Ketika Marketing via Socmed “Keplintir”

Ketika Marketing via Socmed “Keplintir” Ketika Marketing via Socmed “Keplintir” socialmedia

Teman saya dari yang ada di Jerman pernah terkesiap kaget (untuk tidak mengatakan terkejut) ketika saya bercerita mulai nge-trend anak-anak duduk di kelas SD berame-rame mempunyai akun (account) di FB (facebook). Saya hanya bisa mengulum senyum sambil menimpali, “ Hari gini Bro, mungkin sebuah keanehan orang ndak punya akun di facebook.” Bahkan, saya pernah melihat sendiri, beberapa orang yang tidak terlalu “intim” bahkan sama sekali buta internet, karena desakan tren ini beramai-ramai bikin akun e-mail, yang gak bisa minta dibikinkan akun, alasan jelas terang benderang : agar bisa bikin akun facebook untuk konfirmasi pembukaan akun. Setelah itu akun email dilihat hanya untuk melihat konfirmasi akun FB, maka email diacuhkan, dan mulailah menggunakan FB lewat ponselnya. Tak heran di negeri ini akun FB bisa nangkring nomer dua sejagat menurut data statistik.

Fenomena di atas sekaligus menjawab adanyan trend baru beberapa perusahaan rame-rame mulai ikut-ikutan menyusup meramaikan era ini untuk “memasarkan” produknya. Kalau Anda cermati mulai perusahaan besar sampai perusahaan yang sedang tumbuh dan baru berdiri, hampir pasti mempunyai facebook page adalah sebuah keniscayaan. Terkadang malah mulai banyak yang ikut nyemplung dan getol mulai berkicau lewat twitter. Berita bagusnya adalah, beberapa perusahaan kecil memulai menggunakan medium ini sebagai alat untuk memasarkan produk dan jasanya. Ini jelas jauh lebih murah ketimbang menggunakan medium marketing konvesional. Sebuah realita yang menggembirakan karena akses perusahaan kecil (UKM) untuk menjangkau lebih banyak konsumen dan lebih mendunia sangat dimungkinkan.

Tetapi disamping berita baik di atas, seiring dengan “kemudahan” dan “lebih ekonomisnya” penggunaan socmed (social media) ini, beberapa perusahaan sepertinya “sedikit keplintir” dalam menggunakan socmed untuk mengimplementasikan strategi pemasaran mereka. Apa saja itu? Ada beberapa kasus yang acapkali terjadi :

Pertama, para pemilik produk dan jasa yang punya socmed di dunia maya terkadang “lupa menyadari” kalau field yang mereka terjuni bukanlah media konvensional seperti TV, iklan maupun surat kabar. Dimana para konsumen selalu berada dalam posisi “menerima” serta mendengarkan semata (one way communication). Sehingga seakan bunyi komunikasi yang ada di laman page FB, kicauan di Twitter maupun di Blog hadir seakan menderu-deru tanpa titik. Ketika ada respon balik dari mereka, hanya sedikit ditanggapi dan direspon. Apalagi yang bernada “sedikit protes”, tak jarang di-removed. Hal ini terjadi karena mind-set marketing konvensional masih tertancap kuat. Ini adalah dosa besar dalam ber-marketing di socmed.

Memang barangkali akan timbul banyak respon yang begitu banyak yang barangkali merepotkan, tapi di era socmed, alpa merespon “suara” konsumen merupakan langkah yang keliru. Kalau di dunia konvensional, tekadang sederetan staf dipasang untuk “mendengarkan” suara mereka lewat call center dengan suara ramah dan aksen nan merdu. Di era socmed, tidak ada kalah penting menyediakan sederetan staf yang handal dan tangkas menyusun serangkain jawaban kata-kata “penyejuk hati” lewat tut-tut keyboard, ketika bombardir pertanyaan menyapa mereka. Bukan didiamkan dan diacuhkan. Prinsipnya era socmed, komunikasi dua arah yang berkesinambungan adalah kata kunci.

Kedua, terplintir yang sering terjadi adalah “buru-buru jualan”. Maksudnya adalah, berkiprah di socmed itu jelas sekali tujuannya adalah “berjualan”. Tetapi kalau Anda buru-buru berjualan tapi mengabaikan strategi membangun komunitas. Itu juga sebuah kesalahan, itu blunder. Sehingga ketika komunitas yang terbentuk masih relatif baru, membangun infrastruktur komunitas yang kokoh jangan dikalahkan keinginan untuk segera berjualan serampangan. Seringkali komunikasi yang terjadi berisi bak cerocosan salesman yang di jalanan yang seperti berlari-lari dikejar target penjualan. Secara strategi hal tidaklah salah tapi “keliru”, karena menyebabkan lalu lintas komunikasi di laman itu terasa kering kerontang karena isinya berbumbu nafsu-nafsi jualan semata. Ini jelas membosankan untuk para konsumen, tak jarang memuakkan.

Terus kalau tidak untuk jualan (marketing) untuk apa dong? Jawabannya untuk mengkomunikasikan produk dan jasa itu pasti, tetapi lebih memfokuskan membangun komunitas yang solid itu lebih utama. Kalau jaringan komunitas sudah terbentuk, dimana ada keterbukaan dan keintiman mulai terbentuk. Memulai jualan dengan bentuk apa saja akan lebih mudah dan terasa terkesan lebih alami. Karena dalam komunitas yang sudah terbentuk solid tersebut, tidak semata-mata mengobrolkan “kedigdayaan” produk atau jasa yang ditawarkan dalam hubungan jual-beli antar produsen-konsumen. Tetapi lebih dari itu, karena semangat membangun komunitas yang lebih alamiah dikedepankan, lewat dialog-dialog di socmed tadi. Maka proses me-marketing-kannya akan lebih soft dan jauh lebih mudah. Pastikan komunitas-nya terbentuk solid dulu sebelum berjualan.

Pengandaian paling mudah adalah, kalau Anda sudah kenal dengan seseorang dan frekuensi interaksinya sudah sering. Ketika Anda datang menawarkan sebuah produk atau jasa kepadanya, tingkat acceptance-nya lebih tinggi bukan? Karena ada aspek trust yang tercipta dan terselip disana. Ketimbang Anda tiba-tiba hadir menghampiri membawa sederetan barang dan jasa walaupun lebih canggih barangnya atau lebih hebat jasanya.

Nah, bagaimana format strategi marketing socmed perusahaan Anda?

Credit Photo : www.therainmakerblog.com

Previous

Proteksi Pemerintah untuk Infant Industries

Next

3 Langkah Agar Mimpi Menjadi Wirausaha Tetap Menyala

2 Comments

  1. Wisnu Gardjito

    Luar biasa “perkeling” (peringatan) dari Mas Donny ini. Saya setuju 1.000% (seribu persen) mas. Istilah saya marketing via socmed adalah : Nuclear marketing. So, kalau mau nembak satu orang yang dipake bom nuklir tiwas hancur berantakan, dan berantakan kemana-mana. Urut-urutannya memang TETAP : awareness, acceptance, preference, nah terakhir baru Loyalty. Contoh gampangnya, 4 bulan yang lalu saya “di-oleh-olehi” Mas Donny Bakpia….waktu itu saya nyelethuk Bakpia Pathuk ya mas. Kala itu mas Donny hanya tersenyum di kulum, diem seribu bahasa nggak protes babar blas. Nah sekarang saya ketagihan dengan Bakpia yang diberikan mas Donny. Dan dua minggu yang lalu sambil lesehan di “angkringan” Stasiun Tugu saya sekali dibawakan oleh oleh Bakpia-nya Mas Donny, tapi kali ini saya sudah aware, sudah accept, sudah prefer sampai sudah loyal dengan Bakpia yang uenak tenan itu. Ternyata saya baru sadar Merk-nya ternyata Bakpia “PIA-PIA”…..waktu pertama sich cuma tahunya Bakpia-nya mas Donny sekeluarga…tapi sekarang teman-teman saya selalu saya sarankan, kalau ke Jogja mbeli aja Bakpia yang mereknya Pia-Pia…..ciri-cirinya Bakpianya gendut, legit, gurih, mak nyuuuussss dan aromanya itu lho yang nagihi…..lha ternyata alon-alon waton kelakonnya cespleng ya mas Donny…..saluuut !
    Salam sukses selalu.
    Wisnu

    • Dr.Wisnu bisa saja ini, matur nuwun berkenan mampir, kapan-kapan kita ngobrol lagi Pak Wisnu….terima kasih berkenan “mempromosikan” Pia-Pia sebagai oleh-oleh khas Jogja….

      Salam sukses juga untuk Pak Wisnu 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén