Kisah Mantan Follower Market dari Negeri Gingseng

Penari Korea Kisah Mantan Follower Market  dari Negeri  Gingseng Kisah Mantan Follower Market  dari Negeri  Gingseng penari korea
“Hasil yang luar biasa tidak bisa direngkuh dengan usaha-usaha yang biasa-biasa saja, pasti direngkuh dengan usaha-usaha yang luar biasa pula”

Terkadang panggung kehormatan dan hamparan karpet merah di dunia bisnis seringkali hanya meneropong kiprah dan gerak-gerik para pemimpin pasar (market leader). Bak bintang film kenamaan semua dari ujung rambut kepala sampai kuku kaki dikupas habis oleh pers, tidak tersisa. Kalau toh ada pemberitaan lain, diberitakan perusahaan second –layer alias para penantang pasar (challenger market) yang omsetnya “hampir menyalip” sang pemimpin pasar, masih sesekali diberitakan dan diulas sekali dua kali di media bisnis. Tapi amatlah jarang para pengikut pasar, yang dalam terminologi “Bapak Pemasaran” Philip Kotler disebut follower market, dikerling dan dibahas oleh media. Diacuhkan….disentil pun tidak.

Sudah lama sekali saya tidak menyambangi Toko elektronik, tapi karena membutuhkan, bersama keluarga kita berencana bikin “home theatre” kecil-kecilan buat anak-anak, beberapa minggu lalu kita coba berburu TV LCD (Liquid Crystal Display) di sebuah toko elektronik di sebuah Mal. Ketika melihat disana…..wow, saya tetap terperanjat, walaupun data omset TV LCD sudah ada di tangan. Produk-produk dari Korea seperti Samsung, LG yang dulu seringkali diacuhkan, karena berposisi sebagai pengikut pasar, kini berdiri dengan megah di rak-rak penjualan mal-mal elektronik kelas atas vis-à-vis dengan LCD TV buatan Jepang yang amat digdaya seperti Sony, Sharp, Toshiba dan koleganya. “ Pengikut Pasar pun mampu menyeruak pasar kalo mau ”, decak saya kagum.

Kedigdayaan Perusahaan Korea di pasar TV LCD di Indonesia tak pelak lagi dipimpin oleh LG. Awal tahun 2008, LG masih memegang market share sekitar 19%, per Agustus ini pangsa pasarnya menggelembung pada kisaran 34%. Produk unggulannya adalah scarlet yang tebalnya hanya 1,8 inchi (sumber: Kabarbisnis.com). Di bawah LG, koleganya Samsung bertengker tidak kalah mengkilap prestasinya. Sekarang karpet merah pun terhampar buat para mantan “pengikut pasar” yang dulu pernah diremehkan. Sekarang merek-merek Korea seperti LG, Samsung, Daewoo, Kia, Hyundai tidaklah berposisi lagi sebagai pelengkap semata. Bahkan, metamorfosis dari pengikut pasar menjadi penantang pasar bahkan dibeberapa kategori tertentu menjadi pemimpin pasar pun bisa dicapai.

Mencermati manuver bisnis para Chaebol dari negeri ginseng di negeri ini, mengingatkan manuver bisnis yang diusung perusahaan Negeri Matahari terbit ketika berkiprah di Indonesia di kala 70-80an, ketika market kala itu didominasi barang buatan Eropa dan Amerika yang rata-rata besar, lebar mulai digerus barang-barang dari Negara Jepang. Masih segar dalam ingatan saya, waktu itu masih kecil seseorang berkomentar “Barang buatan dari Jepang itu murah ya, tapi ringkih (mudah rusak), karena cuma niru”, ujar seseorang tetangga ketika keluarga kami membeli sebuah televisi berasal dari Jepang kala itu. Tapi agaknya, nada sumbang semacam itu dijawab dengan perbaikan terus-menerus oleh perusahaan Jepang, yang akhirnya melahirkan terminologi manajemen yang mendunia“Kaizen” (continuous improvement).

Hasilnya kita semua tahu, hampir semua produk elektronik dan otomotif Jepang menjadi pemimpin pasar di Republik ini. Dominasi produk Amerika Serikat dan Eropa pun runtuh. Walaupun “meniru”, jelas tidak asal meniru, meniru dengan lebih baik. Dengan strategi “meniru” tadi, Perusahaan Jepang dapat Menekan mahalnya biaya riset, kedua mereka memproduksinya secara masif, jadi biaya produksi lebih ringan.

Kini, dengan cara yang hampir sama, Perusahaan dari negeri Ginseng mulai meringsek maju. Bahkan untuk mengejar ketinggalan, kolega Korea saya yang pernah bertutur di Samsung dulu yang kerja shift sehari tidak hanya teknisi bagian produksi, tetapi juga bagian R&D (Riset dan Pengembangan). “Bahkan kerja cerdas saja tidak cukup, harus dibarengi kerja keras”, tuturnya. Hasilnya…sukar dipercaya sepertinya.

Melihat pemaparan kisah sukses manuver bisnis mantan perusahaan pengikut pasar, seyogyanya kita tidak perlu ciut bila kita atau perusahaaan kita berposisi sebagai pengikut pasar. Setidaknya kita melihat betapa perusahaan-perusahaan Korea, walau hanya pengikut pasar kala itu dulunya, tidak gentar menyemplung pasar yang sudah pekat dengan merek-merek eksis nan kuat dengan gagah berani. Tetap kerja keras dan cerdas, serta jeli menyasar pasar. Dan faktanya berhasil. Pertanyaannya sekarang sesama bangsa yang makan nasi, masa kita tidak bisa “mengikuti” jejak mereka? Haruskah kita puas hanya sebagai penggembira semata serta bangga menjadi konsumen dan pengguna semata?

Credit photos by :derekwin@flickr.com

Tulisan kali ini didedikasikan untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November, sekaligus menyemangati bahwa sebagai bangsa berpenduduk No.3 di Dunia, perusahaan-perusahaan lokal di Republik ini mampu berkiprah lebih baik lagi…..Merdeka Bung!!!

Previous

Meretas Pindah Kuadran Agar Tidak Berdarah-darah

Next

Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1

6 Comments

  1. Teguh coy

    oke banget nich pren……………….maju terus pantang mundur. salam dari negeri borneo.

  2. dyah

    Kalau soal tekhnologi, Korea memang sudah bisa bersaing dengan Jepang. Ada berbagai macam cara untuk bisa memperkenalkan suatu produk kepada masyarakat, salah satunya dengan beriklan di televisi atau media lainnya.
    Korea (mungkin juga Jepang) juga mempopulerkan produk-produk mereka lewat tontonan yang menarik : Drama Korea.
    Saat ini, drama Korea amat digemari di berbagai negara, termasuk Indonesia.
    Lihat saja banyaknya dvd bajakan mengenai drama maupun film Korea.
    Produsen kendaraan dan barang elektronik jeli melihat peluang ini. Mereka mensponsori suatu drama/film dengan produk mereka sebagai salah satu sarana untuk lebih memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.
    Lihat saja HP Samsung, banyak di antara penikmat drama/film Korea yang akhirnya berkeinginan untuk memiliki produk yang mereka lihat digunakan oleh bintang kesayangan mereka di layar kaca.
    Saya juga sempat terkena syndrome tersebut.
    Sayangnya pada masa itu (sekitar 2 tahun yang lalu), HP Samsung tersebut tidak awet, rusak dalam waktu sekitar satu tahun saja. Entah bagaimana mutunya kalau sekarang.
    Tapi intinya, Korea berhasil memanfaatkan peluang yang ada.
    Semoga nantinya kita juga

    • @Dyah : Menarik, ulasan dari pendekatan “film”, terima kasih Dyah mampir di Blog Manuver Bisnis….tetep mampir dan ditunggu komentar dan masukannya….

  3. tsani wiryarti rekyan

    sipp… bisa jadi spirit bagi yg lainnya … khususnys aku…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén