Kachou, Entrepreneur Maker dan China

Kachou, Entrepreneur Maker dan China Kachou, Entrepreneur Maker dan China dragon dance tran duc tai

Lebih baik menyalakan dan mati-matian menjaga sebatang lilin agar tetap menyala daripada terus-menerus ‘menyumpahi’ kegelapan” (Sebuah peribahasa China)

Beberapa tahun silam, ketika saya magang di sebuah perusahaan di sebuah kota kecil di prefecture Shizuoka, Jepang, waktu kyuukei (waktu istirahat) seorang kachou (kepala bagian) di tempat kerja mengajak bincang-bincang suatu topik yang saat ini saya baru “menyadari” arti perbincangan pendek kala itu. “Ayah saya berprofesi sebagai kepala cabang yang bertanggung jawab menjual barang “X” di sebuah kota di Indonesia”, papar saya dalam bahasa Jepang terpatah-patah ketika ditanya profesi ayah saya. “Ah sou ka?” jawab sang kachou dengan menggangguk tetap sopan menanggapi, artinya kurang lebih “oh begitu ya”. “Sebuah pekerjaan yang menarik”, ungkapnya diplomatis, “Tapi bagi orang Jepang, membuat suatu produk barang sendiri itu akan lebih “bernilai”, jawabnya sambil tersenyum penuh arti. Sayang kala itu saya tidak dapat “mencerna” sepenuhnya arti kata itu.

Saat ini dikala gempuran persaingan yang kian mengetat, khususnya membanjirnya produk-produk nan murah terutama dari negeri tirai bambu (China), perlahan saya menjadi paham apa sebenarnya maksud sang kachou. Rekan-rekan bisnis saya di Indonesia yang bisnis inti-nya hanya “menjual” alias menjadi broker penjualan produk tertentu merasakan betul “pahitnya” bersaing dengan produk China yang dijual dengan harga yang murah. Tak ayal, yang nafas bisnisnya pendek, perusahaan yang basisnya hanya sebagai “trader”, rata-rata menjadi perusahaan yang pertama dulu gulung tikar karena harga jualnya “kalah jauh” dari produk China yang dibuat oleh entrepreneur Indonesia tetapi mempunyai basis industri (sebagian komponen-nya) dibuat di China.

Fenomena kekinian yang dengan diberlakukannya free trade area Asean-China membukakan arti pembicaraan hampir satu dekade lampau bahwa peta persaingan tidak lagi bertumpu serta mengandalkan “pemindahan barang” ala kadarnya serta meraih margin dari penjualan itu, tetapi sudah saatnya kita harus “memproduksi” barang itu agar skala ekonominya menguntungkan. Dengan kata lain shift paradigm merupakan sebuah keniscayaan dari “entrepreneur trader” menjadi “entrepreneur maker”.

Memang tidak mudah untuk menggubah paradigma ini. Tapi ini harus segera dimulai untuk “menekuni” suatu bidang tertentu. Dan seperti yang dilakukan oleh Jepang dengan kaizen-nya (perbaikan terus menerus), improvement yang tidak mengenal lelah agar produk atau jasa yang disodorkan menjadi lebih baik harus menjadi panglima agar tidak gulung tikar. Artinya tumpu pemahaman akan core business yang dilakoni yang cenderung “spesialis” merupakan aksi yang tidak bisa ditawar lagi di era ini.

Peta persaingan dunia agaknya memang sudah bergeser. Perusahaan-perusahaan China mulai melakukan ekspansi bisnis ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Tulisan di berbagai media bisnis dan ekonomi menunjukkan tidak sekedar Indonesia saja yang “diserang”, tapi ini adalah konsekuensi logis dari persaingan bebas yang didengung-dengungkan. Beberapa kolega bisnis, bahkan para ahli banyak yang mengeluh, bahkan menyumpahi “kondisi sulit” ini gara-gara peran Pemerintah yang “lamban”, keran industrialisai yang dibuka terlampau cepat, serta sederetan analisis lainnya.

Barangkali analisis yang disampaikan adalah benar adanya. Tetapi mengeluarkan banyak energi untuk sekedar menyumpahi, nada nyinyir menyalahkan sungguh merupakan hal yang tidak akan membalikkan kondisi bangsa ini untuk memenangkan persaingan ini. Bukan berarti tidak boleh mengkritik, tetapi kita tidak perlu terpaku untuk sekedar “terjebak” pada wacana mengeritik, tetapi pencarian solusi yang terbaik agar keluar dari permasalahan ini merupakan langkah yang lebih bijak.

Mengapa Korea Selatan yang ketika Indonesia sudah merdeka, negaranya masih bergumul dengan perang saudara dengan Korea Utara mampu melahirkan perusahaan perusahaan kelas dunia semacam Samsung yang mampu menyalip Sony ? Atau Negeri China yang diperintah dengan tangan besi partai komunis di era 60-an toh juga mampu melahirkan perusahaan kelas dunia sekaligus menduduki posisi ke 3 kekuatan ekonomi dunia dengan menggeser posisi Jerman?

Padahal mereka juga makan nasi juga seperti kita. Mereka…Jepang….Korea…China bisa….pasti kita juga bisa. Bukan saatnya mengeluh serta menyalahkan siapapun, saatnya kita bekerja lebih baik…serta lebih baik….dan lebih baik lagi.

In Memoriam Harada Yoshiho (Kachou) :
とてもいい勉強になりました。御礼の言葉もございません。。。。。

Credit Photo : Tran Duc Tai@flickr.com

Previous

PLN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia 2012

Next

Tips Kecil untuk Kohai Kenshusei

2 Comments

  1. Mungkin kita di manjakan dengan SDA kalai aja yaaah…. waktu sekolah selalu di bilang negara kita adalah negara yang kaya

    • @My Blog : Apapun alasannya Mas, sepertinya tidak bisa dijadikan pembenaran. Kompetisi global yang sedemikian ketat menuntut kita juga “ketat” usahanya untuk maju. Anyway, thanks for stop by 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén