Komunitas dan Investasi Emosional

Komunitas dan Investasi Emosional Komunitas dan Investasi Emosional community

Di tengah tren bermunculan berbagai komunitas akhir-akhir ini, terutama komunitas yang berbasis psikografis (komunitas berbasis gaya hidup, kesamaan hobi), menjadikan komunitas sebagai “sasaran tembak” oleh para brand manager dan product manager dari beberapa perusahaan. Tidak jarang para “brand owner” tadi beramai-ramai menggelontori para komunitas tersebut dengan serangkaian pendanaan untuk acara-acara yang dibuat, khususnya acara outbound yang mengundang perhatian khalayak ramai. Besar harapan dengan adanya “perhatian” tersebut akan lahir “ikatan emosional”. Tetapi apakah untuk membangun relasi emosional harus dibangun dengan cara seperti itu?

Bahkan ada yang berharap dengan serangkaian pendanaan tersebut, komunitas tersebut bisa “didikte”. Terkadang malah ikatan non formal yang ada di komunitas yang rata-rata cair tersebut dicoba “diarahkan” untuk diikat menjadi sebuah komunitas yang rigid formalistik. Pendekatan yang kebablasan?

Sebenarnya perhatian dengan memberikan sokongan dana untuk acara-acara yang dilaksanakan komunitas oleh perusahaan lewat brand manager-nya adalah sah-sah saja. Tetapi pendekatan yang hanya menekankan sokongan seperti ini semata, bersiap-siaplah menelan kekecewaan. Karena tidak semua komunitas membutuhkan bantuan hibah pendanaan semata. Menyusun program untuk sebuah komunitas haruslah didiagnosa dulu apa kebutuhan setiap komunitas. Jadi program yang diintrodusir tidak berakhir dengan sebuah kemubaziran.

Ada beberapa komunitas yang oleh sebuah perusahaan selalu digelontor pendanaan untuk aktivitas outdoor-nya, alih-alih lahir loyalitas, akan tetapi yang terjadi malah “ketergantungan” pendanaan. Ujung-ujungnya, setiap acara yang digelar selalu meminta sokongan pendanaan kepada perusahaan tersebut. Sehingga timbul ketergantungan, malah tidak sehat jadinya. Inisiatif komunitas tadi yang pada awal pendiriannya dipenuhi roh antusiasme dari komunitas itu sendiri,mendadak sirna, lembek semangatnya, bahkan berkurang kehebohannya. Sementara itu, ada sebuah komunitas yang tidak pernah disokong pendanaan secara langsung, sekedar difasilitasi semata (secara finansial tidak membutuhkan dana besar) malah menyeruak eksis. Ini merupakan salah satu contoh “salah diagnosa” penyusunan program komunitas yang diarsiteki perusahaan.

Terus bagaimana strategi yang perlu diterapkan agar komunitas yang digarap perusahaan berhasil melahirkan semburat loyalitas dengan biaya yang relatif efisien?

Pertama, pastikan komunitas yang akan digarap, mereka mempunyai ikatan dan interaksi yang relatif kuat. Biasanya komunitas yang mempunyai modal dasar ikatan yang kuat, tidak perlu perusahaan membikin program-program untuk mereka, justru komunitas itu sendiri dengan tanpa didorong-dorong akan hadir dengan serangkaian program acara yang memikat. Mereka tetap akan merealisasikannya meskipun dana yang dimiliki terbatas. Rumusnya adalah semakin lemah ikatan emosional diantara anggota komunitas, semakin besar effort yang dibutuhkan seorang brand manager merealisasikan program-program yang disusun. Itu berlaku sebaliknya. Dan yang pasti bujetnya juga lebih banyak.

Kedua, usahakan program-program yang disusun untuk komunitas yang dipilih mengarah pada pemecahan solusi ketimbang program-program “heboh” yang mengedepankan acara sekedar “gathering” semata yang terkadang berujung dengan acara-acara main yang memuja kesenangan belaka. Misalnya komunitas sebuah kendaraan tertentu, mengerahkan tim mekaniknya menjelaskan cara merawat kendaraan secara mudah. Sama-sama ber-investasi emosional kepada anggota komunitas, tetapi value di benak anggota komunitas pastilah berbeda hasilnya. Karena ada value yang didapat, pasti para anggota rela untuk menyambangi acara-acara yang dibuat untuk itu. Ndak perlu ditelpon dan didorong-dorong untuk datang, mereka pasti datang.

Ketiga, there’s no free lunch, bagaimanapun tujuan utama mensupport komunitas yang in-line dengan produk atau jasa yang diproduksi perusahaan adalah mencornya loyalitas dari komunitas anggota, atau lebih menukik lagi, ada profit yang direngkuh. Tanpa hal itu agaknya Anda perlu mengevaluasi program yang disusun untuk komunitas yang dibidik. Atau perlu mengganti komunitas dengan yang lebih pas.

So…..Selamat memilih komunitas yang akan Anda pilih dan…..selamat bekerja.

*Mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi pembaca Blog Manuver Bisnis yang menjalankannya.

Credit Photo : trcs.wikispaces.com/Community09

Previous

Era Milik Pemain Amatir

Next

“Merekonstruksi” Fakultas Ekonomi

4 Comments

  1. Salut untuk Mas Donny. Tulisannya selalu menarik untuk dibaca dan cerdas dalam pemilihan topik. Terima kasih, karena ditengah kesibukan rutinis kerja, masih sempat dan mau berbagi. Sekali lagi cuma terima kasih doang yang bisa saya sampaikan.

    Maaf Mas, mau sedikit komentar yang sebetulnya sangat tidak penting alias out of topik, yaitu untuk paragraf awal dari tulisan ini : “Di tengah tren bermunculan komunitas-komunitas akhir-akhir ini, terutama komunitas yang berbasis psikografis (komunitas berbasis gaya hidup, kesamaan hobi), komunitas menjadi…..” Sepertinya sedikit kelebihan kata “komunitas” ?!

    Selam dan ditunggu artikel menarik lainnya.

    • @Keranjangkecil: Mas Nyoman terima kasih atas kesediaannya mampir sekaligus “ketelitiannya” yang luar biasa. Silahkan mampir kembali dan ditunggu ide dan sarannya untuk kebaikan blog ini 🙂

  2. sinta damayanti

    setujuuu Don… paradigma ini yg menkondisikan keadaan tsb… aku bilang banyak lo…rata2 mereka yg lulusan S1 terutama cuma menjadi kuli di perusahaan besar ataupun bank swasta dengan pangkat clerek… itupun ortu mrk udah bangganya seten…gah idup anaknya diterima di perusahaan atau bank swasta ternama yg ujung2 nya kerjaannya cuma bikin report,bikin surat n ngefile… walaahh malah ada tu aku denger di media iklan kalo ga salah .. lulusan… adalah lulusan orang berdasi.. lha kok malah bangga ta?? opo ga sumuk ta dasian terus?? .. wes ungkep gajine ga cukup nggo nguripi sebulan nek aku kok emmoohh yaa…. he3… btw aku setuju banget kalo khusus utk starta 1 ekonomi dikasih teori dan pelatihan berwiraswasta sehingga mrk lebih terarah… dan pastinya sedikit mengangkat gengsi utk berdikari… yg selama ini yg aku tau cuma diberikan pada starta SMA atau kejuruan….

    • @Sinta : Bu Sinta kali komentar Anda untuk artikel “Menkonstruksi” Fakultas Ekonomi….di tengah pengangguran terdidik yang semakin menumpuk, memang perubahan silabus khususnya di fakultas ekonomi merupakan agenda mendesak yang perlu segera diwujudkan….Bu Sinta boleh doong sharing cerita tentang pindah kuadran dari karyawan bank menjadi wirausaha di bidang kuliner….ditunggu ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén