Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1

Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1 Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1 foto buku jurus jitu
Banyak hal diperlukan untuk meraih sukses dalam pekerjaan. Membaca buku ini serta menggabungkan 7 jurus yang ada di dalamnya akan menjadi panduan yang dapat memotivasi setiap pribadi yang ingin meraih sukses” ( komentar Andy F.Noya, Host Kick Andy )

Pertama kali saya mencermati judul buku yang cukup provokatif ini, bayangan pertama di benak saya, kolega saya ini “terjebak” juga akan kebanyakan buku-buku yang membanjiri toko-toko buku yang menawarkan beragam cara instan dan super cepat menjadi kaya dan populer. Tetapi sebaliknya, setelah mengulik halaman demi halaman buku tipisnya tersebut sampai tamat, ternyata saya salah menilai. Justru, proses pembentukan diri menjadi karyawan yang tough sekaligus siap memberikan best effort di setiap front kerja menjadi panglima di buku ini. Di tiap Bab-nya disisipi kisah-kisah yang cukup menggugah, pengalaman panjang serta mendalam sang penulis yang dikail dari pengalamannya menjadi karyawan selama 8 tahun, cukup inspiratif.

Kalau pertanyaan dilontarkan “Anda ingin jadi karyawan No.1?”, saya yakin jawaban “iya” akan mendominasi. Pertanyaan berikutnya “Usaha apa yang telah dilakukan untuk merengkuh posisi karyawan No.1?”, saya yakin nada-nada menyalahkan orang lain akan menyelip di jawaban pertanyaan kedua ini. Sesaat saya mencoba mengingat pengalaman pribadi saya menjadi karyawan beberapa tahun silam di sebuah kantor di kawasan kuningan. Acapkali di sela rapat-rapat, makan siang di kantin, ketemu rekan kerja di toilet pembicaraan didominasi kosa kata makian, bersungut-sungut, menyalahkan pihak ketiga atas “ketidak suksesan” yang ada di kantor. Mulai dari rekan sekerja yang “carmuk”-lah, sok pinter-lah atau menyalahkan bawahan kita yang lamban dan bego sehingga gara-gara mereka, kita tidak dapat promosi, sampai pembicaraan paling favorit dan selalu ditunggu-tunggu….gosipin atasan kita habis-habisan. Dan yang pasti dilakukan dibelakang bos kita.

Sangat jarang, saya menemui kolega kerja kala itu yang pembicaraannya secara sadar membicarakan “kelemahan” sendiri. Apalagi mencoba mendiskusikannya secara bening problema yang menyebabkan mandeknya karir kita, mengapa kita jarang diikut sertakan tim yang melanglang ke luar negeri untuk business-trip, mencari tahu mengapa pekerjaan kurang diapresiasi atasan merupakan contoh kasus yang seingat saya seringkali mengemuka. Singkatnya, mendadak sontak, kita lupa serta amnesia pada kesalahan sendiri. Kesalahan selalu ada di pihak sana, bukan di sini (baca: diri sendiri).

Dalam buku “Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1” inilah rekan partner konsultan saya, Widodo Aryanto dan Silvia Rita Fariani bertutur dengan tegas perlunya menyadari hakikat bahwa pengembangan diri dan masa depan seorang karyawan merupakan tanggung jawab pribadi sang karyawan sebagai individu, bukan semata tanggung jawab perusahaan (hal.12). Oleh karenanya kandidat karyawan No.1 seperti Anda tidak pantas “mengeluh” akan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki perusahaan. “Ambil tindakan sesegera mungkin, yang pertama , tentukan potensi diri yang ingin Anda kembangkan. Apakah hal tersebut sesuai dengan kebutuhan diri dan pilihan masa depan Anda atau keahlian yang saat ini dibutuhkan”, tulis beliau asertif.

Sesuai dengan judulnya yang cukup provokatif, buku ini secara eksploratif memaparkan 7 jurus yang digelindingkan kepada sidang pembaca agar senantiasa prestasinya gemilang di level “best of the best” di lingkungan kerja. Jurus pertama belajar mengenali diri sendiri dan mengembangkan potensi diri. Jurus kedua mengenali lingkungan Anda. Jurus Ketiga , Belajar mengenali kesempatan. Jurus keempat , membangun sikap positif. Jurus kelima, mengasah jiwa kepemimpinan. Jurus keenam, Membangun jejaring. Dan jurus terakhir, membangun benteng pertahanan.

Ditulis dengan gaya bertutur yang runtut nan mengalir serta diramu dengan pengalaman beliau sebagai manajer sekaligus sekper (sekretaris perusahaan) sebuah maskapai penerbangan. Buku ini sarat dengan pengalaman beliau yang perlu dibaca. Kalau merasa tidak puas dengan “kinerja perusahaan”, tidak disikapi dengan selalu menyalahkan pihak-pihak lain. Tetapi malah semakin mempertebal rasa mawas diri kedalam. Kalau memang sudah tidak memungkinan dan tidak sejalan dengan derap langkah perusahaan, mengajukan resignation alias mengundurkan diri dari perusahaan itu adalah tindakan bijak. Suatu tidakan ksatria ketimbang memaki-maki dan menyalahkan perusahaan, sebuah tindakan pengecut yang teramat mudah dilakukan.

Terlepas dari beberapa repitisi kata-kata di sana-sini yang cukup sering, buku sangat layak dibaca. Renyah dan mengalir, resep-resep praktis yang ditawarkan bisa langsung dipraktekan di kantor. Bahkan jurus jitu yang ada di buku ini telah beberapa kali diminta kepada kami menjadi materi pelatihan in house training di beberapa perusahaan. Semoga buku ini selalu menyalakan obor untuk tekad menjadi terbaik di lingkungan kerja kita. Berhenti menyalahkan orang lain, dan mulai “berbenah diri-sendiri”. Selamat berjuang menjadi karyawan No.1….

Credit Photo by : Private Property

Bagi Anda atau perusahaan Anda membutuhkan in house training dengan tema “Jurus Jitu Jadi Karyawan No.1” , dapat menghubungi kami disini.

Previous

Kisah Mantan Follower Market dari Negeri Gingseng

Next

Menyunat Kemubaziran, Mengakrabi Efisiensi ala Jepang

6 Comments

  1. Wah ada tulisan tentang jurus jitu jadi karyawan No.1 nih… Oh ya, saya jadi inget beberapa kali ikut pelatihan jurus jitu jadi karyawan No. 1? memang benar tuh selain buku ini sangat inspiratif, dalam pelatihannya juga juga banyak mendapatkan ilmu-ilmu dan bagaimana cara menciptakan kesempatan. saya masih inget Pak Widodo pernah bilang bahwa “kesempatan itu bukan datang dengan sendirinya melainkan kesempatan itu kita yang buat sehingga kesempatan pun tersebut datang kepada kita” itu kata-kata yang masih inget sampai sekarang. Pokoknya masih banyak lagi pengalaman saya mengikuti pelatihan Jurus Jitu Jadi Karyawan No. 1. (sangat menarik, memberikan motivasi dan inspiratif. Sukses terus untuk Pak Donny dan Pak Widodo. Bravo untuk Blog Manuver Bisnis nya Pak Donny…

  2. betul sekali, namun yg lebih parah (dan ini sering saya jumpai) mereka tdk bisa menyebutkan kelemahannya pun jg tdk mengerti kelebihan (skill) mereka sendiri. Nah repot kan klo nemu yg kaya begini 🙂

    • @Afithk: kalo yang seperti itu banyak Mas, saya juga heran kenapa…..btw terima kasih mampir di blog, ditunggu ulasan-ulasan cemerlangnya, khususnya perihal HR

  3. “mengundurkan diri dari perusahaan itu adalah tindakan bijak. Suatu tidakan ksatria ketimbang memaki-maki dan menyalahkan perusahaan, sebuah tindakan pengecut yang teramat mudah dilakukan.”

    Termasuk juga bikin demo “menuntut kenaikan upah” , bikin jalanan macet dan ga produktif. Bagi yang masih suka demo “menuntut kenaikan upah” , buku ini wajibdibaca, termasuk mampir menikmati renyahnya Blognya Pak Donny.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén