Kutil dan BMW

Kutil dan BMW Kutil dan BMW bmw muenchen

The devil is in a detail

Di suatu hari, ada beberapa teman berkumpul membahas tentang business plan yang rencananya akan dikerjakan “keroyokan”. “Gampang kok, prinsipnya bisnisnya begini”, ujar seorang kawan ketika ditanya langkah detail dari rencana bisnis yang akan dijalankan. “Trus kalau ada kemungkinan X , gimana dong ?” tanya rekan lainnya. “Kemungkinannya kecil itu, kalau toh ada kita kembali pada prinsip dasarnya, nanti langkah berikutnya melihat perkembangan di lapangan selanjutnya”, jawabnya. Pernahkah Anda mendengar diskusi tentang rencana bisnis yang berujung pada kata-kata “gampang nanti kita lihat nanti” ? di Indonesia, saya masih sering mendengar kata-kata itu.

Dua minggu lalu saya menyambangi mantan teman SMA-nya yang tinggal di kota Muenchen, Jerman. Kebetulan dia tinggal di sana dan bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan di sana. Sembari bernostalgia “masa-masa berbaju abu-abu” dulu, kita ngobrol sambil sightseeing di museum milik mobil BMW di kota itu. Walaupun menyasar konsumen niche Market (ceruk pasar), khusus segmen konsumen premium, harganya mahal, mobil BMW (Bayerische Motoren Werke) dalam prespektif merek memiliki perceived quality yang cukup kuat. Tak ayal, walaupun harganya mahal mobil yang didirikan oleh Karl Friedrich Rapp laku keras.

Di museum itu, disamping mempertontonkan sederetan mobil BMW dari masa ke masa, dari seri lawas dulu sampai yang terbaru dengan sangat detail, di museum itu juga diperlihatkan bagaimana mesin-mesin mobil bekerja yang dibuat BMW dengan sangat detil. Dari kedetilan ini, bisa ditelisik lebih lanjut bahwa BMW “mempersiapkan” cukup matang dalam menyasar kelas premium yang terkenal “ribet” dan sangat demanding (menuntut) itu. Dari mesin yang dibuat, desain mobil yang direncanakan seakan mampu “menebak” keinginan para konsumen kelas atas itu.

Terus apa hubungannya antara dua cerita di atas? Dari pengamatan lapangan dan pengalaman yang saya temui, seringkali harus diakui rekan-rekan di Indonesia ketika berbisnis “terjangkiti” penyakit yang saya sebut sebagai kutil alias kurang detail. Barangkali secara garis besar rencana bisnis yang diintrodusir sangat bagus dan laik untuk dijalankan. Tetapi lemah ketika harus di-break down lebih dalam. Kutil harus dienyahkan dalam berbisnis. Karena ide bisnis yang brilian sekalipun, kalau kurang detil dalam langkah-langkah kongritnya akan “dikalahkan” dengan ide bisnis yang biasa-biasa saja tetapi digarap dengan detail.

Terus bagaimana langkah agar bisnis yang akan digelindingkan “jauh” dari penyakit kutil ini ? Setelah ide bisnis ditemukan dan diputuskan akan dijalankan, pastikan derivasi langkah-langkah selanjutnya dibuat lebih detail. Saya melihat banyak kasus, seringkali ide bisnis yang bagus seringkali teronggok di sini, karena banyak yang “tidak sabar” dan “betah” berkutat membuat langkah-langkah lebih mengerucut. Dikiranya kalau wacana bisnis yang dibikin sudah bagus, bakalan siiiip pula ketika dijalankan. Celakanya, yang sering saya temui adalah, “menggampangkan” bahkan meremehkan untuk menggagas langkah-langkah lebih lanjut.

Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting, setelah dibuat langkah-langkah lebih mendalam. Langkah-langkah bisnis yang mendalam ini perlu “diuji” dengan membuat beberapa kemungkinan yang bakalan menggagalkan dan merontokan bisnis itu kalau dijalankan. Hal ini bisa dimulai dengan menanyakan teman terdekat kalau konsep bisnis seperti ini dijalankan, apa reaksi dan masukan mereka. Bahkan kita bisa memulainya pada diri sendiri dengan menganalogikan kira-kira apa tanggapannya kalau posisi saya sebagai user atau konsumennya terhadap ide bisnis yang akan digelindingkan. Dalam skala bisnis yang agak besar, barangkali riset bisnis dengan menggandeng konsultan bisnis tidak ada salahnya dibangun. Tetapi untuk skala bisnis kecil, langkah di atas sudah cukup memadai (Ntar keburu menguap ide bisnis-nya akan tidak dijalankan…hehehehe). Langkah ini penting untuk melihat berbagai kekurangan yang punya potensi “merontokkan” bisnis yang akan dijalankan. Jadi segala kemungkinan sebisa mungkin kita “prediksi” sedini mungkin.

Akhirnya, the devil is in the detail……sebuah adagium yang mengingatkan akan bahayanya menjalankan sebuah rencana atau ide (termasuk berbisnis) tetapi enggan merajut hal-hal detil. So, pastikan tidak ada kutil dalam berbisnis. Sukses untuk Anda…..

Credit Photo : Private Collection

Previous

Your Job is Not Your Career

Next

Marketing Getok Tular dan Budaya Lisan

10 Comments

  1. Saya rasa bagian menyusun detail ini cukup berat. Tapi yang tak kalah berat juga melaksanakan detail yang sudah disusun.

    • Buntulan

      Penyusunan rencana adalah 90% dari keseluruhan, sehingga untuk menyusun rencana kita perlu pengalaman yang lama di suatu bidang.
      Dalam pelaksanaan kita memerlukan LEADERSHIP yang baik. Untuk mempunyai LEADERSHIP yang baik, perlu pengalaman yang lama dalam bidangnya.
      Negeri ini baru seumur jagung ditambah lagi pemimpin kita maunya hanya simsalabim, alakadabra, bagaimana kita bisa melakukannya dengan tekun dan baik di negeri kita yang tercinta ini ?
      BTW, Lihatlah kinerja orang Jepang dan Yahudi, terutama Yahudi.
      Jepang terkenal dengan kerja kelompok yang kuat, Yahudi terkenal dengan individual yang sangat kuat, mereka sudah mempunyai sejarah yang panjang dan perlu kita contoh.

      • @ Spy Pen Camera : Betul sekali aksi untuk menggelindingkan bisnis merupakan bagian “terberat” yang mau tidak mau harus dilakoni 🙂
        @Buntulan : Insightful note 🙂

  2. nice note,…
    iya yaa mas, kadang kita menggampangkan detail,. lihat besok, itulah ciri orang Indonesia,..hehehe,.. dan parahnya hampir sebagian besar dari kita melakoninya,.. 🙂

    keep writing ya mas,..

    titin
    smansa pwt 1993-1996

  3. sinta damayanti

    KUTIL??…kurang detail n KUrang TIlaten…he3… btw sebuah tujuan tanpa perencanaan yg matang akan menjadi sebuah harapan semata..
    bisnis adalah bakat / naluri pribadi… bisnis adalah keberuntungan bagi org yg sanggup menjalankan…dan bi…snis adalah suatu hal yg juga bisa dipelajari …. org beranggapan …”org cina otaknya pada encer..orgnya hokian…pantesan jualannya laris, tokonya beranak pinak besar2 pulan n dipinggir jalan pula…emang hoki tu cina kalo bisnis” dan ada kalimat lain yg sering mematahkan ” org cina kan nenek moyangnya pedagang itu bakat n warisan dr kelnya..” kata2 itu sering banget kita denger….

    Bakat? bener… tp bakat tanpa niat dan usaha yg keras…hanya akan sebagai hobby….

    keberuntungan?? tidak semata krn hoki

    warisan?? yaa..kalo yg diwarisinnya mo kerja keras inyaalloh bisa berkembang dan sebaliknya… bukankah melanjutkan sebenernya lebih susah drpada utk memulai… salah2 konsumen pasti membanding2kan merasa beda sedikit saja dengan apa yg ditawarkan dulu bisa serentak kabur..

    so… usaha/bisnis tidak utk kalangan terentu dengan syarat mau kerja keras…

    Usaha yg keraspun tidak cukup jika tidak dilakukan detail perencanaan yg matang… terus menerus mau belajar dari kesalahan… bereksperimen utk mencari kepuasan konsumen… bisnis hrs jelas… apa sih yg kita jual, target konsumennya siapa?, bagaimana biar produk tsb bisa kita kenalkan pada mrk…cari sesuatu yg menarik, dst… yaahh kembali lagi ketopik… tanpa detail2 yg jelas kita pasti akan nyasar atau malah ngga akan sampai tujuan…..

    • @Sinta : Ini jelas sharing berdasar pengalaman praksis di lapangan, sekedar untuk informasi untuk pembaca blog Manuver Bisnis, Ibu Sinta ini adalah adalah pekerja ulet yang bekerja di salah satu Bank, tetapi kemudian memutuskan pindah kuadran untuk berbisnis sendiri….terima kasih Ibu Sinta atas sharingnya 🙂

  4. kunci sukses nya bisnis itu harus mampu kreatif, memberikan nilai tambah, dan kerja cerdas

  5. kalau kata bob sadino, kalau mau sukses bertindak aja, ga usah pake rencana ini itu, resiko adalah hal yang harus diraih bukan dihindari, dibalik resiko ada peluang yang besar

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén