal utama, maka tidak perlu pusing-pusing memikirkan efisiensi bahan bakar untuk desain mobil ini, karena para pembelinya tidak pernah aware akan hal ini. Jadi adalah hal penting mendesain sebuah mobil berdasarkan customer prespective, karena merekalah pengguna serta pembelinya, bukan designernya.

Kedua, perlu disadari bahwa bisnis otomotif sekarang tidak sekedar perlombaan untuk mempertontonkan kecanggihan serta kehebatan mobil semata tetapi berkaitan dengan budaya dan gaya hidup, istilah Toyota-nya adalah Jidosha Bunka (自動車文化). Seperti orang yang menyesaki dan memadati perlombaan Formula F-1 di sirkuit-sirkuit ternama dunia apakah itu sekedar mempelototi mobil-mobil bagus semata? Tentu saja tidak, itu sudah menjadi sebuah budaya, yang disebut sebagai di atas tadi. Oleh karenanya mengajak seluruh komponen yang ada di industry mobil untuk mengerahkan daya upayanya untuk cermat membaca budaya ini. Artinya mengajak seluruh komponen yang ada dalam “budaya mobil” untuk ikut menyemai dari level konsep. Jadi mengikutsertakan pelanggan sampai supplier untuk memahami hal ini penting. Maka jangan heran kalau sekarang ada banyak gathering yang mengundang para pengguna mobil yang menjajal mobil sambil diajak bersantap makan hanya untuk diminta komentarnya dan insight-nya tentang konsep mobil yang dimaui, atau mengundang para wartawan langsung ke pabrik mobil untuk melihat sendiri sekilas proses pembuatan mobil merupakan sebuah lanskap dari Jidosha bunka tadi.

Saat ini memang bukan lagi jamannya Toyota Kijang Kotak Sabun di era 80 dimana Toyota mampu mengalahkan para pesaingnya yang dengan cerdik memahami bahwa konsumen Indonesia yang masih kuat ikatan “extended family” lebih membutuhkan mobil yang bisa mengangkut banyak orang sehingga walaupun bentuknya “lempeng-lempeng” saja, mampu memikat pembelinya kala itu. Tetapi itu dulu, akankah Toyota berhasil memenangkan peperangan bisnis mobil di era Jidosha Bunka ini ? Akankan Toyota juga berhasil di level mobil mewah sekelas BMW dan Mercy ? Mari kita lihat bersama-sama……