Ketika Rumah Disulap Jadi Kantor

Ketika Rumah Disulap Jadi Kantor Ketika Rumah Disulap Jadi Kantor home officeIkut bersyukur seorang kawan bertutur dirinya akhirnya berani menuliskan surat resignation setelah lama merasakan “pengapnya” menjalani rutinitas kerja kantor yang menurutnya super membosankan dan penuh deraan kemacetan yang cukup menjengkelkan. Uang golden shake hand yang diterima lumayan besar yang sebagian bisa dijadikan modal untuk menggelindingkan bisnis yang diimpiakan sejak lama. Langkah awal yang dilakukan, untuk mengerem laju pengeluaran di awal memulai bisnis, mencoba menyulap sebagian rumah asrinya menjadi sebuah kantor. Ada senyum lebar merekah dan dengus nada puas menyeruak,”Aku tidak perlu bermacet-macet ria lagi…tidak perlu mendelik lagi melihat sopir metro mini berzig-zag di jalan!” Dan ritus pindah kuadran baru dimulai….

Beberapa saat kemudian, ketika bertemu kembali, sambil bertutur bisnis yang digelindingkannya. Ternyata ada problem baru menyelip di “kantor baru”-nya. Mulai godaan bermain-main sama anak yang lumayan menyedot waktu, godaan melihat acara TV favorit yang memagut hati, sampai terlihat urusan domestik rumah tangga yang mulai menyerobot jatah waktu kerjanya di kantor barunya. Lho ini sebenarnya bekerja di rumah atau kantor yang disulap jadi rumah? Inilah problem yang muncul ketika menjadikan rumah menjadi base camp baru untuk kantor.

Jarak tempuh yang dulu menjadi momok memang sirna ketika berkantor di rumah. Tapi beberapa godaan baru yang menyergap dan mereduksi performer kerja pun menjadi ganjalan baru. Terus bagaimana strategi agar bisa tetap ngantor di rumah tapi kinerja seperti bekerja di kantor sebenarnya di masa lalu tetap terjadi ? Kebetulan saya sendiri pernah merasakan di awal-awal  usaha menjadikan rumah di lantai 2 saya sebagai “kantor”, dan gangguan yang dirasakan teman saya di atas juga menghinggapi. Bagaimana sih tips bekerja di rumah tapi gangguan “feeling home fever” bisa dihindari?

Pertama, walaupun bekerja di kantor pastikan jadwal ngantor tetap seperti biasa. Yang membedakan kalau dulu harus berjibaku dengan sederetan kemacetan, sekarang kantor baru barangkali tinggal melangkah dalam hitungan detik. Tapi tetap disiplin dan konsisten masuk kantor seperti biasa haruslah tetap dibiasakan. Kalau perlu memakai baju ber-kostum kantor seperti biasa, untuk mendukung dan membangun atmosfer merasa di kantor walaupun di rumah. Dan kalau waktunya istirahat pun tetap break laiknya istirahat di kantor. Kebiasaan ini amatlah membantu badan untuk terbiasa kapan harus bekerja dengan penuh keseriusan dan kesungguhan, serta kapan badan harus beristirahat  melemaskan keteganggan akibat bekerja.

Kedua, berinvestasi sedikit dengan alat-alat kantor yang biasa kita gunakan seperti merombak ruangan yang dijadikan kantor dengan suasana kantor. Alat-alat kantor yang biasa ada, dibeli untuk menunjang kenyamanan dalam bekerja di kantor seperti laiknya. Ini amat membantu Anda segera menyelesaikan target pekerjaan. Biasanya awal bekerja di awal, biasanya belum langsung merekut banyak pegawai. Dengan peralatan kantor yang memadai, penyelesaian pekerjaan sesuai dengan target sesuai dengan waktu amatlah dimungkinkan.

Ketiga, Pastikan ketika Anda memasuki bilik kamar kerja, perhatikan semua usaha dan pikiran larut dalam pekerjaan yang ingin diselesaikan. Kalau Anda laki-laki tunda rengekan istri minta dibantu membetulkan kebocoran, minta membantu mengganti pampers anak, atau keinginan membongkar-bongkar kerusakan mobil di jam kerja Anda. Kalau Anda Perempuan, tunda keinginan mencuci piring kotor, menyiapkan masak makanan siang, dan sederetan pekerjaan rumah tangga yang ada. Bukan apa-apa, karena kalau ajakan itu diamini maka pekerjaan utama di kantor Anda yang baru akan terbengkalai. Nanti kalau memang waktu “jam kantor” usai atau waktu istirahat tiba hal-hal tersebut di atas boleh dikerjakan.

Komitmen di atas penting untuk mengamankan kepindahan Anda membuka kantor di rumah tidak malah menjadi blunder. Kebebasan waktu yang muncul  karena menjadi Bos untuk diri sendiri tidak merusak performa kerja dalam menjalani ritme kerja baru Anda sebagai entrepreneur baru.  Selamat berpindah kuadran….selamat berkantor baru di rumah……

Credit Photo : minimalisthome.net

Previous

Menonton Aksi LG Mendengarkan Gemba

Next

Merek itu Asset Bukan Komoditas

4 Comments

  1. Yasmine

    bener banget itu ulasannya mas don…itulah suka dukanya berkantor di rumah (walaupun lebih banyak sukanya daripada dukanya)
    ..,komitmen memang harus ada, kalau tidak..bisnisnya ya mandeg..,sukses yoo..

  2. Mas Donny, jadi kepikiran membelikan berbagai perabot kantor untuk di rumah, supaya istri bisa kerja optimal untuk http://EshalFashion.com. 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén