Mandeknya Penerus Bisnis Keluarga

Mandeknya Penerus Bisnis Keluarga Mandeknya Penerus Bisnis Keluarga family business

Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan” (pepatah China).

“Mau pulang ke Indonesia setelah lulus”, tanya saya kepada seorang kawan ketika siap-siap packing bersama teman-teman menjelang graduation ceremony di kampus, sebut saja Tony. “Kayaknya enggak dulu deh”, jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. “Mungkin aku coba stay di sini dulu, cari job di sini”, ujarnya mantap. Tony ini adalah seorang teman kuliah dari Indonesia, yang keluarganya mempunyai bisnis sepatu dan sandal yang gerainya ada di mal-mal besar di Indonesia. Mungkin Anda akan mengenalinya kalau saya sebut merek sepatu tersebut. Tak lama kemudian, saya mendengar Tony ini memilih bekerja di sebuah institusi keuangan bergengsi dari Amerika di metropolitan Tokyo ketimbang berkutat memperkuat bisnis keluarganya.

Potret teman saya Tony ini tidak sendiri dan ternyata banyak menghinggapi banyak “calon penerus bisnis” yang ada, khususnya di Indonesia. Mendapat titel tinggi dari sebuah sekolah bisnis top di luar negeri, bahkan untuk kasus Tony sejak SMP sudah bermukim di luar negeri. Tak heran, saking lamanya tinggal di luar negeri terkadang ada beberapa kosa kata bahasa Indonesia yang tidak dimengertinya. Sementara keluarganya, terutama keluarga besarnya sebagai generasi pertama meraih kesuksesan bisnis di tanah air. Keluarga dari generasi pertama inilah yang sukses membangun dan menggelindingkan bisnis keluarga (family business). Sedangkan anak-anaknya disekolahkan di luar negeri, dengan harapan akan pulang menjadi penerus bisnis yang handal.

Tapi faktanya, terkadang dengan bekal titel yang mengkilap dari luar negeri, seringkali makin tidak paham dengan bisnis model yang dijalankan orang tuanya (generasi pertama). Lebih dari itu, malah ada yang memilih bekerja di perusahaan-perusahaan prestius di luar negeri.

Maka tak ayal fenomena yang dialami teman saya sejalan dengan riset Paul Karofsky yang menemukan fakta bahwa rata-rata umur perusahaan keluarga hanya 24 tahun karena peralihan antar generasi kurang berjalan mulus. Lebih mengagetkan lagi, Family Business Quarterly yang dikutip di buku Family Business, besutan A.B Susanto dkk kurang lebih 70 persen perusahaan keluarga gagal untuk meraih sukses di tangan generasi keduanya.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Kalau ditelusuri lebih lanjut, hal ini sejatinya berujung pada lemahnya rencana suksesi dalam perusahaan keluarga tersebut. Sehingga tidak jarang mengalami kemandekan. Ada beberapa kiat yang perlu dilakukan agar tongkat estafet bisnis dari generasi pertama yang sedang menguasai bisnis ke generasi kedua yang akan menerima kepemilikan tidak terjadi kemandekan

Pertama, mengenali pribadi serta minat karier yang dijadikan putera mahkota serta rencana suksesi yang jelas. Seringkali generasi pertama “gagal membaca” keinginan para penerusnya. Identifikasi apakah mereka akan mau meneruskan bisnis keluarga atau tidak ? Jangan-jangan mereka memilih untuk berkarier di sebuah perusahaan tertentu seperti yang dialami kasus teman saya di atas. Kalau memang tidak ada yang satu calon generasi kedua yang berminat harus segera diputuskan mencari professional di luar keluarga untuk itu. Karena peralihan itu butuh waktu. Kalau ada yang berminat waktu “serah terima” harus ditentukan dengan jelas. Jangan sampai suksesi dilakukan setelah yang bersangkutan meninggal dunia, itu membuat penerus suksesi terkena sindrom “Pangeran Charles Sindrom”. Jadi kalau memang sudah siap, orang tua harus segera mundur.

Kedua, business-coaching yang berkesinambungan dari generasi pertama. Seringkali karena kesibukan bisnis, generasi pertama “mempercayakan sepenuhnya” pendidikan dari luar negeri untuk itu. Sehingga pelatihan yang memadai serta pendampingan dilakukan “sekenanya” secara internal, dipikir semua pendidikan di luar negeri yang mahal itu bakal meng-cover semua aspek bisnis yang melingkupinya. Padahal, insight business yang didapat selama menerjuni bisnis terkadang tidak didapat dari bangku sekolah bisnis sehebat apapun. Sehingga pada titik ini, transformasi dari generasi pertama haruslah solid dan berkelanjutan, ditengah kesibukan mendera apapun harus disempatkan.

Bagaimana dengan Bisnis Keluarga yang Anda kelola, sudahkan menyiapkan rencana suksesi dengan baik? Barangkali contoh bagus yang perlu ditiru di konteks bisnis keluarga di Indonesia adalah tongkat estafet di dalam perusahaan PT.Mustika Ratu. Tbk yang beberapa saat lalu dari Ibu BRA Mooryati Soedibyo, pendiri sekaligus CEO pertama dari generasi pertama kepada Putri Kuswisnu Wardhani, putri keduanya di generasi kedua. Sebelum didaulat menjadi CEO Mustika Ratu, Putri sudah dipersiapkan dengan matang karena bergabung di Perusahaan Kosmetik yang berumur 37 tahun ini ini sejak 25 tahun yang lalu. Sebuah langkah perlu ditiru untuk menghindari “kemandekan” penerus bisnis.

Credit Photo : Elizabeth Albert@flickr.com

Previous

CEO Perusahaan Asing : Mengapa Tidak?

Next

Berdamai Bersama Office Politics

2 Comments

  1. Wisnu Gardjito

    Oleh karena itu, saya koq lebih memilih tidak mengembangkan Bisnis Keluarag dnegan sistem keluarga, namun lebih mengarah ke sistem usaha bersama. Artinya setiap orang dalam perusahaan merupakan pemilik usaha juga sehingga bila kelak memang tidak ada “putra/i mahkota” dari kalangan keluarga akan dapat segera diisi dari “pihak non-keluarga”. Semua merasa aman.

    • @Wisnu : Pak Wisnu, Dai-sempai yang saya hormati…terkadang karena mungkin banyak perusahaan keluarga yang berciri “aristrokrsi” masih menjadi pilihan atau dominan di Indonesia, maka mempersiapkan “putra mahkota” menjadi krusial. Barangkali untuk Perusahaan yang Pak Wisnu bangun memang lain, karena memang lebih disiapkan untuk diisi para profesional. Terima kasih Pak berkenan mampir….ikut mendoakan bisnis yang Bapak jalankan lancar…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén