Ketika Staf Tangan Kanan Melayang

Ketika Staf Tangan Kanan Melayang Ketika Staf Tangan Kanan Melayang turnover

Seorang Kawan pernah bercerita betapa dia mati-matian mengajukan surat resignation kepada Bos-nya agar dia “diperkenankan” untuk mundur dari perusahaan. Tetapi jawaban yang ia terima bukanlah persetujuan melainkan sodoran tawaran untuk mengambil cuti panjang dengan tetap digaji untuk menghilangkan penat dan kebosanan. Ketika suatu saat dia menagih persetujuan untuk mundur di waktu yang lain, jawaban dari bosnya lebih fantastis, jabatan lebih tinggi dengan area Negara lebih luas malah ditawarkan dengan ditemani segepok fasilitas yang sungguh “asoy” untuk ditolak. Maklum teman saya ini termasuk kategori karyawan “tangan kanan” Big Boss.

“Gue jadi bingung sendiri Don”, curhatnya kala itu. “padahal aku sedang tidak mengancam perusahaan agar tambahan fasilitas digelontorkan, tapi aku merasa sudah tidak tertantang lagi. Bukan masalah uang” Nah lho !! Pada dasarnya turnover (keluar dan masuknya pegawai) dalam bisnis adalah hal yang lumrah. Cuman acapkali kalau prosentase turnover yang terlampau tinggi memang kurang baik. Tetapi kalau dalam bisnis yang Anda lakoni mengalami turnover yang rendah, tahan dulu untuk bersorak gembira terlebih dahulu. Coba dicek lagi, jangan-jangan karyawan yang bekerja di perusahaan Anda merupakan barisan deadwood yang kualitasnya “ecek-ecek” yang keenakan tinggal perusahaan Anda. Dijamah zona kenyamanan, sehingga kreativitas-nya sudah tumpul. Nah lho….itu tidak kalah berbahaya.

Sebaik apapun kita mengelola orang (sumber daya manusia), kehilangan staf terbaik atau malah tangan kanan kita adalah sebuah keniscayaan. Ndak perlu menyalahkan dan menunjuk hidung manajer SDM Anda karena lalai mengurusi orang-orang terbaik. Karena mengacu pada pengalaman kasus yang dialami teman saya di atas. Ditawari cuti, ya tetap ingin kabur juga. Diberi jabatan lebih tinggi dan menantang, ujung-ujungnya ya tetap keluar. Selalu ada pembenaran kalau rumput tetangga pastinya lebih hijau dan sejuk. Karena ujung permasalahan tidak selalu berujung pada gemercingnya uang dan empuknya kursi jabatan baru.

Jadi ada yang harus dilakukan? Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah tindakan preventif, lebih khusus agar staf yang menjadi kanan kita tidak hilang adalah dibutuhkan keluwesan serta perlakuan khusus tetapi tidak membuat iri staf lainnya. Pastinya Anda bisa membuat langkah-langkah perlakuan khusus yang pantas diberikan untuk staf tangan kanan kita. Tetapi menurut hemat saya, hal yang lebih penting adalah menyiapkan diri kita sendiri ketika tangan kanan kita meninggalkan kita.

Biasanya kalau staf tangan kanan kita pergi, ada 2 problem utama yang muncul yakni perlu segera kita lakukan adalah segera mencari penggantinya serta tidak kalah penting perlu kita mendidiknya agar pekerjaan yang ditinggal segera diisi oleh sang pengganti dengan kompenten. Barangkali mencari pengganti bisa dilakukan dengan lebih cepat. Tetapi “proses mendidik” ini yang butuh effort khusus dan butuh waktu. Ini menjadi kendala tersendiri kalau perusahaan yang Anda nahkodai masih belum begitu besar. Saya bisa membayangkan betapa repotnya.

Tapi menurut pengalaman saya, biasanya keluarnya staf tangan kanan itu bisa dideteksi sejak dini gerak-geriknya. Maka terkadang, persiapan staf lainnya untuk mengerjakan pekerjaan sang tangan kanan Anda. Atau ketika cuti, pekerjaan sang tangan kanan dioper kepada staf lain, walaupun barangkali hasilnya tidak sebaik sang tangan kanan. Tetapi kalau di dalam perusahaan yang Anda nahkodai, “kultur belajar” (learning organization) sudah biasa diinjeksikan dan terpatri kuat. Kehilangan staf tangan kanan tidaklah akan menyebabkan kapal yang Anda pimpin oleng. Karena tradisi pembelajaran yang kuat akan mengatasi hambatan hal itu. Jadi saya sarankan untuk membudayakan “kultur belajar” di perusahaan Anda sejak dini. Ini sangat membantu.

Jadi kalau ban Anda bocor dalam perjalanan dan harus diganti, pastikan ban cadangan Anda mampu menggantikannya dengan cepat agar perjalanan Anda tidak terganggu. Begitu juga dalam bisnis, perjalanan tidak boleh berhenti. Punya pengalaman kehilangan staf tangan kanan Anda?

Credit Photo : ere.net

Previous

Ketika Mama Mengerek Bendera Entrepreneur

Next

Ketika Office Boy Pindah Kuadran Jadi Juragan Ayam bakar

1 Comment

  1. gullit

    wah gawat tuh..
    seharusnya lebih ditingatan sense of belong-nya . . .
    Loyalitas itu prioritas . .

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén