Kelas Menengah, Aspek Lokal dan Kemauan

Kelas Menengah, Aspek Lokal dan Kemauan Kelas Menengah, Aspek Lokal dan Kemauan middle class1

Membaca berita di BBC tentang melentingnya jumlah kelas menengah yang sering dikenal sebagai middle class di Indonesia memang berita yang menggembirakan. Dengan pendapatan perkapita yang mencapai 3000 dollar menjadikan pasar Indonesia lebih atraktif di mata pasar luar negeri. Menurut Data dari Financial Reform Institute (FRI) yang dilansir Infobanknews.com mencatat pertumbuhan penduduk kelas menengah di Indonesia mencapai 56% atau sebanyak 134 juta pada 2010. Ibarat seorang gadis, Indonesia bak menjelma gadis cantik mekar yang menarik banyak pria-pria.

Ini menjawab mengapa di orang-orang yang nongkrong di restoran semakin ramai, mobil-mobil baru mulai bersliweran, bahkan di kota-kota menengah di daerah kemacetan kecil mulai mendera di waktu-waktu tertentu, sekolah berkualitas bagus tetap dibanjiri murid-murid (hanya bisa geleng-geleng kepala). Dengan naiknya standar hidup, mulai banyak warga kelas menengah mengeluarkan pengeluaran lebih ke servis. Proporsi pengeluran untuk perumahan dan servis seperti pendidikan, komunikasi, hiburan pun meningkat tajam.

Data dari Euromonitor yang dikutip Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) mencatat Consumer Expenditure by Broad Category di Indonesia, jumlah pengeluaran terbesar masih disumbang Food and non-alcholic Baverages sebesar 41,7 %, level kedua ditempati Perumahan 17,2 %, Pendidikan 7,1 %. Menggeliatnya jumlah kelas menengah menjadikan sentra-sentra bisnis baru mulai bermekaran dalam rangka menjawab naiknya kebutuhan kelas menengah tersebut. Deutsche Bank Research dan Euromonitor memprediksi dalam lima tahun kedepan jumlah kelas menengah Indonesia bisa dua kali lipat dari jumlah kelas menengah tahun 2010.

Mungkin jumlah kelas menengah dan alat ukur untuk menilai ukuran jumlah ukuran kelas menengah Indonesia bisa jadi berbeda dari tiap institusi yang merisetnya. Tapi satu hal jelas kentara, jumlah kelas menengah Indonesia mulai menggeliat naik. Yang “merisaukan” saya, bisnis yang dibangun untuk memenuhi berkembangnya kebutuhan kelas menengah Indonesia masih belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh para pebisnis Indonesia itu sendiri. Walaupun secara data saya tidak mempunyai data detail, menjamurnya resto dan kedai minuman buat nongkrong masih didominasi resto dan kedai milik franchise asing. Contoh paling telanjang dan gampang Kerumunan dan antrian menyemut di sebuah kedai kopi dari Amerika (padahal konon kopi terenak berasal dari negeri ini) masih terjadi sampai saat ini. Anomali bukan?

Di sektor pendidikan pun idem ditto, naiknya kesadaran akan pentingnya pendidikan di kalangan kelas menengah Indonesia juga disambar dengan cekatan beberapa “pemain luar” dengan terbuktinya menjamurnya sekolah Kindergarten sampai sekolah menengah atas berafiliasi asing (kebanyakan bilingual) sampai maraknya agen pendidikan sekolah luar negeri yang menjamur tidak hanya di kota-kota besar, kota-kota yang “gemuk” jumlah kelas menengahnya, sudah banyak kantor cabangnya. Terkadang saya sendiri pun geram, mengapa banyak business opportunity menguap padahal konsumennya jelas-jelas orang Indonesia dan tempatnya di “kandang” sendiri, tetapi mesin kasir penerimanya dari luar. Sungguh, Saya sedang tidak sedang menyuntikkan kebencian pada produk asing atau mengkampanyekan anti produk asing, ini fakta yang terjadi.

Kita yang abai dengan kesempatan ini atau ini atau pura-pura tidak tahu?

Tidak bijaksana hanya nyinyir dan memprotes dengan menyalahkan kondisi seperti ini, tiga tahun lalu istri saya dan beberapa temannya (usaha bersama) dengan sedikit usaha dengan membikin silabus pendidikan untuk pendidikan usia dini, diramulah silabus berbau “internasional” yang dicampur dengan nilai-nilai lokal ternyata juga bisa membuat sekolah kindergarten yang bisa menarik murid dari kalangan kelas menengah. Tahun pertama muridnya cuma puluhan, tapi tahun ketiga sudah bisa menggaet murid di atas 100 anak. Sekarang sudah berencana membuat cabang untuk ekspansi, di sisi lain banyak ibu-ibu lain dari luar kota ingin ikut membangun sekolah dengan konsep yang sama dengan minta cara franchise di sekolah tersebut. Sementara beberapa kolega saya di Jogja juga ada yang sukses membikin resto yang produk makanannya khas Indonesia. Toh, bisa laku menyedot pelanggan yang mau mencicipi makanannya. Jadi, tidak mesti restoran berafiliasi asing semata yang bisa menarik dan membuat pembelinya menyemut. Aspek lokal kalau mau digarap serius bakal bisa menarik konsumen. Tidak ada korelasi yang signifikan bisnis yang atraktif dan menjanjikan untuk kelas menengah harus berbau-bau asing. Match to consumer’s need is a key.

Akhirnya, menjemput bola dalam bisnis, di tengah mekarnya kelas menengah Indonesia terletak pada kemauan yang kokoh untuk memulainya. Itu saja yang diperlukan dan kesempatan terkadang tidak mampir dua kali.

Credit Photo : www.themiddleclass.bigcartel.com

Previous

One Heart : Serangan Balik Sang Pemimpin Pasar

Next

Building Indonesian Strong Brand

6 Comments

  1. nurfadilah

    good Sir,
    ternyata bukan hanya pulau-pulaunya yang indah yang bisa membuat takjub para wisatawan ,,tetapi dgn pendidikan yang baik, Middle Class nya juga bisa membantu Negara kita lebih maju dengan partisipasi para pelajar yang sanggup tuk join.
    and then..semoga para pebisnis Indonesia mampu memanfaatkan middle class tersebut.

    thanks for your information this week.

  2. gulit marco

    Middle class sudah berReformasi !!!!
    benar kata pembuat blog ini, Middle class Indonesia belum bisa atau sedikit buram dalam melihat opportunity pada era ini..
    tapi middle class tidak hanya aspek bisnis saja yang berkembang, contoh kecil, Politik di indonesia reformasi Middle class sudah sangat berjalan dengan begitu garangnya !!!!

    memang benar pepatah Cina Setitik tinta merah akan membesar jika di goreskan ke tisu . . hehehe (apa coba) ..

    hidup middle class !!!!!!!!!!!

    • @Gulit : Dari perspektif politik, kaum menengah Indonesia sudah tergolong lumayan, tapi dari perspektif bisnis, masih banyak kelas menengah kita “terjebak” menjadi kelompok pasif yang menikmati semata. Sementara banyak entitas bisnis dari luar yang memanfaatkan peluang ini. Kelas menengah masih menjadi “penonton” belum pemain. Ini yang disayangkan dan perlu “dikoreksi”. Thanks for stop by 🙂

  3. Dewi C. M

    That’s right sir ^_^
    no actions no result. it depend on our self.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén