Lowongan Pekerjaan itu Bernama Entrepreneur

Lowongan Pekerjaan itu Bernama Entrepreneur Lowongan Pekerjaan itu Bernama Entrepreneur queue james cridland

“Misi seorang entrepreneur adalah mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan masyarakat secara keseluruhan dari akibat-akibat kemiskinan, serta mengusahakan kesejahteraan umum. Para entrepreneur juga harus mampu berbagi rasa dalam menciptakan masyarakat yang kaya secara spiritual dan berkecukupan secara material “ (Konosuke Matsushita, pendiri Matsuhita Elektrik)

Berita tentang seminar Daya Tawar Pemuda dalam Dunia Kerja : Menghubungkan Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Kewirausahawan sempat diberitakan di Kompas 21 Januari 2010 dalam sebuah kolom kecil. Dari seminar didapat berita yang “tidak terlampau mengejutkan” bahwa berdasarkan survei angkatan kerja nasional (Sakernas) tahun 2009, mayoritas lulusan perguruan tinggi (74%) dan lulusan Sekolah Menengah Atas (64%) memutuskan menjadi karyawan, pegawai atau buruh. Hasil ini menunjukkan bahwa lulusan terdidik –terutama lulusan perguruan tinggi—rela mengganggur hanya untuk menunggu kesempatan menjadi karyawan dan pegawai apapun ketimbang mencoba terjun ke dunia usaha menjadi entrepreneur atau wirausaha (lebih lanjut baca Penggangguran Terdidik, Cak Eko dan Wirausaha di blog ini). Bahkan ada yang rela mengganggur hampir satu tahun untuk ikut tes masuk kerja ketimbang menjajal dunia usaha.

Salah satu saham penyebab mengapa para lulusan tadi “bersikap kukuh” untuk ngganggur ketimbang meretas dunia usaha adalah disumbang dari pola pengajaran terutama di perguruan tinggi yang lebih mendesain mahasiswa untuk “siap bekerja” ketimbang “membuka lapangan kerja”. Coba kita ambil contoh, cermati silabus rata-rata fakultas ekonomi yang ada di Negara kita (hampir semua universitas, dipastikan rata-rata mempunyai fakultas ekonomi dan bisnis), keahlian yang ditawarkan lebih untuk “membekali” lulusannya untuk bekerja di perusahaan bukan menitik beratkan keahlian untuk “membangun” imperium bisnis sendiri. Mata kuliah di Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran yang diajarkan mengasumsikan seakan-akan kita dipersiapkan untuk masuk sebuah perusahaan yang infrastrukturnya mapan dan di dalammya kita tinggal mengaplikasikan SOP (Standard Operational Procedure) yang diterapkan. Pelajaran yang menitikberatkan bagaimana mulai membangun usaha dari infrakstruktur yang minim, mencari celah kesempatan, membangun tradisi mandiri ulet nan tahan banting dapat dipastikan kurikulumnya minim dan jarang dibahas.

Kondisi silabus yang mengarah hanya pada “kesiapan” bekerja di perusahaan tersebut diperparah oleh mind set dari universitas yang lebih menghargai alumni-nya dengan asumsi alumni punya posisi di sebuah perusahaan multinasional /nasional tertentu atau bekerja menjadi “pejabat” di perusahaan pemerintah misalnya, ketimbang meretas usaha menjadi wirausaha. Di edisi majalah Swa baru-baru lalu menampilkan rangking sekolah Magister Ekonomi (sekolah Bisnis) di Indonesia, tetapi rata-rata ketika sekolah tersebut “memamerkan” lulusan alumni jebolan sekolahnya, lagi-lagi list yang ditampilkan merupakan eksekutif perusahan nasional atau perusahaan pelat merah, bukan wirausaha-nya. Padahal semua mengklaim sebagai “sekolah bisnis”. Ada rekan berseloroh, “Tepatnya sekolah untuk para Karyawan, bukan untuk Pebisnis”. Saya hanya bisa mengulum senyum kecut…..tapi benar juga kata rekan saya itu.

Sementara pola asuh keluarga, kadangkala kurang Meng-encourage untuk terjun di bidang ini. Orang tua jauh lebih bangga kalau putra-putri-nya bekerja di sebuah perusahaan atau menjadi pegawai (negeri). “Lebih terjamin Mas”, ujar seorang Ibu menjelaskan panjang lebar ketika menyarankan putranya yang baru lulus kuliah untuk melamar kerja di sebuah instansi. Sebenarnya sih kata “terjamin” sih “tricky statement”, siapa yang bisa menjamin kalo perusahaan atau instansi tempat bekerja ditutup karena bangkrut, atau ada rasionalisasi pegawai besar-besaran. Apakah itu bisa dikatakan “terjamin” ataukah karena butuh status dan prestis semata?

Memang, saya sedang tidak mempromosikan sebuah profesi wirausaha (entrepreneur), serta meremehkan profesi menjadi pegawai atau eksekutif perusahaan. Itu semua dikembalikan kepada pilihan individu sebagai sebuah pilihan hidup. Ibarat sebuah ekosistem, saya melihat ada yang tidak “balance” di Republik ini. Semua sekolah dan masyarakat hanya ingin “mencetak” para pencari kerja bukan yang bisa “menciptakan” lapangan kerja. Bisa ditebak apa yang terjadi, semakin panjang waktu untuk menunggu dari lulus sekolah untuk bisa bekerja, karena semua lulusan lari ke satu titik : menjadi pegawai. Padahal “lowongan kerja” di profesi wirausaha masih terbentang luas. Mengapa harus berdesak-desakan mengambil formulir menjadi pegawai, ketika formulir menjadi entrepreneur relatif lengang?

Secara teori, di suatu Negara dari total penduduk, yang berprofesi menjadi entrepreneur dibutuhkan hanya plus-minus 2%-nya. Tidak banyak bukan ? Meminjam data dari pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre (UCEC), Ir. Ciputra, idealnya untuk mempercepat pertumbuhan Indonesia, kita masih membutuhkan 4,4 juta wirausaha. Sekarang tercatat kurang lebih 400.000 pengusaha. Masih ada gap 4 juta lagi. Tertarik untuk mengambil formulir pendaftaran menjadi entrepreneur ?

*Karena gemes melihat fenomena di atas, saya dan temen saya membuat silabus pelatihan untuk para pegawai, terutama yang mau purna tugas (pensiun) untuk membekalinya meretas usaha setelah pensiun atau pensiun dini. Pelatihan ini diberi nama Intrapreneurship Development Program (IDP). Bagi instansi yang tertarik workshop ini, silahkan menghubungi saya di 021-4711390.

Credit Photo by:James Crindland@flickr.com

Previous

Belajar dari “Sarari-Man” ala Jepang

Next

Menghindari Jebakan Aset Tetap

15 Comments

  1. yusi adhi n

    wah kalo yg ini menarik banget
    sampai bingung maw koment apa mmm…
    jujur, apa yg disampaikan mas Donny emang betul bgt,
    ktk kuliah dasar2 akuntansi dulu mesti utk perusahaan jasa & manufaktur yg skala besar, jd format laporan keuangan sudah pasti jelas…apapun soal ujian pasti ada jawabannya kan…

    ketika lulus kuliah aku jugu mencoba keberuntungan dgn mengikuti serangkaian ujian di bumn, pns, dosen PTS, trus kerja memprakktekan ilmuku juga, ternyata apa yg kupelajari dibangku kuliah hanya sepersekian % yg bisa kuterapkan…miris kan 🙁

    dulu ketika kerja aku nyaman2 aja dgn karyawan yg lain, tp rasanya apa yg kupersembahkan koq tak sesuai dengan yang kuterima ya…alih2 bikin bergaining power utk kesekian kali, akhirnya aku memutuskan resign dgn alasan konsentrasi ke usaha sendiri…

    merintis usaha sendiri yg notabene bukan warisan orangtua bukanlah pekerjaan yg mudah, pandangan miris masyarakat akan “sarjana koq mung jualan dirumah, rasah sekolah duwur wae malah luwih murah;(” sempat membuatku dilema, tapi keyakinan akan suatu hadist “rejeki utk pegawai hanya 10%, yang 90% adalah buat pedagang/pengusaha” membuatku selalu yakin menapaki jalan yang akhirnya kupilih ini…

    tapi (maaf sedikit mengeluh) lagi2 sebagai pemain awal, ketika mencari legalitas usaha, ijin2 dll kami harus melalui cibiran & jalan yang kadang ga masuk akal persyaratannya. sampai2 terpikir dalam hatiku, aku ingin usaha sendiri tanpa merepotkan orang lain aja koq ya dipersulit hufff…perasaan hampir semua birokrasi koq punya slogan “kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah“, toh outputnya kan pemerintah juga yang menikmati.
    tapi kalo kebanyakan ngeluh malah tar dibilang sok.

    anyway, ilmu apapun yang kita pelajari, bisa kita terapkan dalam dunia wirausaha, ditempa dengan kemauan & kemauan yang ada, plus didukung lingkungan keluarga, pasti akan membuahkan hasil, kalo masalah sukses itu kan absurd ukurannya…mungkin orang lain yang akan menilainya…so do the best & keep spirit😉

    • @Yusi Adhi N: Wah Bu Direktur terima kasih kesediaannya untuk sharing dengan panjang lebar. Sidang pembaca barangkali bisa diskusi di forum ini dengan Ibu Yusi. Pengalaman berpindah kuadran-nya pasti menarik bila dibagi di forum ini….terima kasih atas kesediaannya berbagi Ibu Direktur 🙂

      • yusi adhi n

        sama2 mas, aku juga dapat tambahan ilmu gratis niy dari blog mas donny…oiya jgn panggil ibu direktur dunk, aku kan cuma korlap…

  2. Don, amazing banget baca tulisanmu, karena kesadaran entrepreneurship inilah yang saat ini sedang menggelegak di dadaku, memang 13 tahun jadi “buruh” di sebuah perusahaan swasta nasional bikin aku jadi “penakut” untuk mulai menyelami belantara entrepreneurship sendirian. Tapi itu tadi gelegak di dadaku bikin aku terus mencari, mencari dan mencari secercah cahaya dari jiwa kewirausahaan yang ada di diriku. Sekarang aku lagi merintis jalan itu dan aku yakin aku bisa menggapainya… Salam.

    Y. Indra R

    • @ Y.Indra : Terima kasih atas apresiasinya……ketakutan selalu ada, tapi hanya kita yang mampu mengalahkan “ketakutan” itu…..semoga sukses berpindah kuadran Kawan

  3. Saya pernah membaca menjadi karyawan adalah pekerjaan dengan resiko tertinggi di dunia. (lupa baca dimana). Sedang kita masih kekurangan begitu banyak wirausahawan. Konon Swedia memajukan negaranya dengan mendorong penduduknya untuk menjadi wirausahawan bukan menjadi karyawan. (betul ga ni ?).
    Sekarang kesadaran untuk menjadi usahawan sudah sangat tinggi. Mereka angkatan 80an cukup beruntung karena tumbuh saat iklim sudah berubah. Angkatan saya dahulu yang memang masih kuat “tarikan” untuk menjadi karyawan. Angkatan saya yang menjadi usahawan benar-benar memiliki jiwa wirausaha yang tangguh.
    Bicara potensi sebenarnya bangsa kita tidak kekurangan suatu apapun. Bahkan sebenarnya banyak bangsa lain yang “iri” lalu menyerbu dan menjadikan Republik Indonesia sebagai target market.
    Ayo anak muda maju dan jadi usahawan untuk ikut memajukan Indonesia.

  4. Rendra

    Tulisannya inspiratif bgt…memang Mas, jiwa enterpreneur di negara kita ini msh blm menjadi budaya… mungkin kelamaan dijajah dan org2 sukses pd wkt itu adl para pegawai… “ketidaksadaran kolektif” ini yg mungkin msh terngiang di telinga para ortu kita dan mendorong mereka menerapkan pola asuh yg mengarah pd profesi sbg pegawai..
    Memang perlu disadarkan, salah satunya melalui tulisan2 di blog ini…

    Thanks

    rendra
    http://www.orangkantoran.wordpress.com

    • @Rendra : Terkadang ada sesuatu hal yang membutuhkan proses, dengan sharing kita bisa “mempercepat” proses itu….semoga. Terima kasih bersedia mampir, ditunggu komentar selanjutnya di Blog ini…..

  5. konbanwa…..
    blognya ‘hontou ni subarashii‘….
    sumimasen desu ga, apa boleh nge-link ke sini dari blog saya?
    doumo..

  6. Untuk anak SMA seperti saya yang ingin masuk sekolah bisnis karena ingin jadi pebisnis (benar-benar pebisnis, bukan pegawai), sekolah/universitas mana yang mas Donny sarankan???

    Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB bagus tidak???

    • @Hangga : kalau menurut saya, sekolah bisnis hanyalah “kapal” saja Mas Hangga, untuk berbisnis tetaplah harus “nyebur” langsung Mas…..kebetulan saya kurang begitu tahu tentang sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, mohon maaf jadi tidak bisa memberikan komentar….tapi prinsipnya seperti tadi harus praktek Mas…..

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén