Mantra Dahsyat itu Disebut : Mimpi Positif !

Mantra Dahsyat itu Disebut : Mimpi Positif ! Mantra Dahsyat itu Disebut : Mimpi Positif ! positivemind1

Sesuatu yang ada di dalam akalku, menguasai pikiranku, hidup di hatiku dan mengalir bersama sel-sel darahku harus keluar menjadi nyata dalam kehidupan (Louis Braille, penemu huruf Braille untuk orang tuna netra).

Mengobrol dan bercengkrama dengan teman yang satu ini memang berbeda. Seakan selalu ada energi positif yang datang menular saat berbincang dengannya. Terkadang saya melongo dan terkaget-kaget membaca alur frame of thinking beliau ketika melakukan sharing dan brainstorming bareng, saya pikir bukan pemikiran yang “biasa-biasa saja”.

Salah satu episode perbincangan yang menarik adalah, ketika di suatu acara pertemuan, beliau memperlihatkan kepada saya sepucuk kartu namanya yang sudah “lusuh” dibaliknya ada tulisan kabur dengan goresan pulpen yang nyaris tidak terbaca, menandakan tulisan di belakang kartu nama tersebut sudah ditulis dalam jangka waktu lama, dan terselip lama di dalam dompetnya. Tapi samar-samar saya masih bisa membacanya. Di situ tertulis “ 08.03.18.Saya kaya, bahagia, punya yayasan dan punya perusahaan —> Direktur ”. “Apa maknanya Mas?” tanya saya dengan mimik ingin tahu.

Dengan tenang, beliau bercerita, beberapa tahun sebelum beliau menjabat posisi itu tepatnya tanggal 18 Maret 2008, beliau menulis menargetkan posisi itu dan menuliskannya di dompet, menjadi direktur ditargetkan di tahun 2014. “Mengapa harus disimpan di dompet?” tanya saya semakin ingin tahu. “Sederhana, karena hampir setiap hari saya membuka dompet, setiap kali membuka dompet itu, tulisan itu selalu mengingatkan akan mimpi saya itu”, jawabnya kalem. Saya mendahem tanda mengerti walaupun diantara riuhnya pertemuan itu, saya mencoba mencerna makna obrolan singkat tadi. Tapi yang pasti, sebagian mimpi rekan saya tadi sudah dicapai, sebelum tahun 2014, tepatnya di tahun 2009, Beliau, Sigit Widodo sudah menggenggam singgasana sebagai direktur di PT.Fukusuke Kogyo Indonesia, sebuah perusahaan yang core business-nya di industri plastik. Takjub habis.

Tidak banyak orang kayak Mas Sigit di negeri ini yang berani bermimpi dan berpikir positif. Malahan, seringkali saya sering ketemu orang yang berkata “Itu tidak mungkin”, “Terlalu tinggi untuk saya” atau “Saya begini saja sudah senang dan puas”. Kalimat-kalimat senada yang “membatasi” potensi diri acapkali masih mendominasi. Sehingga pernah ada seorang peneliti di TV menyebut “inferiority complex” yang mendera kebanyakan orang di Republik ini seringkali mendominasi, sehingga “bermimpi berbeda” saja takut.

Menyimak fenomena di atas, saya jadi ingat buku best seller milik Dr. Ibrahim Elfiki berjudul Quwwat Al-Tafkir, yang versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia berjudul Terapi Berpikir Positif. Dr. Elfiki adalah pendiri The Canadian Training Center of Human Development (CTCDH) dan The Canadian Training Center of NLP (CTCNLP) yang berpusat di Kota Quebec, Kanada dan telah melatih seminar lebih dari 700.000 orang dalam tiga bahasa : Inggris, Perancis dan Arab. Beliau meneliti tentang dahsyatnya kekuatan pikiran manusia. Keputusan yang kuat dengan mengulang-mengulang target yang hendak direngkuh seperti yang dilakukan oleh Mas Sigit adalah salah satu strategi berpikir positif yang direkomendasikan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Sedangkan kalimat-kalimat “menegasikan” yang diucapkan oleh indera lidah kita seperti kata-kata di atas, “saya tidak bisa” atau “itu tidak mungkin”, secara tidak langsung ucapan itu akan terkoneksi ke alam pikir. Hal itu pada taraf tertentu, apalagi sering diulang-ulang ucapannya akan menjadikan hal itu benar-benar terjadi. Artinya Anda benar-benar tidak bisa atau tidak mampu. Kecenderungan ini dinamakan sebaliknya, yakni “berpikir negatif”. Celakanya seperti yang sebut di atas, inferiority complex yang melingkupi orang Indonesia, apalagi kalau bertemu orang asing acapkali kambuh, ini menjadi sangat “merugikan”.

Apalagi kondisi kekinian dimana di setiap aspek kehidupan termasuk dalam konteks bisnis, mantra kompetisi adalah sebuah kondisi yang tidak bisa dielakkan. Membiarkan “pikiran negatif” merasuki pikiran serta meracuni perilaku kita, sama saja membiarkan kegagalan demi kegagalan selalu menghampiri. Jadi pastikan, jangan sampai simpul-simpul pikiran negatif bersemayam dalam pikiran dan mimpi kita. Haram habis hukumnya.

Bagaimana dengan Anda ? Seberapa sering pikiran negatif mampir dan membelenggu ? Ingat dalam konstelasi bisnis, dendang gendang peperangan alpa tidak ditabuh. Jadi meminjam kosa kata sebuah acara televisi : waspadalah….waspadalah terhadap pikiran negatif yang menyelinap di pikiran Anda.

To Mas Sigit Widodo : ご親切には感謝いたします。とてもいい勉強になりました

Credit Photo : www.selfimprovementmindpower.net

Previous

Mengintip Perilaku Transumers : Konsumen Masa Depan?

Next

Tawaran Telpon Menjadi CEO

3 Comments

  1. Rinaldi

    Betul sekali pak Donny

    Pertama kali saya bertemu dgn Pak Sigit, saya sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan beliau.
    Pertama kali saya berkunjung ke pabrik beliau di Fukusuke, kami ngobrol sampe lama…4 jam lamanya kalau tidak salah.

    Ada sesuatu yang membedakan beliau dengan yang lain, berpikir dan bermimpi yang positif. Bukan hanya itu saja, tapi juga diikuti oleh tindakan dan langkah yang positif.

    Karena kalau tidak, tulisan beliau hanya akan jadi jimat saja.

    Salam
    Rinaldi

  2. siska matsuyama

    Assalamualaikum,

    Sewaktu saya masih baru bkerja d fkusuke. Saya dan yg lain nya diberikan suatu m0tivasi dr pak Sigit. Saya sgt kaget. Kenapa?
    Dari perkataan kecil, bisa membawa dampak besar buat saya. Alhmdllah. Thanks to Mr. Sigit.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén