Ketika Office Boy Pindah Kuadran Jadi Juragan Ayam bakar

Ketika Office Boy Pindah Kuadran Jadi Juragan Ayam bakar Ketika Office Boy Pindah Kuadran Jadi Juragan Ayam bakar mas mono

Seringkali orang-orang yang berhasil menaklukkan rintangan untuk pindah ke kuadran kanan, terkadang halangan terberat bukanlah berpuncak pada modal semata, tetapi acapkali adalah “resistensi” dari inner-circle mereka sendiri. Inner circle bisa jadi keluarga, pasangan, maupun teman dan kolega terdekat. Hal yang sama dialami oleh Agus Pramono, nama lengkap Mas Mono, founder sekaligus penggagas Ayam Bakar Mas Mono, yang di tahun 2010 dianugerahi UKM Entrepreneur Award 2010 serta Franchise Best Seller 2010 untuk kategori Bisnis Resto Ayam Bakar.

Kebetulan beberapa minggu lalu, karena ada suatu urusan, saya mendapat kesempatan langka berbincang-bincang secara pribadi dengan beliau di sela-sela kesibukannya di outletnya di bilangan Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan. Dulu beliau sempat bekerja di sebuah kantor konsultan dengan jabatan OB (office boy). Keluarga besarnya di kota Madiun, Jawa Timur merasa senang Mas Mono mendapat pekerjaan “kantoran” di belantara beton Jakarta. Karena tertantang menaikkan kehidupannya, banting setir mencoba jualan kaki lima. Pada saat itu, Sang Ibunda berkunjung, seakan beliau tidak bisa menerima keputusan untuk resigned dari pekerjaan “kantoran” sekedar untuk jualan di pinggir jalan yang kala itu omsetnya per hari hanya puluhan ribu. Hari itu juga, sang Ibunda memutuskan pulang kembali. “Sebuah moment berat kala itu”, papar Mas Mono getir. Keluarga besarnya pun menyesalkan pilihan itu.

Ini barangkali sebuah tantangan tersendiri terutama yang berencana untuk pindah kuadran ke kanan, untuk memperhitungan “tekanan” yang bakal diterima dari inner circle yang kita sayangi. Tidak sedikit yang tidak kuat menghadapi hal ini, keputusan bulat yang diambil pun mendadak buyar, karena tidak kuat menghadapi “tekanan secara tidak langsung” dari inner circle yang terkadang menggerus keinginan kuat awal untuk pindah Kuadran seperti yang dialami Mas Mono di atas.

Dengan tekat yang kuat dan bulat, jualan ayam bakar pun dimulai ketika mendapatkan sebuah lapak kosong di dekat Universitas Sahid, petualangan pindah kuadran-nya pun bermula. Kala itu hanya dengan kaos dan baju seadanya, dengan nama Ayam Bakar Kalasan, roda bisnis mulai dijalankan dari subuh di pagi hari. Pembelinya rata-rata orang kantoran dan orang-orang mahasiswa. Jam 2 siang, habis atau tidak, lapaknya harus ditutup, karena harus berganti dengan penjual seafood dan pecel Lele. Namanya juga lapak di pinggir jalan, harus gantian.

Sambil memaparkan petualangan dengan saya, Mas Mono walupun pendidikannya hanya sampai SMA, tetapi cukup canggih memaparkan ceritanya dengan dokumentasi photo-nya kala itu di depan laptop-nya. Sebuah hobby yang cukup membantu dalam mengkoleksi beberapa petualangan bisnis-nya di masa itu. Bedanya foto dulu terlihat Mas Mono masih kerempeng, sekarang terlihat lebih “berisi”. Ketika mulai mendadani kru-nya dengan seragam khusus, melarang karyawan memelihara kuku panjang dan berkumis. Sepertinya SOP yang diterapkan sudah mengacu pada restoran-restoran besar. “Biar kelihatan rapi Mas, juga untuk membedakan mana pelanggan mana penjualnya”, jelasnya sambil menunjukkan photo-photo kala itu di laptopnya. Terlihat jelas, Mas Mono yang menyakini tidak ada hasil yang “instan”, walaupun jualan di pinggir jalan, Beliau punya blue print manuver bisnis yang jelas.

Tahun 2007, Beliau memutuskan untuk mengganti nama Ayam Kalasan dengan nama julukannya sendiri menjadi nama Ayam Bakar Mas Mono. Dan sudah dipatenkan. Sekarang Ayam Bakar Mas Mono sudah punyai gerai dimana-mana, tercatat ada 21 cabang gerai di kawasan Jabotabek. Antrian pembelinya masih banyak dan mengular, bahkan di salah satu cabangnya ada yang dalam sehari rata-rata menghabiskan 1000 ekor ayam. Bahkan dalam waktu dekat ini, akan ada rencana untuk membuka cabang di luar negeri. Meski agendanya padat, dia masih menyempatkan mengajar mata kuliah “Entrepreneur” di sebuah perguruan tinggi. Sebuah prestasi yang layak diapresiasi dan dijadikan tauladan.

Kalau seorang mantan OB berani berpindah kuadran, mestinya yang menduduki jabatannya lebih “wah”, secara kalkulasi strategi harusnya lebih berani ya 🙂 tetapi pilihan tetaplah ada di tangan Anda. Tertarik berpetualang bisnis ke kuadran kanan seperti yang dilakukan Mas Mono?

*Mas Mono matur nuwun sanget untuk obrolannya yang cukup inspiratif di kantor panjenengan.

Photo Credit : Private

Previous

Ketika Staf Tangan Kanan Melayang

Next

Meneropong Kekuatan Diri dan Lipat Gandakan

14 Comments

  1. Kuadran kanan selalu menggiurkan saya untuk menjalaninya… Semoga setelah anakku lahir, ak akan berpindah pelan-pelan ke Kuandran Kanan (wirausaha)…
    Sejak dari tahun 2005 sejuta tanda tanya dipikiranku ttg kuadaran kanan, tapi lagi2 memang susah untk menentang inner-circel….apalagi ajarannya di sisi “kiri”…

    Semoga Mas Mono ini mampu menyemangatiku untuk menjalani dunia wirausaha yg menyenangkan yg aku impikan…

  2. mas Mono aja bs pindah kuadran, gimana dgn kita?

  3. Sebuah hal yang sangat membuktikan bahwa setiap hal yang ditentang menjadi suatu tantangan yang bs ditaklukan,,
    sungguh sedikit sulit berpindah ke kuadran kanan tapi kesulitan bukanlah hal yang harus ditakuti, karna didalam sebuah ayat Al-Quran “Inna ma’al ‘usri yusran” (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan) AL-INSYIRAH 94:6
    jadi mas Mono ini adalah seorang yang sangat inspiratif untuk saya, saya teringat sebuah film “the pursuit of happiness” sebuah kisah nyata ttg Chris gardner yang dimainkan oleh Will Smith, di film itu sebuah perjuangan hidup yang tak pernah putus asa dalam kesulitan hidup dan membuahkan hasil yang sangat membanggakan..

    so semoga hari ini kita dapat mengambil hikmah dari kisah Mas Mono !!

    Semangat indonesiaku !!

  4. angga

    Mas Doni.. Thanks untuk tulisannya. Mudah2an banyak orang yg tergerak, dan semoga roda real sektor di negara kita terus berputar dan perbankan bisa memberikan support optimal..
    Btw, InshaAllah saya ada di Jakarta dari tgl 17-24. Mudah2an bisa ketemuan ya Mas..

    Salam,
    Angga

  5. satari

    Wuah,.. wuah,… hebat mbanget mas mono,..aku ingin belajar bagaimana menetukan sikap positip ,terkadang keberanian yang kurang, kesempatan terbatas , yang selalu mnghalangi kita untuk melangkah lebih jauh melalui kuadran kanan untuk mencapai suatu harapan , baik yang masih bekerja , ataupun yang sudah bosan untuk bekerja dan beralih ke wira usaha.

    • @Satari : Mas Satari kapan menyusul pindah kuadran kanan seperti Mas Mono? Atau malah sudah? Boleh dong di-share di Blog Manuver Bisnis 🙂

  6. Dewi

    benar, life is choices… jika kita hanya berada dalam satu lingkaran yang ada, tanpa mencoba membuat lingkaran baru. hidup terasa tawar. kalaupun ada rasa yang lain dalam hidup kita. Namun, tidak sangat berarti dibandingkan dengan tindakan yang beresiko. chiayoo for kehidupan kanan ^_^

  7. iwan

    saya bekerja di sebuah perkantoran di jakarta dengan pendapatan yang cukup di atas rata-rata dan masa depan karir juga terbentang luas..tetapi hati kecil saya selalu berkata—-cobalah mengembangkan bisnis sendiri- bingung saya…

    salam

    iwan

    • @Iwan : Jangan bingung mas Iwan….pindah kuadran tidak bisa diburu-buru….kalau sudah yakin dan mantap untuk pindah kuadran barulah pindah. Kalau masih ragu, bisa double kuadran dulu. Artinya masih tetap ngantor tapi punya sambilan bisnis kecil-kecilan, kalau sudah dirasa cukup barulah mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran. Semoga sukses pindah kuadran Mas 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén