Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan

Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan sold

Sebagus dan sehebat apapun bisnis yang kita lakoni, terkadang pada titik tertentu kita mengalami kemandegan dalam berbisnis. Ketika mandeg, banyak permasalahannya mendera, diantaranya barangkali dibelit masalah permodalan untuk bisa mengepakkan sayap ekspansi bisnis yang lebih besar. Pada titik itu, salah solusi yang mungkin dipilih adalah menjual perusahaan atau mencari investor untuk memupus halangan itu. Bagimana caranya?

Saya merasa bersyukur mengambil mata kuliah entrepreneur beberapa tahun ketika ngangsu kawruh (menimba ilmu) di Jepang. Di samping sang dosen yang sangat memahami bidang tersebut, Prof.Mikami adalah pengajar sekaligus pelaku bisnis handal. Ujian akhirnya tidak ada test tertulis seperti galibnya mata kuliah lainnya, tetapi kami diminta secara kelompok membikin “bisnis model” yang solid yang layak “dijual” untuk dipresentasikan, tentunya disertai serangkaian riset pasar dan perhitungan lainnya yang harus kami riset. Ujian Akhirnya (UAS), Prof.Mikami memanggil kolega-kolega bisnisnya yang rata-rata adalah entrepreneurs yang mempunyai perusahaan menjadi “algojo” pemberi nilai. Kami diminta untuk mempresentasikan bisnis model yang kami riset dan didiskusikan secara kelompok dalam bahasa Inggris dan Jepang. Bagaimana penilaiannya? Kolega juri tadi (berjumlah 5 orang) yang mempunyai background bisnis cukup solid tersebut diasumsikan sebagai investor yang memegang sejumlah uang. Group yang diberikan kucuran “uang” terbanyak akan mendapat nilai terbaik.

Alhasil, di kelas entrepreneur yang mahasiswa-nya datang dari belbagai macam Negara ini menjadi extra semangat dan berkompetisi untuk menciptakan bisnis model yang menarik perhatian para investor tadi. Di hari tersebut, presentasi menjadi hari “menegangkan” sekaligus hari penuh pembelajaran. Tegang karena ada perasaan was-was serta sedikit “nervous”, penuh pembelajaran karena di hari itu, kita tidak sekedar “diadili” oleh para investor perihal kemungkinan uang yang bisa dikucurkan dari bisnis model yang kita rancang, tetapi beberapa alasan yang menyertai nan pekat petuah dan fatwa bisnis yang strategis langsung dari mulut para investor adalah hal yang kita tunggu-tunggu. Saat ini, dengan format yang agak mirip beberapa reality show seperti ini, mulai banyak ditayangkan, misalnya Shark Tank milik ABC yang mempertemukan para entrepreneurs yang membutuhkan suntikan dana dari sederet investors. Di Jepang “Dragon Den” (program aslinya bernama マネーの虎 /money no tora) yang dikreasi Nippon Television Network Corporation mempunyai materi acara yang kurang lebih sama.

Kisah di atas memberikan pelajaran berharga buat saya, yang awam perihal bisnis, menjadi sedikit paham bahwa, walaupun kita tidak mempunyai modal terlampau banyak, tetapi bisnis model yang kita kembangkan solid dan prospektif. Jangan terlampau khawatir, bisnis model yang sudah dikembangkan bisa menarik para investor untuk berkenan mengucurkan dananya. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita mampu mendesain bisnis model yang cocok, unik dan berpotensi meraup bisnis di kemudian hari. Nah, untuk bisa mengkreasi sebuah bisnis model yang solid ini, diperlukan usaha inovasi yang jeli nan membidik pangsa yang khas.

Fakta membuktikan, group yang mendapat nilai tertinggi di mata kuliah yang saya ikuti tadi, bukanlah group yang meminta dana terbesar untuk bisnisnya. Tetapi pendekatan dalam membuat bisnis model yang dikembangkan sepertinya masih “jarang” yang menggunakan pendekatan bisnis tersebut. Kalau kita sekedar memfotokopi bisnis yang sudah ada (copy-cat), biasanya investor tidak berminat, kecuali bila tingkat pengembaliannya cepat (ROI). Hal sama kalau Anda menonton acara Shark Tank, seringkali yang menang menarik perhatian investor untuk menggelontorkan uangnya, karena bisnis model dan produk/jasa yang dikreasi unik.

Tantangan kedua adalah menemukan atau bertemu dengan calon investor yang “tepat”. Hal ini juga gampang-gampang susah. Tapi ada sebuah teori dasar yang bisa dijadikan patokan tentang hal ini. Semakin tinggi resiko bisnis yang akan dihadapi investor setelah membeli sebuah perusahaan, maka semakin rendah dia mengeluarkan uang pembeliannya. Dan sebaliknya, semakin rendah resiko yang dihadapi investor setelah pembelian, maka semakin tinggi uang pembelian untuk itu.

Menurut Jack Garson dalam bukunya How to Build A Business and Sell It for Millions (2011), dia mengelompokkan investors berdasar kemauan menginvestasikan (membeli perusahaan) serta perhitungan tinggi-rendahnya resiko yang akan diterima menjadi 3, yakni :

Pertama, Angel investors, tipe investor seperti biasanya mencari “perusahaan relatif baru” yang mau berjalan, harapannya dia tidak terlampau banyak membenamkan uangnya untuk pembelian dan bersedia “menanggung resiko” yang lebih besar. Tipe investor seperti ini biasanya, masih tetap meminta Anda (sebagai pelaku bisnis) untuk tinggal dan mengoperasikan bisnis ini. Apakah sang pelaku akan diberi saham atau “digaji”, tergantung perjanjian yang disepakati.

Kedua, Venture Capitalists, tipe investor seperti biasanya mau membeli sedikit lebih tinggi daripada Angel Investors, tapi biasanya investors seperti ingin “menguasai” sepenuhnya dalam operasional. Investors tipe ini inginnya mengontrol proses bisnis, kalau toh Anda (sebagai pelaku bisnis) tetap diikutsertakan, investor ingin Anda hanya “duduk di meja” sebagai pengawas. Tapi uang pembelian yang Anda terima dari tipe investor ini lumayan besar.

Ketiga, Private Equity/Investment Companies, tipe investors seperti ini biasanya tidak segan mengeluarkan uang untuk membeli dan member harga terbaik. Investors tipe ini biasanya melakukan pembelian bercorak “akuisisi sepenuhnya”. Biasanya perusahaan yang dibelinya, perusahaan yang sudah berjalan dengan baik, dan sudah menghasilkan profit “tinggi”. Jadi untuk pebisnis yang ingin mendapatkan dan berjodoh dengan investors seperti ini, bangunlah bisnis secara serius sampai menghasilkan profit stabil yang lumayan. Kalau berhasil, siap-siaplah dipinang dengan jumlah uang besar. Portal berita kenamaan detik.com yang dibeli grup Para beberapa waktu lalu merupakan contoh investor ini.

Nah, bagaimana dengan perusahaan yang Anda operasikan? Tipe mana yang Anda sasar? Apapun pilihan Anda, pastikan bisnis model yang Anda bangun solid dan unik. Setelah itu tinggal “mencari” tipe investor yang sesuai karakter dan kapasitas perusahaan yang Anda bangun. Selamat mencoba 🙂

Tulisan ini didedikasikan untuk Prof.Mikami buat sharing ilmunya di kelas dulu, I do appreciate Prof….

Credit Photo : sellingmichighanhomes.com

Previous

Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman

Next

Proteksi Pemerintah untuk Infant Industries

6 Comments

  1. Yasmine

    menarik sekali pembahasannya…kita jadi seperti ikut kuliah lagi, tks kang Don u pembelajarannya..inspired me to do more creative

  2. lubnah awaliah

    suka aku baca-nya, Donny…jadi seperti me-“refresh” lagi ilmu2 yg dulu plus ditambah lagi dgn penalaran yang baru…Satu pertanyaan, Boss…Jika kita mendapati “apapun yg kita sebut usaha/perusahaan” kita seperti mati segan hidup tak mau, dan bersolusi harus “dijual” setelah berbagai “refresh” tak berhasil, ” Trik jitu apa yg bisa gunakan untuk menarik investor…?” artinya, kita kan tidak dalam posisi tawar yg sama….bagaimana biar bargaining position kita berimbang……

    • @Lubnah : Memang kalau sudah di-refresh dan dipoles lagi sudah tidak lagi memungkinkan, agak susah ya. Bisa sih dijual, tetapi sesuai rumus yang ada, semakin beresiko suatu perusahaan semakin “murah” investor mau membelinya. Tidak ada trik lain kecuali performa perusahaan kudu digencot. Setidaknya mencari jalan lain yang bisa “mendandani” performa perusahaan. Karena sejatinya posisi “tawar-menawar” yang berimbang bakal lahir pada titik ini. Investor yang berinvestasi berharap uangnya kembali bukan? Makanya sangat tidak disarankan menjual perusahaan dalam kondisi “meriang” kalau tidak terpaksa sekali, Karena biasanya akan dihargai murah. Terimakasih berkenan mampir, sukses untuk bisnis-nya 🙂

  3. Baru menemukan blog yang sangat menarik. Saya baru memulai wirausaha setahun lalu. Home Office mengandalkan networking selama bekerja di beberapa perusahaan. Saya dapat memetik manfaat karena dapat belajar marketing lebih banyak. Maklum dulu saya lbh banyak sebagai operator. Salam sukses

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén