Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya

Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya japanese smes

Dulu saya punya teman magang di Jepang dari Indonesia. Dia sering bercerita tentang perusahaan dimana dia menghabiskan magangnya. Perusahaan Jepang yang kebetulan menjadi tempat magang bukanlah sebuah perusahaan besar, tetapi lebih mirip “perusahaan keluarga”. Karena di dalam perusahaan itu cuma ada 4 orang saja. Pimpinan perusahaan (yang sering dia panggil Sachou), istri pimpinan yang ikut kerja disitu (yang sering dipanggil Okusan), serta satu pegawai berkebangsaan Jepang dan teman saya itu sendiri. Bisnis utama perusahaan tersebut berbasis pada industri bubut yang memproduksi 1-5 item barang “itu-itu saja” yang setelah selesai akan di-packing lalu dikirim ke perusahaan yang sedikit besar yang akan merangkainya item-item barang tadi menjadi produk yang lebih besar. Tapi perusahaan kecil tadi mampu hidup bertahun-tahun lamanya.

Teman magang saya sering bercerita, meskipun perusahaan kecil, permintaan produksi nyaris tidak pernah berhenti. Terkadang dia dilanda kebosanan karena dia sudah “setengah hapal” item-item barang yang yang diproduksi, karena ya hanya barang-barang itu saja yang dibikin. Tapi jangan ditanya tentang “kecukupan kehidupan perusahaan itu”, menurut cerita teman saya, acara plesir keluar negeri 1-2 kali setahun itu rutin. Kalau kebutuhan tersier main ke luar negeri saja terpenuhi, saya yakin kebutuhan primer yang didapat melewati jauh di atas ambang sejahtera. Dan kebetulan tipe perusahaan mungil yang pasukannya bisa dihitung dengan jari di sekitar daerah itu cukup banyak, ada puluhan perusahaan semacam itu yang eksis dan hidup di Jepang.

Kasus Jepang menurut saya, merupakan sebuah kasus yang hampir semua pakar bisnis dan manajemen mengakui ada “kemesraan” yang sedemikian erat antara pemerintah sebagai regulator (pembuat peraturan ) dengan perusahaan swasta-nya dimana kemesraan yang sama tidak terjadi di Negara lain. Dari pengamatan ringan di atas menujukkan, betapa perusahaan kecil yang jumlah ribuan di Jepang bisa “hidup”. Sementara perusahaan-perusahaan besar dan menengah diatur untuk tidak membuat sebuah produk dimana perusahaan kecil (SME=Small and Medium Enterprise) sudah membuatnya. Jadi tercipta sebuah piramida yang saling berhubungan dan menguntungkan dimana perusahaan kecil akhirnya menjadi tempat outsourcing perusahaan-perusahaan menengah, sementara perusahaan-perusahaan menengah menjadi tempat perusahaan outsourcing perusahan-perusahaan besar. Jadi ada pemilihan tegas yang diatur pemerintah Jepang, sehingga ada kebutuhan yang saling berkelindan di antara perusahaan kecil, menengah dan besar.

Sementara mengamati strategi industry di Indonesia, blue print-nya agak tumpang tindih—untuk tidak mengatakan carut marut. Contoh paling mudah dijadikan contoh adalah sektor otomotif. Kalau Anda cermat mengamati dari hulu sampai hilir hampir dapat dikatakan “pemainnya” itu-itu saja. Kalau toh tidak sepenuhnya, beberapa perusahaan penyuplai kecil ke menengah, atau menengah ke besar rata-rata “mempunyai hubungan”, baik hubungan sebagai anak perusahaan maupun kepemilikan sahamnya tumpang tindih (satu grup/orang yang sama). Singkat kata, uang yang berputar di sektor itu, hanya “berlari-lari kecil “ di satu dua grup perusahaan yang sama. Ini yang berbahaya dan tidak sehat secara makro. Di kasus Jepang para penyuplai antar perusahaan kecil-menengah-besar dilarang punya hubungan (satu group). Harapannya jelas, akan tercipta distribusi pendapatan.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkilik-kilik serta mengobarkan kedengkian serta iri hati kepada Negara Jepang, tetapi kita perlu belajar kepada Jepang bagaimana mereka membangun policy relasi hubungan perusahaan kecil-menengah-besar yang baik. Sehingga perusahaan kecil tempat teman saya magang yang kru-nya cuma 4 orang (sudah termasuk bos dan istri bos) bisa survive meskipun item pekerjaan yang dikerjakan itu-itu saja. Saya melihat banyak untuk kasus di Indonesia karena tidak diatur dengan jelas, banyak perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di Indonesia gulung tikar, karena perusahaan-perusahaan besar dengan alasan efisiensi membikin anak perusahaan sendiri untuk membuat item-item komponen kecil yang seharusnya menjadi “jatah” perusahaan yang lebih kecil. Ini sama saja ibarat orang bikin tes untuk level anak SMU, tapi lulusan perguruan tinggi dibolehkan ikut tes. Sudah pasti yang ikut dari level SMU yang tersingkir kecenderungannya akan besar jumlahnya, karena tingkat persaiangannya bukan apple to apple lagi.

Ini yang terjadi di negeri kita. Sehingga strategi industri kita seakan tidak punya blue print yang jelas, kacau, hanya menyisakan perusahaan yang kuat saja yang bisa bediri tegak. Perusahaan yang tidak didukung permodalan kuat pasti rontok. Yang kuat menelan yang lemah, persis di belantara rimba. Kalau sudah seperti ini, lahirnya perusahaan kecil dan menengah yang kuat dan solid di negeri ini akan menjadi mimpi belaka.

Sekedar mengingatkan, bicara tentang keberhasilan korporasi besar di Jepang tidak hanya membicarakan Toyota, Honda, Sony semata. Tetapi ribuan perusahaan kecil dan menengah yang membuat komponen-komponen kecil, termasuk sekerup-sekerup kecil untuk perusahaan-perusahaan besar. Tetapi dengan itu, distribusi pendapatan antara yang besar, menengah dan kecil tidak terlalu njomplang.

Menyulut rasa iri atas keberhasilan orang lain hanya akan melahirkan bara kedengkian dan kebencian. Tetapi mencoba mencontoh perbuatan baik yang pernah dilakukan orang lain, agar kita juga “ketularan” akibat baiknya, merupakan hal yang mulia. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa mengapa konstelasi industri kecil dan menengah kita agak lambat beringsut maju. Tetapi berani mengakui kesalahan kebijakan yang terjadi di masa lalu dan memutuskan untuk meniru yang sudah terbukti berhasil melakukan bukanlah sebuah aib. Jangan malu melirik bagaimana Jepang membangun konstelasi perusahaan kecil dan menengah mereka…..yakinlah kita juga bisa !!

Credit Photo : www.vccinews.com

Previous

Cross Culture Understanding Dalam Bisnis

Next

Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan

10 Comments

  1. pelajaran berharga mas, namun indonesia tetap indonesia. Sisa-sisa feodalisme masih begitu kentara. Tak hanya dalam kehidupan politik tetapi dalam kehidupan ekonomi, sehingga konglomerasi usaha dan itu-itu saja yang bermain tanpa membantu membuat jalan atau mempersilahkan jalan bagi yang lain untuk bermain bersama-sama. Tumbuh bersama.

    • @Emdeje : Sebuah concern yang saya rasakan yang perlu di-share, agar tumbuh kesadaran bersamanya. Akan makan waktu lebih lama…tapi setidaknya beringsut maju. Terima kasih berkenan mampir 🙂

  2. Latif

    Saya yakin, cita2 luhur kita spt yg penulis tuangkan, baru akan terealisasi setelah para tetua kita menyatu dengan tanah, dan para pemuda yang saat ini bersemangat untuk menciptakan kesejahteraan yang merata serta idealis yang nanti akan muncul dipermukaan. Semoga kematian para tetua yang ga tau sopan santun dalam mensejahterakan rakyatnya bisa disegerakan, karena selama mereka masih bercokol di kursi empuk nan panas itu, akan sangat sulit utk merubah indonesia. Optimis tetap ada, hanya kalau boleh meminta skl lg, percepatlah mereka2 yg berdasi namun bermental tikus yg duduk di singgasana pemerintahan utk di kebumikan. Sukses utk kita semua pemuda bangsa yg berhati mulia…

    • sri hidayati

      alhamdullilah utk banyak pemuda ..anak muda saat ini yg telah berani menjadi entrepreneur..dan saya salut utk anak muda ,mungkin termasuk anak2 saya yg pola berfikirnya jauh dari dendam dan dengki..sehingga mereka mudah utk berfikir jernih ….mungkin ini saat nya anak muda utk memimpin bangsa ini..semoga perilaku2 pemimpin masa lalu d negara ini tidak banyak membekas …krn era globalisasi banyak memberi pelajaran bagi mereka…kesan yg saya baca dari perilaku bangsa Jepang adalah kejujuran yg luar biasa dalam berkarya..mereka saling menghargai…salut..

      • @Latif @Sri : Tetap berpikiran positif dan memacu diri sendiri dan lingkungan kecil kita untuk maju ke depan, jangan sampai aroma pesimisme menggelayuti kita…..

  3. Indra

    Saya kira pemerintah kita memang belum punya konsep dalam membangun. Semua dilihat hanya dari angka-angka sesaat saja, tidak pernah dengan visi jangka panjang. Di Swiss jumlah dan sebaran barber shop saja diatur.Di Indonesia yg serba latah, semua orang bisa melakukan apa saja mengikuti yg sedang trendy. Kita memang lebih liberal daripada negara liberal. Kalaupun ada aturan, kita selalu tidak taat aturan, apalagi hukum dan undang-undang selalu bisa dijinakkan. Biasanya kalau regulator juga sudah ikut bermain, maka aturan sudah tidak efektif lagi. Dulu bisnis Wartel sangat menarik. Karena banyak peminat, dibuatlah aturan bahwa jarak terdekat antar-Wartel adalah 500 meter. Aturan dilanggar terutama staf regulator dan operator ikut berbisnis. Kita bisa menemukan banyak Wartel yg sangat berdekatan, terutama di daerah perumahan. Over supply, padahal pasarnya itu-itu saja. Akhirnya bisnis Wartel mati prematur, bukan karena perkembangan teknologi, tapi karena aturan yg ditabrak. Masih banyak contoh lainnya yg menyebabkan investasi rakyat kecil & menengah terbuang begitu saja.

    • @Indra : Harus diakui blue print pengembangan industri kecil dan menengah kita masih belum solid, padahal negara yang kuat ditentukan kuatnya perusahaan kecil dan menengahnya bukan semata perusahaan besarnya saja. Semoga tulisan ringan di blog ini sempat dibaca para pembuat keputusan.

  4. Lia

    Tapi, kondisi SME di Jepang ternyata masih di bawah negara-negara maju lainnya. Kalau tertarik untuk membaca mengenai kondisi SME di Jepang, report ini mungkin menarik untuk dibaca:
    http://www.businessresearch.eiu.com/sites/businessresearch.eiu.com/files/EIU_Microsoft_JapanSMEs_FINAL-WEB.pdf

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén