Ketika Perusahaan Kecil Anda Mekar Ketika Perusahaan Kecil Anda Mekar growing

A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don’t necessarily to go but ought to be” (Rosalynn Carter).

Sebuah perbincangan antar karyawan di sebuah perusahaan di pada break makan siang bareng. “Perasaan semakin maju dan membesar, semakin jarang ya si Bos ngobrol-ngobrol lama sama kita-kita,” curhat seorang karyawan. “Bener, perasaan dulu gak susah-susah amat ijin cuti, sekarang jadi lebih ribet”, sambung karyawan lain dengan nada sebal. “Semuanya jadi serba formil dan serius yak”, sungut karyawan lain menimpali.

Kalau Anda mempunyai sebuah perusahaan yang dibangun mulai dengan modal kecil dan karyawan tidak terlampau banyak. Artinya bukan sebuah perusahaan yang tiba-tiba didirikan dengan gelontoran dana besar yang tiba-tiba mencomot banyak pegawai. Kalau suatu saat, bisnis Anda mulai mekar dan mengelinding, obrolan bernada seperti di atas dengan level yang berbeda, cepat atau lambat biasanya akan muncul. Berita baiknya, obrolan tadi mengirim isyarat jelas bahwa bisnis Anda benar-benar sedang tumbuh dan berkembang. Berita kurang sedapnya, karyawan Anda—terutama karyawan lama yang ikut proses dari awal—akan mulai gelisah ketika “atmosfer guyub”, kemesraan emosional yang tinggi karena interaksi di dalam “kelompok kecil” perusahaan hadir tiba-tiba memudar dan berangsur sirna dilahap mekarnya kondisi perusahaan Anda yang membesar.

Isyarat penting apa yang diambil dari signal ini? Bagi pemilik Perusahaan, pada titik itulah Anda harus memutuskan beberapa hal penting. Pertama, dulu ketika membangun bisnis ini, Anda sebagai pimpinan bisnis (business-owner) mempunyai visi mengerek perusahaan Anda ke skala lebih besar lagi, atau Anda cukup “merasa puas” bisa menjadi pemain domestik saja tetapi, Anda adalah “Raja lokal”? Kedua, kalau Anda merasa harus memperluas skala perusahaan, biasanya perlu menggandeng professional yang akan membantu “memekarkan” perusahaan tersebut. Siapkah Anda mendelegasikan untuk itu?

Tidak semua pemimpin perusahaan yang dibangun dari sebuah usaha kecil bercorak “kekeluargaan” merasa “nyaman” juga, ketika perusahaan terlampau menggelembung. Sehingga sekat-sekat ikatan emosional yang ada di perusahaan ikut renggang. Disisi lain mekarnya skala perusahaan barangkali menyebabkan pundi-pundi kekayaan ikut membesar tapi effort tenaga, pikiran yang disumbang juga ikut membesar. Tak heran, banyak perusahaan memilih tetap menjadi “raja lokal” yang tidak punya ambisi melebarkan skala bisnis-nya. Sehingga, kalau Anda acapkali melihat beberapa perusahaan di daerah atau kota kecil yang pemiliknya hapal nama dan menyapa para customer-nya satu persatu dengan ramah, mengobrol dengan penuh kehangatan, punya ikatan dan kepercayaan tinggi antar sesamanya. Mereka tidak punya cita-cita untuk melebarkan bisnisnya sampai ibukota apalagi bermimpi menjadi menjadi world class company. Tapi cukup menjadi raja kecil yang kokoh di daerah, Itu adalah sebuah pilihan atas visi bisnis-nya.

Kalau pilihan dijatuhkan pada pilihan kedua, yang seringkali menjadi masalah adalah kesiapan “berbagi” kekuasaan alias mendelegasikan control yang selama ini dipegang kepada orang lain (professional). Ini pasti bukan hal yang mudah, karena cukup lama control bisnis itu digenggamnya. Pasti ada perasaan “tidak rela” atau “timbul kurang percaya” yang hadir. Kalau dulu ketika skalanya kecil barangkali dikerjakan sendiri masih memungkinkan. Tetapi ketika ingin skala-nya lebih besar, penggunaan IT yang lebih komplek dan canggih misalnya, mau tidak mau harus diimplementasi untuk meng-handle skala operasi bisnis yang kian membesar. Orang yang dibutuhkan untuk memastikan semakin besarnya organisasi bisnis yang mekar tentunya akan semakin banyak. Kalau Anda tidak siap untuk berbagi, saya sarankan pilih pilihan pertama di atas, skalanya tetap kecil dan Anda tetap mempunyai “kekuasaan mengontrol” sebagai Bos. Tapi kubur jauh-jauh untuk keinginan untuk menembus skala yang lebih tinggi.

Apa implikasi buat para karyawan? Kalau Anda tipe karyawan yang menyukai hubungan erat terbangun di lingkup kecil. Bergabunglah dan tetap tinggal dengan perusahaan yang cenderung mempertahankan skala perusahaannya tidak terlampau besar dan menjadi menjadi raja lokal. Tapi kalau sebaliknya, perusahaan dimana Anda bekerja akan mengembangkan dengan skala lebih luas tapi Anda tidak tahan dengan perubahan tersebut. Ketimbang Anda “berkeluh kesah” seperti obrolan para karyawan di atas, ada baiknya Anda mempersiapkan surat pengunduran diri. Atau Anda harus tahan kalau tiba-tiba regulasi dan SOP yang ketat nan rigid yang biasa mengiringi semakin membesarnya organisasi perusahaan mulai “membelit” hadir. Jangan mengeluh…apalagi bertindak anarkis seperti demo-demo yang sedang marak. Lebih baik mundur baik-baik, itu terlihat lebih konsekuen.

Kalau Anda sebagai karyawan cenderung ingin berkembang, mempunyai tantangan baru, tidak terkungkung “zona nyaman” berkepanjangan. Tetap tumbuh dan berkembang dengan perusahaan yang bermimpi menjadi global player atau setidaknya regional player. Pastikan jangan pindah dari perusahaan bertipe dan bervisi seperti itu.

Jadi, apa pilihan Anda?

*Tulisan ini didedikasikan kepada teman-teman saya yang bisnisnya mulai mekar dan menggelinding. Apapun pilihannya, pastikan Anda tidak salah memilih. Sukses !

Credit Photo : www.empreendimentoscosta.com.br