Maneki Neko Japanese Customer Behavior: Kibishi! Japanese Customer Behavior: Kibishi! maneki nekoBanyak orang “terpesona” ketika bertandang ke negeri matahari terbit, dan melakukan shopping di sana. Tingkat kesopanan serta service yang diberikan ketika kita berbelanja bisa dikatakan mereka ada di atas rata-rata. Tetapi pernahkah Anda memikirkan dengan kacamata sebaliknya, misalnya Anda sebagai penjual dan orang Jepang sebagai customer (pembeli). Pernahkah Anda membayangkannya ?

Bagi yang pernah bekerja atau pernah pengalaman bekerja part-time (arubaito) di perusahaan Jepang barangkali sedikit banyak akan paham bagaimana “complicated”-nya berurusan dengan “saudara tua” kita ini. Ini beberapa ekspektasi yang oleh orang atau perusahaan Jepang kalau kita membangun bisnis dengan mereka dari pengamatan yang ada:

Pertama, 厳しい (kibishi) alias sangat demanding. Untuk urusan satu, Anda harus punya daya tahan kesabaran extra dan rajin mengkonfirmasi permintaan dari mereka secara detail. Kalau tidak, Anda akan merasa “lelah sendiri”. Pernah saya membaca sebuah artikel yang membincangkan kecenderungan orang Jepang saat ketika membeli sayur-sayuran dan buah-buahan. Konsumen Jepang tidak hanya menuntut agar buah dan sayur itu punya rasa “enak” semata, akan tetapi dari segi penampilan haruslah tetap cantik dan menawan. Sebagai contoh buah timun, konsumen Jepang hanya akan memilih ketimun yang masih segar dan posturnya lurus, agak bengkok sedikit bentuk timunnya sudah banyak orang yang tidak mau beli. Apel juga tidak sekedar enak rasanya, tetapi secara penampilan harus kelihatan bulat segar dan merah. Untuk itu para konsumen siap membeli dengan harga yang tidak murah untuk high quality demand ini.

Kedua, long term commitment. Rata-rata konsumen Jepang mencari partner atau suppliers yang mau diajak kerjasama jangka panjang. Bukan short term commitment. Kalau Anda ditawari memasok sebuah perusahaan Jepang, jangan kaget kalau prosesnya lama dan panjang, kesannya seperti mengetes kesabaran. Pada titik ini, kalau ingin berhubungan panjang, jangan mudah “emosi” ketika menjumpai step-step yang melelahkan dan menguras energi. Tetapi sekali mendapat “kepercayaan” biasanya Anda akan menjadi patner seumur hidup. Saya pernah ketemu sebuah perushaan yang direkturnya sudah merupakan generasi ketiga yang punya list client lama yang didapat dari jaman kakek dan bapaknya.

Ketiga, mempunyai kontak person yang tetap (assigned contact person). Orang Jepang sangat menyukai kontak orang yang jadi penghubung tetap (担当者atau tantosha). Hal dilakukan untuk melakukan koordinasi dan konsistensi. Dan tidak kalah penting, hal ini penting untuk menghindari konflik pesan dari departemen yang berbeda. Jadi kalau memungkinkan jangan mudah mengganti ganti orang yang menjadi assigned person tadi. Saya sering melihat di beberapa perusahaan yang sudah berhubungan lama, tidak jarang ditempatkan orang dari pihak customer ditaruh di perusahaan supplier untuk memastikan jalur komunikasi dan koordinasi lancar. Jadi setiap hari dia ngantor di kantor supplier laiknya pegawai perusahaan tersebut.

Masih ada beberapa tipikal lain yang ada, tetapi tiga hal di atas merupakan tipikal customer Japanese yang sering ditemui. Apalagi ditengah investasi Jepang yang booming baru-baru ini ke Indonesia, meminjam survey data Bank Kerjasama Internasional Jepang (JBIC) menunjukkan untuk pertama kalinya sejak 21 tahun lalu posisi China disalip oleh Indonesia dalam hal investasi Jepang ke luar negeri. Apakah hal ini disebabkan karena hubungan Jepang dan China yang kurang harmonis berkenaan dengan pulau Senkaku. Akan tetapi data menunjukkan signal akan semakin derasnya perusahaan Jepang yang menyambangi Indonesia karena urusan bisnis. Hubungan dan relasi dengan orang Jepang diperkirakan akan meningkat kalau mencermati data tersebut.

Sayang sekali kalau peluang langka ini gagal diambil momentumnya. Meminjam kata-kata orang pemasaran, salah satu keberhasilan dalam membangun bisnis terletak pada kemampuan membaca perilaku kemauan konsumennya. Siap berbisnis dengan Perusahaan Jepang……..?????

Credit Photo: www.japanvisitor.com