Mantan Kenshusei Mengepalai 300 Karyawan

Mantan Kenshusei Mengepalai 300 Karyawan Mantan Kenshusei Mengepalai 300 Karyawan photo dengan teguh eks kenshu1

Memenuhi “undangan” seseorang adalah hukumnya wajib, kalau memang yang diundang memang bisa mendatangi undangan tersebut. Kebetulan tempat pengundang tidak jauh dari tempat yang sambangi, saya putuskan untuk sekalian mengunjunginya. Dengan menaiki sebuah kereta yang cukup nyaman dari Stasiun Tugu, saya naik sebuah kereta Madiun Jaya, sebuah kereta api AC jurusan Jogja-Madiun yang cukup bersih dan sejuk. Kalau tidak ada celoteh obrolan beraksen Jawa dan bahasa Indonesia di situ, Suasananya, membuat saya berpikir seperti naik densha (電車-kereta api) di Jepang. Mudah-mudahan tingkat kebersihan dan keteraturan seperti ini bisa dipertahankan di perusahaan KA Indonesia.

Di Stasiun Solo Balapan, kota Solo, saya dijemput seorang yang mempunyai antusiasme dengan determinasi tinggi. “Bagaimana kabarnya Mas?”, sapanya ramah khas di depan pintu keluar stasiun. Ya, sang pemberi undangan kali ini adalah seorang pengusaha yang pernah menjadi kenshusei (研修生-pemagang) IM Japan. Pernah magang kerja di kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka. Kenshusei ini bernama Teguh, seorang pengusaha yang membawahi sebuah pabrik garment dengan pekerja sekitar 300-350 orang yang berlokasi di kota Sukoharjo, sekitar 10 Km sebelah selatan Kota Surakarta.

Lokasi pabriknya di daerah Combongan yang masih dikitari sawah-sawah hijau nan asri, Teguh sang direktur yang pernah ex Kenshusei ini menggelindingkan bisnisnya di bidang garmen. Dengan senang hati, Teguh mengajak saya “sightseeing” di pabriknya yang didominasi wanita itu. Diantara deru mesin jahit, Dia mencoba menjelaskan alur produksi di pabriknya. Dari proses “menata”-nya dan cara menempatan beberapa tim untuk melakukan QC (Quality Control), saya tahu bahwa sang direktur yang masih muda, sangat melek dan aware dengan masalah kualitas. Sebuah adagium yang tidak asing bagi para pemagang yang pernah merasakan kibishi-nya (厳しいーketat/keras) proses controlling pada manajemen produksi Jepang.  Ya, dia sepertinya menerapkan proses pembelajaran yang didapat dari belajar magang, Kaizen procedure. Tak ayal, beberapa barang yang sebenarnya salahnya “minimalis”, harus dimasukkan kotak bertulis “reject”, yang berarti harus diulang proses menjahitnya (kalau masih bisa diperbaiki). Kalau jumlah reject-nya melebihi rata-rata, sang supervisor harus menghadap dan mempertanggungjawabkan “kesalahan”-nya tersebut.

Dengan penerapan QC yang terpadu dan ketat, tak ayal banyak PO yang “dipasrahkan” di perusahaan yang dia pimpin. Ribuan order baju per bulan menunggu untuk digarap, di time chart produksi tercatat beberapa hari libur yang diharuskan  lembur untuk mengejar target pemesanan. Menariknya, tercatat beberapa merek cukup populer, ternyata dikerjakan disitu juga, sebut saja seperti Tom Taylor, Mustang, Oliver, Levis. Dan yang membuat saya “bangga”, dia tetap menyelipkan di tiap piece baju itu dengan label “made in Indonesia”. “Kita harus bangga Mas dengan produk buatan kita sendiri”, ujarnya dengan mimik serius. Membanggakan ada anak muda punya idealisme seperti ini.

Walaupun berorientasi profit, Teguh ternyata sangat memperhatikan hal-hal “remeh” bernada kemanusiaan, seperti  kondisi kesehatan anak buahnya. Di sebuah ruangan di sudut pabrik, dia menunjukkan sebuah klinik kecil yang digawangi seorang dokter dengan seorang perawat yang bertugas memeriksa keluhan kesehatan para karyawan secara cuma-cuma, termasuk obatnya. Kesehatan buat semua karyawan pabrik baginya adalah hal mendesak, terlebih biaya kesehatan di luar pabrik masih boleh dikata belum memihak orang kebanyakan, terutama karyawan pabrik. Sebuah langkah yang perlu diapresiasi dari direktur muda ini.

Sosok Teguh barangkali tidaklah banyak. Kalau mau mengamati dengan jeli, kebanyakan para jebolan magang yang kembali ke tanah air. Walaupun secara materi, uang yang dibawa cukup lumayan, banyak yang terpuruk menjadi “miskin” kembali. Barangkali ini cerita lama. Bahkan saya pernah berbincang dengan ketua IKAT-Jepang (Ikatan Alumni Trainee Jepang), Saudara Ribut pernah bertutur hanya sekitar 10-15% saja dari alumni magang Jepang yang jumlahnya kurang lebih  45.000 orang, yang berhasil dan mampu menjadi “sachou” (社長- direktur) seperti Teguh tadi.

Padahal kalau potensi alumni Jepang yang pulang ke tanah air ini digarap dengan lebih serius bukan tidak mungkin akan menjadi basis pembangunan usaha kecil dan menengah (SME’s) Indonesia yang tangguh dan kuat. Karena sebagian besar para kenshusei tersebut, di Jepang tempat magang mereka juga bukan perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga perusahaan-perusahaan kecil dan menengah Jepang. Dengan bekal magang yang ber-atmosfer relatif mirip dan skill yang memadai dari pengalaman tersebut, apalagi dari segi finansial uang yang dibawa pulang juga cukup lumayan. Kalau dikelola dengan baik, bukan hal yang mustahil akan bermunculan sentra-sentra industri kecil yang kuat yang akan membuka banyak lapangan usaha.

Insya Allah, saya pribadi akan berusaha membantu dengan sedikit apa yang saya punyai untuk rekan-rekan Kenshusei ini.  Meminjam kata-kata seorang kawan ketika rapat pelatihan untuk para kenshusei. “Kenshusei Gituuu Lhooo….pasti Bisa !!!!”

Credit Photo : Private

Previous

Agar Sense of Intrapreneur Mekar di Perusahaan

Next

Plus Minus Implementasi ERP

19 Comments

  1. Udin

    Benar mas Donny, memang teman-teman kenshusei kita harus di perdayakan agar bisa menerapkan ilmunya dari Jepang.

    Salam Udin
    Hamamatsu

  2. Sigit Widodo

    Mas Donny, apa kabar? Wah dicari-cari buat diskusi tidak muncul ternyata sedang di Solo ya? Materi yang sangat inspiratif. Semoga banyak Teguh-Teguh lain dari teman kenshusei akan juga bermunculan…..
    Salam orenoyume,
    Sigit
    http://www.orenoyume.com

    • @Sigit : Mas Sigit kabar baik….kapan ada meeting lagi….kabar-kabari ya, semoga di lain waktu bisa ikut gabung lagi…trims Mas Sigit…..

  3. Danardono

    Nice story mas!
    Tapi huruf kanji nya ada yang salah mas. Yang benar shachou “社長”.

    Salam,
    Danardono

  4. Mas Donny bagi2 ilmunya kiat sukses,saya alumni kenshusei IM baru pulang 1 bln yang lalu masih kebingungan mencari peluang usaha yang prospeknya baik untuk jangka panjang…!!!!!!!!!!!!

  5. satari

    Kang Dony,..Saya juga sangat prihatin dengan animo teman- teman yang relatif sedikit untuk berwira swasta setelah mendapatkan Ilmu dan Modal di sana,…dimohonkan ke kang dony untuk tidak segan – segannya memberikan ilmu tentang enterpreneurship ,.. karena biasanya sangatlah susah untuk memulainya ,… semoga rekan kaji lainnya bergandengan tangan untuk membantu memulai,…semoga sukses ya..

    • @Kang Satari : Wah kalau seperti ini teman-teman KAJI lainnya yang lebih “pas” lebih banyak Kang….termasuk Kang Satari 🙂 prinsipnya mari kita sama-sama teman-teman kenshusei ini bersama-sama, mudah-mudahan kalau dikerjakan bersama-sama akan lebih ringan Kang….:)

  6. burhanulfuadya

    Sempai Donny, kensushei sangat butuh wadah seperti ini untuk menjadi sachou.Tolong arahannya untuk kita(kohai-kohai) yang masih ada di negeri sakura bagaimana merencanakan suatu wira usaha setelah pulang magang selama 3 tahun dari jepang.

    yosii,gambarimashou

    • @Burhanulfuadya : Jangan panggil saya sempai lah 🙂 saya juga masih perlu banyak belajar, mari kita belajar sama-sama. Mudah-mudahan saya diberi kesempatan kembali ke Jepang untuk sedikit “berbagi” pengalaman dengan teman-teman kenshusei disana….doain saja ya 🙂

      • Burhan

        hahahhahahha,,,,,,kan saya masih magang dijepang,sedangkan mas Donny sudah berada di Indonesia kan berarti sempai saya,hhehehehehe
        tetap semangat sempai,,,,,,,,,,ditunggu kedatangannya di negeri sakura
        klo boleh tau ni alamat FB nya apa?
        yoroshiku onegaishimasu

  7. anaknegeridotcom

    Nice sharing mas Donny.
    Saya juga sebagai mantan kenshusei ikut bangga dengan kiprah mas Teguh ini.
    Keep sharing!

  8. Djaja

    Pak Donny, buat yg tdk pernah magang di Jepang, kontribusi apa yg bisa diberikan diforum spt ini?
    Kebetulan sy sdg mencoba ternak lele. Sdh 2 minggu berjalan sejak tanggal 28 april 2012 dan perkembangannya cukup signifikan. Dari ukuran 2-3 cm sejak sy beli, sekarang rata” ukurannya sdh 5-7 cm. Barangkali ada yang pernah menjadi kenshusei, yg juga tertarik dgn yg sy sdg lakukan bs share dgn sy.
    Terima kasih atas waktunya.

    Salam,
    Djaja

    • @Djaja : Share yang bagus Pak Djaja…teman-teman pembaca Blog Manuver Bisnis yang tertarik menekuni bisnis lele seperti Pak Djaja, barangkali bisa sharing dan ngobrol dengan beliau….siapa tahu bisa membikin Lela Lele dengan pendekatan yang lain 🙂

  9. Salam ganbatte semua mantan kenshusei

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén