Ketika Mama Mengerek Bendera Entrepreneur Ketika Mama Mengerek Bendera Entrepreneur mom entrepreneurs

Menjadi Ibu dan tetap memilih tetap ngantor, terkadang menghadirkan sebuah dilema tersendiri. Apalagi kalau budaya kantor yang dimasuki tergolong menggilai kerja sampai malam, dijamin kualitas pertemuan dengan sang putera-puteri menjadi tereduksi signifikan. Ini belum lagi jebakan macetnya jalanan, membuat jam keberangkatan menjadi “semakin pagi” untuk menghindari kemacetan, yang itu berarti semakin menyunat waktu kebersamaan bersama anak-anak. Apalagi kalau mereka masih lucu-lucunya (balita).

Sementara yang kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri (resigned) dari rutinitas kerja yang menyergap, seperti yang dilakukan beberapa kolega perempuan saya, permasalahan baru hadir. Waktu untuk menyanding dan berdendang bersama putera-puteri memang terpenuhi ketika penuh menjadi ibu rumah tangga. Bersih-bersih sudah, menjemput anak nanti agak siangan, sementara arisan di komplek yang sebulan sekali masih di ujung maghrib nanti. Ada jeda waktu cukup panjang terjadi. Yang biasa bekerja kantoran, jeda waktu tadi menjadi terasa teramat panjang dan terkadang membosankan. Sebuah langkah yang cukup dilematis.

Minggu lalu saya menghadiri kopdar KAJI (Komunitas Alumni Jepang di Indonesia) ke-8 yang rutin dilakukan tiap 2 bulan. Salah satu agenda yang diusung cukup menarik, “Let’s Start Business From Garage”. Dengan pembicara seorang “Mama”, yakni Ibu Taufiq, seorang Mama yang menjalani lelakon menjadi Ibu yang lebih produktif dengan berperan sebagai Entrepreneur Mom dari rumah. Berawal dari keinginan untuk bisa lebih produktif tanpa harus mengorbankan waktu berharga bersama keluarga dan putera-puterinya. Maka, disulaplah kamar pembantu dan garasi mobil di rumah menjadi “pabrik kue kecil-kecilan” yang diberi merek D’Sultan.

Kru yang menggawanginya, rata-rata diambilkan dari tetangga sekitar dan tetangga di kampung yang kebetulan “kurang beruntung” dalam hidup. Mulai dari yang putus sekolah sampai didera kemiskinan yang akut, tak heran rata-rata kru-nya hanya lulusan SMP. Tapi cerita bisnis dari garasi di daerah Depok inilah, sekarang Ibu Taufiq berhasil menyebarkan 500 dus kue merek D’Sultan ke Jabodetabek tiap harinya. Semuanya pun dimulai dari sedikit-demi sedikit, dari Cuma satu oven, kru cuman beberapa gelintir, baru sedikit kue yang terbeli. Tapi semuanya dilakoni step by step, dan improvement dilakukan setiap hari. Toh, kalau dilakoni dengan penuh kesungguhan, 500 dus per hari kesampaian juga.

Cerita menarik dari sharing Ibu Taufiq adalah, tidak perlu berdesak-desakan di pagi maupun petang di jalanan yang terkadang tidak ramah. Tidak ada putera-puteri yang menjadi “anak-nya mbak” yang terkadang sudah terlelap dikeloni sang Mbak di rumah karena menunggu Mamanya belum kunjung pulang masih berkutat dengan ihwal kantor yang belum selesai. Keuntungan lain, ada peran sosial yang direngkuh dengan mengajak tetangga sekitar yang belum beruntung untuk ikut mengepulkan asap dapur. Singkatnya lebih produktif dan positif.

Barangkali pilihan mengerek bendera entrepreneur untuk Mama merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Tetapi ada beberapa catatan penting agar proses seorang Mama sukses mengerek usaha rumahan ini (home based business) berjalan mulus :

Pertama, pastikan usaha rumahan yang dipilih berbasis passion (kata hati dan minat). Tidak semua Mama menyukai masak-memasak. Ada yang lebih suka dan telaten membikin selimut (bed cover) dengan beragam corak. Dan ternyata peminatnya melimpah ruah seperti yang dilakoni beberapa kolega saya. Atau lebih menyukai menyukai berdagang kosmetik. Prinsipnya jangan sampai menerjuni usaha rumahan dimana keputusan menerjuninya karena melihat Mama lain sukses dengan bidang tertentu. Cara paling gampang adalah mengikuti kata hati dan hobi. Hal ini penting, jadi kalo ada permasalahan mendera, karena sudah kata hati dan hobi, tidak mudah untuk menyerah. Wong suka kok 🙂

Kedua, karena mengawali dari awal, lebih baik dimulai dengan hal yang bisa dilakoni dulu. Jangan terburu nafsu menggelontorkan dana besar untuk sebuah bisnis, ketika seorang Mama belum terbiasa menangani sekup bisnis tertentu, dilakoni yang mampu dulu. Karena godaan ingin segera besar itu adalah lumrah. Tapi dengan terbiasa menangani dengan sekup yang mampu ditangani (mulai dari yang kecil), ketika omset membesar yang juga dihadiri dengan problem yang lebih kompleks, Mama yang juga sibuk mengurus Putera-Puteri tercinta tidak keteteran mengurus bisnis rumahannya.

Jadi tertarik untuk punya bisnis rumahan sendiri dengan tetap bisa puas “berkencan” dengan putera-puteri tiap hari ? Tidak ada salahnya untuk mulai mengerek tali bendera entrepreneur yang sudah dilakukan Ibu Taufiq. Teriring doa semoga Para Mama sukses…..

* Terima kasih untuk Ibu Taufiq yang berkenan sharing sekaligus menyemangati di acara Kopdar

Credit Photo : entrepreneur-degree.com