Kesalahan Yang Kerap Terjadi dalam Business Plan

Kesalahan Yang Kerap Terjadi dalam Business Plan Kesalahan Yang Kerap Terjadi dalam Business Plan article new ehow images a06 d4 je write business plan canada

Salah satu yang selalu membuat saya “kangen” berdiskusi di kelas mahasiswa adalah, disamping mendengarkan ide-ide segarnya yang terkadang muncul. Acapkali juga dibumbui “kecerobohan” yang sangat ala anak muda. Di titik itu, dengan berdiskusi bersama mereka, tanpa bermaksud “mendikte”, saya mencoba menyentak diskusi di kelas itu dari perspektif lain yang menggugahnya bahwa terkadang masih ada “kelemahan” dari ide yang mereka sampaikan. Jelas bukan karena “kebodohan”, tapi berkaitan dengan minimnya jam terbang yang mereka miliki. Itulah sebabnya gunanya proses pembelajaran yang berkelanjutan.

Suatu saat di sebuah kelas Proposal Bisnis, saya menugaskan tiap kelompok membuat semacam “business plan” yang akan mereka diskusikan secara kelompok mulai dari pemilihan bisnis yang ingin dipilih sampai pemilihan business model yang cocok. Setiap grup mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan ide bisnisnya dalam bentuk business plan. Sementara grup lain sebagai mendengar akan memposisikan seolah sebagai investor yang akan “mengadili” kelemahan business plan yang presentasi. Begitu pula sebaliknya.

Dari diskusi “menarik” di kelas Proposal Bisnis, kalau kita anggap mahasiswa adalah sama seperti orang yang baru meraba dan belajar menginisasi bisnis, ada beberapa catatan menarik yang bisa diambil berkenaan dengan kesalahan yang biasa terjadi ketika menyusun business plan di awal-awal memulai bisnis :

Pertama, kesulitan menemukan “kerepotan” sesungguhnya dari orang lain. Dengan menyingkirkan kerepotan orang lain itulah sesungguhnya peluang bisnis atau ide bisnis bertitik tolak. Business plan yang baik dan solid sesungguhnya mampu menghadirkan sebuah solusi yang tepat. Sehingga para pelanggan mau merogoh kocek lebih dalam agar “kerepotan” dan “keribetan” yang mengungkunginya sirna. Semakin tinggi tingkat kerepotan itu bisa dihilangkan, semakin besarlah business plan yang digulirkan menuai keberhasilan. Yang sering terjadi, seringkali para pelaku bisnis di tataran awal, lebih bisa menemukan “kerepotan sampingan” ketimbang “kerepotan utama” yang menggelayuti calon pelanggannya. Sehingga business plan-nya terlihat sedikit kurang solid.

Kedua, dalam mendiskusikan business plan, para mahasiswa sebagai representasi dari pebisnis baru lebih piawai “membincangkan” bagaimana cara menjalankan aspek-aspek roda bisnis, seperti bagaimana “tugas mengadministrasi” ketimbang implementasi penerapan strategi manuver bisnis-nya. Misalnya, bagaimana isi business plan yang didiskusikan membincangkan langkah-langkah konsumen tertarik dengan tawaran bisnis yang kita inisiasi, atau bisa mencuri start dengan mendapatkan pesanan dari pelanggan sebelum proses penjualan dimulai. Bukan berarti proses “mengadministrasi” dalam bisnis tidak penting, tetapi membincangkan dengan detail dan seksama manuver bisnis strategi penjualan, pemasaran dan pendistribusiannya di awal pembuatan business plan merupakan hal lebih penting. Karena disitulah roh cash in yang akan menghidupi bisnis yang hendak dijalankan bermuara. Ternyata jebakan manuver administratif lebih mengemuka.

Ketiga, mencoba memuaskan kebutuhan setiap orang. Niatnya sih baik membuat orang “happy” dengan bisnis yang akan dijalani. Kenyataannya, adalah hal yang mustahil membuat semua orang tersenyum dan tertawa lebar dengan hadirnya bisnis yang kita inisiasi. Business plan yang solid lahir dari kefokusan melihat inti masalah yang hendak diselesaikan. Sebuah solusi problem yang cakupannya kecil tetapi dalam menghujam. Bukan penyelesaian beragam problem dengan “kedangkalan” solusi. Itu terbalik. Tapi inilah kenyataannya, dalam diskusi menarik hari itu di kelas yang saya ajar, keinginan untuk bisa “menggembirakan” semua orang masih menjadi pilihan dominan.

Jadi, kalau ingin manuver bisnisnya sukses, pastikan business plan yang dibangun tidak terkontaminasi hal-hal di atas. Terima kasih untuk diskusi yang menarik mahasiswaku 🙂

Credit Photo : ehow.com

Previous

Talent War dan Fenomena Generasi Y

Next

8 Karakteristik Segmen Kelas Menengah Indonesia

18 Comments

  1. agus salim

    assalamualaikum…
    pak Donny masuk akal dan cocok makalahnya

    saya mau tanya : terus bagaimana kita membuat business plan yang berkualitas agar tidak terjadi kesalahan?? Mohon Jelaskan!

    • @Agus Salim : Tidak mungkin sepenuhnya business plan akan 100% persen solid dan sempurna. Yang paling penting bagaimana dalam menyusunnya kita selalu “membaca” fakta-fakta pasar dengan jujur. Salah satunya caranya ya dengan merisetnya lebih dulu secara seksama. Selalu di-cross check data yang ada dengan data di lapangan. Sehingga cash in yang diprediksi dalam penyusunan business plan tidak terpaut jauh ketika dijalankan. Dan beberapa kesalahan di atas adalah common mistakes (kesalahan yang umum terjadi) dalam penyusunan business plan.

  2. good suggestion n thank’s for thesolution 🙂

  3. agus salim

    pak bagaimana cara membuat business palan yang berkualitas agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan diatas??

  4. muchlis choeiruddin

    Business plan yang solid lahir dari kefokusan melihat inti masalah yang hendak diselesaikan. Sebuah problem yang cakupannya kecil tetapi dalam menghujam. Bukan penyelesaian beragam problem dengan “kedangkalan” solusi. Itu terbalik.

    inti dari kata-kata ini apa pak…?

    • @Muchlis C : Sorry, ada yang kurang dari pernyataan saya di tulisan Blog saya “..Sebuah solusi problem yang cakupannya kecil tetapi dalam menghujam. Bukan solusi penyelesaian beragam problem dengan “kedangkalan” solusi..” kurang kata-kata solusi. Artinya jelas, lebih baik mempunyai sedikit solusi tetapi jalan keluar dari solusi itu komphrensif dan mendalam, ketimbang kita menghadirkan banyak solusi tetapi solusi masing-masing permasalahan tadi hanya di permukaannya saja. Karena sesungguhnya bisnis bermuara pada hal fokus dan butuh solusi detil yang komprehensif. Semoga bermanfaat, terima kasih bersedia mampir 🙂

  5. “Ketiga, mencoba memuaskan kebutuhan setiap orang”.

    Saya memang, sangat terinspirasi dengan quotes dari bapak “Bisnis itu ialah menyelesaikan masalah orang lain, semakin terselesaikannya dengan baik problem itu, bisnis itu akan menjadi lebih bagus” Saya akan sedikit mencoba mempraktikan apa makna dari quotes bpk tsb.

    Memang pak cukup diakui, “jam terbang”, kata2 yg sering didengungkan om saya kpd saya, masih sangat sangat kecil krn kami msh berstatus sbg mahasiswa, tingkat awal pula, tapi dsini saya mau sedikit konfirmasi, justru ide2 menarik yg tak terpikirkan sbelumnya nyatanya ada di kaum kami, “para pemuda” itulah nilai jual kami, tp sayangnya kebanyakan dari kami keburu “ketakutan” untuk terjun dalam suatu bisnis, karena rentan akan pengalaman dan takut Rugi, “Indonesia BANGET” :p

    Sbg contoh saja baru-baru ini, sebuah ide di bayar dengan harga 1 milyar US. Dollar padahal hnya menciptakan suatu software yang lebih simple dibanding photoshop maupun paint, “baca:Instagram” sumber: http://www.republika.co.id/berita/trendtek/gadget/12/04/10/m28mm6-pencipta-instagram-kaya-raya-mendadak

    Intinya, bagaimana motivasi dari bapak pribadi, agar kami gk takut dan pantang menyerah dalam memulai dari suatu usaha/bisnis.

    Sumonggo~~

  6. setuju sama pendapat pak Donny tentang kesalahan yg kedua .

    karena sebagai pemula dalam bisnis, kita terkadang terjebak dalam ketakutan mengenai beban beban administrasi yg akan muncul saat bisnis mulai berkembang,
    sehingga kita lebih terfokus akan hal itu dan melupakan esensi dari business plan tsb,
    dan ketakutan itu pula yg kadang membuat kita ragu untuk memulai suatu bisnis.
    at least yg paling penting adalah merencanakan / membuat/memikirkan strategi penjualan secara matang karena hal tsb lah yg akan menentukan berhasil atau tidaknya bisnis kita.

  7. mirna

    betul kata pa donny,

    “menyingkirkan kerepotan orang lain adalh sebuah peluang bisnis”.
    tetapi saya sendiri berfikir begitu sulitnya mencari kerepotan orang lain tersebut. Padahal banyak sekali yang kita ketahui tentang itu dan mungkin saya merasakan kerepotan tersebut. Yaa,,tapi itulah yang sulit saya dapatkan pa..!.

    Apa lagi ketika saya berfikir sekilas ingin membuat bisnis kecil-kecilan yang cukup untuk uang jajan saya, tapi selalu terlintas rasa takut. Takut gagal, produk kurang disukai dan takut tidak mampu bersaing dengan pesaing lainnya. Dan… akhirnya saya takut… merasa kapok..

  8. boe

    kesimpulan dari ketiga point yang saya tangkap

    1. kita harus bisa melihat di sekitar kita, karena banyak peluang bisnis berawal dari hal kecil ( bukan kebutuhan utama tetapi ini harus dipenuhi, untuk memenuhi hasrat “ingin atau harus”)

    2. kita harus bisa memprioritaskan, atau dalam artian kita harus bisa mendahulukan pilihan yang mana harus di dahulukan untuk membuat/mempercepat pencapaian.

    3. kita harus memfokuskan apa yang sudah kita pilih, bukan berarti tidak boleh memilih dua pilihan. tetapi ada baiknya fokuskan dulu pilihan kita. dengan fokus ini kita bisa memberi nilai penuh untuk konsumen

    kurang lebihnya seperti itu ya pak.
    LIKE YOUR POST BRO…. 😀

    makasih postingannya Pak, dan tetap bimbing kami agar tidak terjebak, di jebakan manuver bisnis 😀

  9. Dea Anindya

    saya setuju dengan pendapat pak Donny diatas dalam kesalahan business plan tentang kesulitan menemukan “kerepotan” dalam berbagai bentuk, biaya-biaya administrasi dalam sebuah business plan, dan mencoba memuaskan kebutuhan setiap orang.

    Dan ada juga masalah/kesalahan yang sering saya lihat disekeliling saya adalah masalah waktu yang susah sekali dipecahkan atau kurang efisien pak, itu gimana?

    Dan kan Business Plan/Rencana Bisnis itu adalah ringkasan Tertulis mengenai rencana pendirian perusahaan/bisnis. Itu sebenarnya hanya sebuah pengertian saja atau malah harus kita lakukan terlebih dahulu? Tolong dijelaskan pak.

  10. Arvina

    membicarakan tentang bisnis ,,,,
    bagaimana sih pak cara merubah mind-set kita yang tadinya tidak tertarik dengan berbisnis, hingga akhirnya kita bisa menikmati berbisnis dengan hati senang melakukan bisnis tersebut ,,,, ?
    terima kasih …

  11. gulit

    Mantap pak . .
    Intinya seh kalau menurut saya pribadi, cukup Learning by doing, Trial,Trial and Error ..

    Sukses selalu ya pak . .

  12. Ass .
    salam bisnis pak ..

    masalah jam terbang ( pengalaman ) memang sangat dibutuhkan dlm mengawali sebuah bisnis.Apalagi semakin banyaknya para pesaing. Saya pribadi sebagai mahasiswa yg minim pngalaman terkadang bingung dlm mnyikapi pengambilan kputusan sebuah ide bisnis. Namun saya yakin mahasiswa mampu mnciptakan ide” unik yg mampu bersaing di dunia bisnis. Asalkan selalu ada kemauan utk mencoba,mencoba,mencoba lagi, dan mencoba .

    terima kasih pak utk bimbingannya .

    wass ..

  13. sule

    setuju dengan pendapat pak Donny kesalahan yang sering terjadi oleh pebisnis yaitu “mencoba memuaskan kebutuhan setiap orang. Niatnya sih baik membuat orang “happy” dengan bisnis yang akan dijalani”. hal ini melenceng dari tujuan berbisnis yaitu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén