Melongok Sejenak Pola Asuh ala Jepang

Melongok Sejenak Pola Asuh ala Jepang Melongok Sejenak Pola Asuh ala Jepang hoikuen g3blog

Di suatu jalan-jalan pagi di Komplek dekat rumah kami, melintas di depan saya seorang ibu dengan wajah penuh amarah sedang “memarahi” seorang putranya yang berumur sekitar 4-5 tahun. “Bego ! kan sudah dibilang erat-erat, jangan sampai jatuh!”, hardik Ibu tadi kepada anaknya dengan mata mendelik. Menyaksikan pemandangan itu, saya hanya bisa menduga-duga apa sebenarnya barang yang terjatuh, sehingga Ibu tadi memaki anaknya sedemikian rupa. Anak kurus kecil itu hanya bisa menunduk dengan tetap menangis sambil mengikuti langkah panjang ibunya yang berjalan di sisinya. “Duuuh Diam !berhenti menangisnya, berisik tau !”, cocor Ibu tadi sambil menjewer anak laki-laki tadi. Tangisannya pun makin meledak. “Mahal tau, makanya jangan lari-lari”, ujar Ibu tadi ketus. Pembicaraan terputus karena saya kita berbeda arah di sebuah belokan. Wah kalo ada anak melakukan kesalahan “dihakimi” seperti itu, dugaan saya sisi “kreativitas” bakalan terluka dan tidak berkembang maksimal, pikir saya sambil memandang iba dari kejauhan anak tadi.

Hujan kemarahan Ibu dan anak yang melintas tadi membuat ingatan saya melayang sejenak akan “pola asuh” yang diterapkan di Negeri Sakura. Kala itu kebetulan saya dan istri sama-sama mengambil sekolah disana, putra pertama kami kami titipkan di hoikuen (semacam nursery school/penitipan anak) di dekat apartemen deket kami tinggal di pagi hari, lalu sorenya kami jemput. Masa penitipkan anak yang juga kebetulan dekat dengan sekolah TK dan SD saya sedikit banyak mengenal pola asuh di Jepang. Di Negeri matahari terbit ini, para guru dan juga orang tua terkesan mudah untuk member “pujian” kepada anak didiknya, bahkan pujiannya terkesan “royal”. Kata-kata seperti subarashii (hebat), erai (pintar/cekatan), yoku dekimashita (benar-benar melakukan dengan baik) merupakan kosa kata yang sering mendarat di telinga ketika kita memasuki area –area dekat sekolah disana.

Pernah suatu ketika anak saya mulai bisa menghabiskan makan siangnya untuk pertama kali, pujian dari guru yang mengasuh anak saya ketika saya menjemput bak pujian untuk seorang atlit sprinter 100 m yang memecahkan rekor. “Kei-chan ha kyou ga erai desu. Chuushoku ha yoku tabemashita”, ujar Sachiko Seki-sensei dengan mata berbinar-binar, tulus dan jauh dari basi-basi. Arti bebasnya,” Hari ini Kei-chan (nama anak saya) sungguh hebat. Makan siangnya hari ini dihabiskan “. Agaknya setiap progres kecil ke depan sangatlah diapresiasi. Ini belum termasuk pujian dalam laporan tertulis harian yang saya baca dari pihak hoikuen. Penuh warna-warni apresiasi.

Sebuah hasil riset yang pernah saya baca berkenaan dengan perihal “pujian” di Jepang. Murid sekolah di Jepang mengaku rata-rata mendapatkan “pujian” cukup sering dari orang tuanya maupun gurunya. Dari riset itu terungkap anak-anak yang sering mendapatkan pujian mengaku lebih termotivasi untuk lebih banyak melakukan kebaikan dan hal yang kreatif. Sebaliknya mereka yang jarang dan tidak mendapatkan pujian mengaku tidak tahu apa yang mereka lakukan dan tidak merasa yakin (kurang percaya diri).

Apa hubungan pujian dan kreativitas dibahas di Blog manuver Bisnis? Jawabannya sederhana, di arena persaingan bisnis yang kian mengetat, salah satu unsur penting memenangkan “perang bisnis” baik kekinian maupun di masa depan ditentukan pada unsur “kreativitas”. Rasa-rasanya agak sulit melahirkan orang kreatif dan pebisnis tangguh seperti Soiichiro Honda (Pendiri Honda) atau Sakichi Toyoda (Pendiri Toyota) kalau melakukan kesalahan “sedikit” saja disemprot habis-habisan seperti kejadian Ibu yang melintas di suatu pagi tadi. Alih-alih kreativitas-nya berkembang baik, saya menduga pada tingkatan tertentu, mental anak kecil tadi bakal mengkeret kreativitasnya karena lebih takut dimarahi. Sehingga bisa jadi suatu saat anak kecil mempunyai pemikiran untuk “tidak kreatif” untuk menghindari agar tidak dimarahi ibunya (cenderung bersikap “safety Player”), sebuah sikap yang tidak mencerminkan sikap pro-bisnis.

Kei-chan, mata ashita ne”, kata Seki-sensei sambil melambaikan tangan dan senyuman yang hangat, ketika saya menjemput anak saya di suatu sore. “Ashita ga mata ganbatte kudasai”, ujarnya penuh support (Besok kembali bersemangat ya). Terkadang saya kangen akan atmosfer itu.

Tulisan ini didedikasikan juga untuk Ibu Sachiko Seki yang memberikan “bantuan yang sangat bernilai” ketika anak saya dititipkan di sana. “Ware-ware ga musuko ga iro-iroto osewa ni nari nanto orei wo moushiagete yoi yara wakarimasen.”

Credit Photo: g3blog@flickr.com

Previous

Menghindari Jebakan Aset Tetap

Next

Menyimak Manuver Bisnis Nexian

4 Comments

  1. Halo mas Donny,

    saya sangat setuju (untuk kesekian kalinya) akan hal ini. Saya tidak tahu mengapa sangat mudah untuk orang kita melihat hanya yang jeleknya saja. Sangat susah rasanya untuk membuka mata dan melihat hal-hal di luar yang ingin kita lihat saja. Sangat mudah untuk mencari-cari kesalahan orang tanpa memperdulikan sisi-sisi yang tidak terlihat ketika orang tersebut melakukan hal yang patut dipuji

    Kalaupun terlihat yang positif, susaaaaahhh sekali untuk orang kita memberikan pujian yang sepadan.. boro-boro pujian melimpah.

    Dan betul sekali pernyataan bahwa pujian memfasilitasi kreativitas. Dengan pujian orang tidak takut salah. Dan kreativitas tumbuh dan berkembang dari kegiatan yang biasanya berawal dari coba-coba.. kegiatan dengan kemungkinan gagal yang sangat tinggi. Tetapi ketika insight diberikan kesempatan oleh coba-coba, lahirnya sesuatu yang baru dari kreativitas tersebut.

    Tapi gimana berani coba-coba kalau salah sedikit sudah dimarahi

    Orang tua sudah terlalu terpaku akan 1 mindset yang orthodox karena seumur hidupnya ya mereka begitu-begitu saja. Tidak mencoba untuk merubah suatu paradigm yang lama dan hanya mengikuti “tradisi” yang sudah bau dan lapuk. Karenanya mereka tidak bisa melihat dari kacamata anak yang lebih pure, yang masih belum terbentuk secara definitif, yang cognitive processingnya masih maleable dan fluid.

    • @Pandu : Mas Pandu, ini memang realitas, terkadang mentalitas bangsa kita terlihat “rapuh” karena tidak mendapat asupan support yang memadai dari orang tua maupun lingkungan sekitarnya (guru, handai taulan). Secara kapasitas, bangsa kita gak kalah kok….saya yakin sekali pegalaman Mas pandu sekolah di Toronto bakalan bercerita hampir sama. Tapi dari segi mentalitas, terkadang perasaan “inferiority Complex” lebih mendominasi. Mental ini disumbang kebiasaan “memaki atau memarahi” anak sejak kecil yang menyebabkan “mental juara” tereduksi Mas…..ini yang saya sayangkan…..kebetulan kok lihat anak dimarahi dekat rumah….jadi pingin mengingatkan pentingnya pola asuh yang baik dan benar agar anak “survive” bersaing di era persaingan yang lebih mengetat….thank you for your insightful comment, I do appreciate Mas…..Keep sharing

  2. wb2tbh Excellent article, I will take note. Many thanks for the story!

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén