Lembaga Pendampingan untuk UKM Indonesia

Lembaga Pendampingan untuk UKM Indonesia Lembaga Pendampingan untuk UKM Indonesia small business taxes loans unsecuredWalaupun berulang kali para pejabat Negeri menyebut-nyebut peran UKM yang tahan banting dan perlu didukung keberadaannya. Banyak politisi tingkat elit menyebut-nyebut perlunya “bantuan” kepada sektor UKM ini. Tapi kenyataan di lapangan memperlihatkan bantuan secara terstruktur dan sistematis kepada sektor ini tidaklah terlihat. Yang kelihatan adalah bantuan-bantuan parsial yang lebih beraroma “bantuan sinterklas” sesaat yang kadangkala dibumbui adanya perhelatan-perhelatan politis, maupun kunjungan-kunjungan pejabat tertentu yang sifatnya insidentil. Akhirnya bisa ditebak, sektor UKM yang di luar negeri sering dijuluki SME’s (Small and Medium Enterprises) hanya menjadi “primadona kertas” di berita, belum di aras sesungguhnya.

Tak heran orang-orang yang berjuang di sektor ini, seakan seperti berjuang sendirian. Kalau jeli melihat kiprah SME’s Indonesia memang seringkali “masalahnya” berkutat di situ-situ saja. Dari sisi internal. mulai dari lemahnya akses perusahaan UKM dengan institusi perbankan, kelemahan pengelolaan usaha berorientasi bisnis, pengetahuan informasi yang timpang dan lain sebagainya. Dari sisi eksternal, budaya impor dengan alasan lebih murah dan juga lesakkan persaingan barang-barang serta jasa dari luar negeri yang notabene didukung sarana dan dana yang lebih kuat tidak jarang merontokkan perusahaan SME yang kecil dengan modal terbatas. Akhirnya tidak banyak perusahaan SME kita bisa tumbuh dan berkembang kuat seperti yang diharapkan.

Padahal data-data UKM Indonesia potensi cukup “menggiurkan”, dan kalau diseriusi untuk dibangun, akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Bapak Ahmad Zabadi, asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Kemenkop dan UKM, melansir ada 52,76 juta (99,67%) pelaku usaha di Indonesia adalah UKM. Di sisi lain penyedia kesempatan kerja UKM menyerap 96,21 juta orang (92,08%) dari total kesempatan kerja. Untuk kontribusi pada PDB Nasional, UKM mampu menyumbang Rp. 2.993,15 triliun atau menyumbang 53,32% dari total PDB. Kontribusi ekspor UKM juga lumayan, mencapai kisaran 162,2 Milyar atau menyumbang 17,02% dari total ekspor non migas. Sementara itu, sumbangan investasi fisik UKM merengkuh angka Rp.830,9 Milyar atau berkontribusi 52,33%. Mengkilapnya angka-angka yang disetor UKM di atas, tidak kalah penting kuatnya UKM akan meneguhkan stabilitas nasional. Sekaligus menumbuhkan Indonesia sebagai negara kuat di mata pergaulan internasional.

Berharap UKM Indonesia akan sekuat di Jepang atau di Jerman barangkali membutuhkan waktu. Tetapi mereduksi rontoknya UKM Indonesia merupakan hal penting yang perlu dikedepankan. Kalau untuk menanggulangi akutnya korupsi di Indonesia dibentuk KPK (Komite Pemberantasan Korupsi), untuk mengawasi banyaknya lembaga keuangan dan perbankan dibentuk OJK (Otorisas Jasa Keuangan). Agaknya untuk memastikan tumbuh kembangnya UKM Indonesia kedepan ada lembaga yang tugasnya melakukan “pendampingan” terhadap banyaknya UKM di Indonesia yang rentang bisnisnya sangat beragam dengan persoalan yang beragam pula. Dan lembaga pendampingan ini tidak bisa dibangun lembaga incidental semata. Kalau di Jepang ada semacam JASMEC (Japan Small Medium Enterprises Business Corporation) yang bertugas meningkatkan kemampuan SDM UKM di Jepang.

Bayangan saya, fungsi pendampingan UKM akan mempunyai makna “strategis” di beberapa hal, diantaranya,

Pertama, adanya pendampingan ini akan memastikan fasilitas finansial yang diperoleh digunakan pada posnya. Yang sering kita lihat bantuan dari untuk UKM menguap begitu saja, karena dibagi-bagi diantara pelakunya bukan untuk untuk pengembangan bisnis. Atau untuk membeli barang-barang konsumsi yang sebetulnya tidak diperlukan. Ini fenomena yang sering saya lihat (dengan belbagai modus).

Kedua, lembaga pendamping UKM ini akan mengawal para pengusaha atau perusahaan UKM ini mengajukan pinjaman kredit sekaligus mengawal pengembalian dana/kredit sesuai jatuh tempo yang ditentukan. Kejadian di lapangan yang sering terjadi adalah tidak ada control akan hal itu. Karena dianggap kucurannya dananya “kecil”, kegagalan mengembalian dana pinjaman dianggap “hibah” sehingga sektor UKM tidak pernah tumbuh “dewasa” dan punya daya saing dengan UKM luar negeri.

Ketiga, lembaga pendamping ini akan berfungsi sebagai bahan rujukan sekaligus tempat problem solver untuk sederetan usaha kecil  dan riuh macam usahanya. Lebih ideal lagi nantinya tiap corak usaha bisnis ada tim problem solver-nya sekaligus menyusun pemeringkatan kemampuan usahanya. Sehingga kinerja UKM tiap corak usaha nantinya terpantau kinerjanya dan lebih terukur.

Mudah-mudahan Lembaga Pendampingan UKM Indonesia yang lebih terstruktur dan berdasar hukum kuat. Serta digawangi orang-orang yang mengerti betul tetek bengek UKM ini akan membantu terbangunnya sebuah UKM-UKM  Indonesia yang tangguh dan mempunyai daya saing.

Photo Credit : catalysthouse.biz

 

Previous

Ikujiro Nonaka : Inisiator Knowledge Management

Next

Membidik Anak, Merayu Ibu

5 Comments

  1. Rini Widowati

    Artikel yang sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut. Saya WNI yang tinggal di Perancis dan saat ini sedang merintis jalan sebagai Wirausaha. Sharing informasi bahwasannya di Perancis terdapat banyak lembaga (pemerintah atau swasta) yang memberikan pendampingan bagi para calon Wirausaha.
    Lembaga-lembaga tsb secara sistematis memberikan bimbingan, pelatihan sampai dengan dukungan dana jika proyek di nilai profitable dan layak untuk di jalankan.
    Lembaga-lembaga yang turut aktif berperan dalam hal ini mulai dari Lembaga pemerintah penyalur tenaga kerja (semacam Depnaker di Indonesia), Institusi pemerintah dibidang ekonomi & perdagangan mulai dari tingkat Propinsi sampai dengan Kotamadya/Kabupaten (Region sampai dengan Commune di Perancis) disamping banyaknya Lembaga swasta lainnya yang menawarkan hal yang sama.

    Para pencari kerja disamping diarahkan untuk mendapatkan pekerjaan yang di inginkan yang sesuai dengan kompetensi mereka juga di berikan alternatif sebagai Wirausaha.
    Disamping itu juga para calon wirausaha dapat langsung mengunjungi lembaga yang fokus dalam mengembangka UKM (PME/PMI di Perancis) dan dapat langsung berkonsultasi dengan para Konsultan bisnis yang akan memberikan arahan seputar tata cara pembuatan usaha baru mulai dari bimbingan pembuatan Business Plan, Presentasi, Market Research, Penjurian sampai dengan support untuk dukungan dana.

    Diharapkan kedepannya secara bertahap namun pasti Pemerintah Indonesia dapat lebih sistematis dalam memberikan dukungan bagi para calon wirausaha dimana mereka memberikan kontribusi nyata bagi terbukanya lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan daerah.
    Potensi Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak ragam produk yang dapat di kembangkan dan dipasarkan menjadi aset penting bagi tumbuh kembangnya para wirausaha yang trampil & kreatif.

    • @Mademoiselle Rini Widowati : Merci….betul Mba sebenarnya saya “gemes” perhatian terhadap UKM masih setengah hati padahal data-data menunjukkan potensi luar biasa UKM Indonesia sangatlah cerah…mudah2an sepenggal tulisan ringan ini akan ditindaklanjuti instansi terkait sehingga UKM Indonesia tumbuh dengan “pendampingan” yang memadai….

      • Rini Widowati

        Sudah Madame Mas Donny…:) Saya sangat sepaham dengan 3 point tsb di artikel terkait kurangnya pengetahuan para Wirausaha Indonesia dalam hal pengelolaan dana pinjaman pihak perbankan yang terkadang dialokasikan untuk kepentingan pribadi atau ybs kurang memahami bagaimana cara pengelolaannya. Seandainya pemerintah dengan sungguh hati ingin memberikan pelatihan Finance kepada calon wirausaha sekaligus dibekali ilmu Marketing, Sales, Distribution,dll mungkin keadaan menjadi lebih baik.
        Tidak ada lagi “Dana Hibah” dan Wirausaha mendapatkan “Solusi” yang tepat untuk kemajuan bisnisnya dengan adanya “Forum / Team/ Konsultan” yang dapat memberikan arahan utk setiap masalah yg di hadapi.

        Disisi lain karena kurangnya pengetahuan para wirausaha indonesia sehingga mereka kurang paham seluk beluk prosedur Eksport_import misalnya sehingga peluang untuk memasarkan produk ke luar negeri menjadi kendala dan sering kali mereka lewatkan kesempatan untuk menjajaki bisnis baru di luar negeri dengan alasan rumitnya prosedur yang harus di jalani.
        Padahal peluang produk Indonesia untuk dapat di terima di Mancanegara cukup besar namun banyak para wirausaha kurang paham bagaimana cara pemasarannya dan apa saja produk yang diminati.

        Hal ini saya alami sendiri ketika mencoba untuk menawarkan kerjasama dengan beberapa UKM di Indonesia, sering kali mereka “belum” memahami bagaimana prosedur Eksport – Import ataupun membentuk kerjasama antar 2 mitra bisnis beda negara sehingga melewatkan peluang kerjasama yang ditawarkan.
        Sangat di sayangkan karena peluang ada namun pelaku UKM “tidak mampu” untuk menangkapnya.

        Pelatihan yang Comprehensive (Finance, Marketing, Sales, Distribution,Bahasa, Quality Control, dll) dapat membentuk Wirausaha yang mampu untuk bersaing secara International sekaligus menunjukkan bahwasannya Produk-produk Indonesia memang layak untuk di promosikan secara Global.

        Semoga, tulisan Mas Donny bisa memberikan pencerahan bagi kemajuan UKM di Indonesia.

  2. betul sekali, saya juga perlu pendampingan usaha, butuh coach untuk manuver usaha, juga untuk menambah semangat. mohon informasinya kalau ada event event terkait kewirausahaan. http://www.sotosekengkel.web.id

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén