Marketing Getok Tular dan Budaya Lisan

Marketing Getok Tular dan Budaya Lisan Marketing Getok Tular dan Budaya Lisan mouth iamdogsmom

Gue rencana mau ganti hape nih, udah jadul dan lelet neeh…”, ujar Tika saat chatting sama temannya. “Lu, kemarin beli hape merek XX dengan tipe 123 yang kemarin Lu beli OK gak?” sambungnya minta rekomendasi. “Wah, hape itu Ok banget coy…..buat aku yang selalu up-date status di FB, hape tipe merek kayak gini, gue jamin ok banget dah”, ujar Mirna tanpa bermaksud berpromosi. “Ntar kalo mau beli hape tipe itu, gue temenin deh.” Barangkali cuplikan obrolan semacam ini, acapkali hadir di sekitar kita. Pernahkah Anda melakukan hal sama ketika akan membeli sebuah barang atau berencana menggunakan jasa perusahaan tertentu kepada kolega Anda? Apakah rekomendasi teman atau kolega Anda berpengaruh terhadap keputusan pembelian yang akan Anda eksekusi?

Kalau Anda menganggukan kepala atas dua pertanyaan di atas, itu adalah sangat wajar. Menurut survey yang dikeluarkan oleh perusahaan konsultan kenamaan McKinsey baru-baru ini yang saya dapatkan dari internet menunjukkan bahwa rekomendasi pembelian dari orang yang dikenal memberikan kemungkinan yang lebih besar 50 kali lebih banyak ketimbang orang yang tidak dikenal. Ini membuktikan bahwa peran marketing getok tular atau dalam terminology pemasaran sering disebut Word of mouth marketing (WOMM) merupakan pendekatan bisnis yang perlu dicermati, utamanya oleh para produsen. Dalam tulisan bertajuk A New Way to Measure Word of Mouth Marketing, besutan Bughin, Doogan dan Vetvik yang dimuat dalam McKinsey Quarterly, mereka menandaskan “Indeed, word of mouth is the primary factor behind 20 to 50 percent off all purchasing. Its influence is greatest when consumers are buying a product are relatively expensive.”

Dugaan saya, di kultur kita, efeknya bisa lebih besar daripada riset yang dilacak tim dari McKinsey di atas. Pasalnya kultur budaya lisan di Republik ini lebih dominan ketimbang budaya baca (riset, observasi). Sudah menjadi rahasia umum, sebagian konsumen Indonesia Lebih bisa “menikmati” berkomunikasi dengan lisan. Acara TV yang berbau “ngobrol-ngobrol” lebih disukai ketimbang aktivitas berbau riset, penelitian yang terkadang didera “kondisi sepi-senyap”. So, kalo Anda seorang produsen atau marketer yang ingin produk Anda laris manis, apa yang bisa dikail dari riset McKinsey di atas ?

Pertama, temukan para jubir atau juru bicara (istilah marketingnya “talker”) yang ada dalam komunitas-komunitas yang sekarang marak dan tersegmentasi cukup banyak mulai hari grup kesamaan hobi, kesamaan profesi sampai grup komunitas pengguna produk tertentu. Memang tidak mudah menemukan jubir yang berpengaruh yang bisa menjadi Mirna dalam merekomendasikan produk hape ke Tika yang saya contohkan di atas. Di setiap komunitas pasti ada “orang-orang berpengaruh” yang berkualifikasi menjadi jubir, yang rekomendasi serta sarannya bakal diikuti dan ditunggu anggota komunitasnya. Misalnya kalau mau mencari komunitas pemerhati bisnis dan manajemen, barangkali pengasuh blog Manuver Bisnis yang satu ini perlu dipertimbangkan sebagai jubir…..heheheheheh 

Kedua, mulai “mengurus” dengan seksama para konsumen yang melayangkan apresiasi, pujian, sokongan kepada produk atau jasa yang Anda miliki. Sudah menjadi rahasia umum, terkadang perusahaan lebih “sibuk” mengurusi beragam kritikan, posting-an di dunia maya bernarasi negatif ketimbang yang positif. Terkadang, BOD (Board of Directors) sampai ikut cawe-cawe. Bukan berarti narasi negatif tersebut diatas tidak ditangani, tetapi acapkali apresiasi positif yang dilayangkan terkadang tidak mendapat porsi perlakuan seimbang seperti datangnya kritikan dan ketidakpuasan yang muncul. Sehingga para pengapresiasi positif ini “tenggelam” oleh deretan dis-satisfaction people yang terkadang jumlahnya tidak sebanyak orang-orang yang mengapresiasi postif tadi. Percayalah kita tidak dapat memuaskan semua orang. Mulai-lah memperhatikan deretan orang-orang yang mulai mengapresiasi produk Anda. Disamping itu, fokus dan fasilitasi mereka, niscaya mereka akan menjadi pembeli fanatik barang atau jasa Anda. Mereka akan dengan senang hati mengiklankan produk dan jasa Anda ke orang lain.

Jadi tunggu apa lagi, temukan jubir produk dan jasa Anda….marketing getok tular di masyarakat dengan budaya lisan dominan itu perlu. Kan lebih mudah bukan menjualnya, kalo produk atau jasa kita sudah menjadi bahan obrolan dan bahan pembicaraan dimana-mana?

Credit Photo : iamdogsmom@flikcr.com

Previous

Kutil dan BMW

Next

Berkongsi atau Bisnis Sendiri ?

2 Comments

  1. donny firo 93

    sekedar melanjutkan amanah dari kang Donny untuk menambahkan dengan contoh di lapangannya

    Tulisan yang sangat bagus.
    Saya coba menerjemahkan dengan contoh yang sedang berlangsung di Indonesia.

    Anda sebenarnya adalah brand ambasador yang paling efektif bagi sebuah brand. Seperti yang dituliskan Kang Donny bahwa getol tular adalah cara yang sangat efektif.
    Maka itu, sekarang brand berlomba-lomba untuk mendekati dan membuat anda jatuh cinta dengan brand tersebut.

    Bagi anda yg cinta dengan sebuah brand, anda tidak akan ragu untuk menceritakan kehebatan brand tersebut kepada orang lain bukan?

    Cara ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh sebuah company multibrand yaitu unilever.
    Salah satu contohnya adalah pepsodent yg skrg sdg membuat activation yg mengajak anda-anda membuat tulisan ttg bagaimana trik anda mengajak sikat gigi anak anda tentunya dengan pepsodent.

    Activation yang lain ada pada shampo, sabun, dan lain-lain.

    Sedikit trik bagi anda pemilik brand yang masih kecil, endorsment merupakan cara yang lumayan efektif untuk mendongkrak brand awareness anda. Band-band indie, pelajar teladan, pembalap lokal,dll bisa anda jadikan rekan simbiosis mutualisme anda.

    Oh iya, jangan dikira activation ini hanya untuk dewasa dan remaja, waktu sekarang ini bahkan sudah dalam kandunganpun anak sudah dicekokin suatu brand lewat ibunya dengan produk susu ibu hamil yang kemudian dilanjutkan masa kelahiran adalah susu formulanya.

    Bebebola (bebelac) adalah salah satu contoh rangkaian brainwash dari kecil terhadap suatu brand yang nantinya akan berlanjut ke susu diatasnya yang masih 1 company dengan bebelac (saya lupa namanya).

    Dan 1 lagi, honda melakukannya dengan sempurna dengan Asimo nya. Jangan heran jika sekarang anak anda tergila-gila dengan asimo, besok pas smp mintanya motor honda, pas punya duit serndiri ya belinya mobil honda.

    Pesan dari saya, cerdaslah dalam memilih dan menguntungkan bagi kita. Jangan cuma mau dijadiin corong bagi mereka sementara kita ngga dapet apa-apa.

    Terakhir ocehan saya adalah, tujuan utama yang akan dicapai semua brand adalah LOVEMARKS ato boso gampange NIKAH!
    Begitu anda jatuh cinta thdp suatu produk, maka disitulah akhir dari semua perjuangan brand tersebut heheheh….
    (Demikian pula saya terhadap beberapa brand)

    Segini aja yah tambahannya. Maaf jika banyak kesalahan, maklum saya cuma pengamat industri marketing saja dengan sekolah yang cuma pas-pasan hehheeh….
    Masih lebih banyak jagoan marketing disini cuma ngga pada muncul aja :d

    Donny

    • @ Donny : Wah terima kasih Mas Donny (wah namanya kebetulan sama nih) atas ulasannnya yang cukup detail, kalau semua pembaca blog Manuver Bisnis yang Terhormat berkenan membuat ulasan tajam seperti ini, dugaan/hipotesa kalau budaya lisan lebih kuat akan “runtuh” dong..hehhehehe…ditunggu Mas Donny ulasan-ulasan selanjutnya di tulisan-tulisan yang lain….

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén