Gross Profit Rate Discipline

Gross Profit Rate Discipline  Gross Profit Rate Discipline  calculator

A smart person learns from his or her mistakes. A wise person learns from other people’s mistakes” (diambil dari introduksi buku Knack karangan Norm Brodsky dan Bo Burlingham)

“Wah, pokoknya dijamin beli di tempatku lebih murah”, kata seorang kawan menawarkan sebuah produk,”Boleh dibandingkan dengan produk sejenis deh”, sambungnya antusias. “Oh begitu ya?”, jawab saya,” Memang omsetnya kalau dijual harga segitu, profit-nya cukup?” tanya saya. “Adalah, lumayan kok omsetnya,” jawabnya. “Dengan obral seperti ini barang yang aku jual cepat habis”, paparnya panjang lebar. “Dan lebih penting omset kita naik to?” tanyanya retoris. Ada benarnya statemen itu, tapi hati-hati juga dengan pendekatan itu.

Seringkali dalam praktek bisnis, apalagi yang baru meretas bisnis baru, beberapa entrepreneur baru ini “tergoda” melakukan obral atau sale agar omsetnya naik. Sehingga kalau ditanya berapa omset bisnisnya, dengan bangga akan disebut nilai omsetnya yang melambung tinggi itu. Tetapi giliran pertanyaan dikerucutkan lebih dalam, apakah profit-nya juga ikut melonjak tinggi setinggi omsetnya yang disebut tadi ? Saya tidak yakin semua akan mengamini pertanyaan tersebut, atau setidaknya untuk menjaga gengsi, maka dijawab dengan cepat bahwa untungnya equivalen dengan naiknya omset. Padahal belum tentu.

Ada kecenderungan di tempat kita, tergoda ikut-ikutan melakukan sale atau obral dengan menyunat keuntungan yang dipatok dengan harapan omset secara statistik melenting tapi sesungguhnya keuntungan barangkali naik tapi tidak sedramatis omset yang direngkuh memang acapkali menjadi budaya. Pertanyaan yang perlu direnungkan memang untungnya “sebanding” dengan effort yang dikeluarkan? Apalagi kalau price-strategy awal yang diterapkan memang hanya mengambil untung minimalis, kalau diobral terus gimana? Saya sering menyaksikan rekan-rekan yang membuka bisnis di awal-awal (pindah kuadran) melakukan hal ini. Seringkali akibatnya fatal, cash flow-nya tersendat, dan cerita sedihnya perusahaan tersebut harus menggulung lapaknya.

Norm Brodsky dan Bo Burlingham, kolumnis INC.Magazine dalam bukunya berjudul The Knack: How Street-Smart Entrepreneurs Learn to Handle Whatever Comes Up, mengingatkan pentingnya menjaga kedisplinan tingkat gross margin (laba kotor). Harus diingat bahwa sumber bisnis yang utama, yang membuat entitias bisnis tetap eksis adalah teraturnya cash flow yang sejatinya didapat dari gross profit yang direngkuh. Walaupun gross profit penting agar tetap mengalir, bukan berarti melupakan nilai keuntungan sesungguhnya yang merupakan jantung perusahaan untuk beroperasi.

Bukan berarti program sale atau obral tidak tidak boleh, tetapi perlu disesuaikan dengan kebijakan penentuan harga yang diambil. Kalau diprogramkan sering melakukan strategi obral yang bertujuan menegejar omset, pastikan tingkat harga jangan terlalu minimalis yang mepet dengan biaya produksi dan operasional. Jadi ketika melakukan obral atau sale, laba bersih yang notabene darah perusahaan tidak dikorbankan. Kalau terlalu mepet, sehingga laba untuk ditabung atau untuk perluasan usaha tipis, namanya bukan bisnis lagi tetapi “kerja bakti” hehehehe….

Bicara perluasan usaha yang seringkali terlupakan, jadi teringat sebuah cerita menarik tentang sebuah warung sate yang sangat ramai dan ramai dikunjungi pembeli. Di sebelah warung tersebut berdirilah sebuah toko yang hanya menjual macam-macam minuman. Para pembeli sate, membeli minuman di toko yang menjual aneka minuman (es buah, juice, dll). tersebut walaupun harganya tidak bisa dikatakan murah. Singkat cerita 10 tahun kemudian, toko penjual sate tersebut tokonya masih begitu-begitu saja dengan warung yang nyaris sama seperti 10 tahun lalu, sedangkan toko minuman di sebelahnya sudah menjelma menjadi toko menjual minuman khas dengan toko yang lebih bagus dengan penampilan lebih modern. Kalau dulu pembeli minumannya adalah “limpahan” dari pembeli warung sate disebelahnya. Sekarang pelanggannya yang datang khusus datang untuk menikmati kelezatan minuman yang disajikan.

Pelajaran yang bisa dipetik, warung penjual sate hanya mengutamakan omset dengan ramai pembeli walaupun untung tipis dan margin untuk perluasan usaha terbaikan. Eksis iya, tapi begitu-begitu saja. Sementara toko minuman di sampingnya walaupun awalnya hanya mendapat limpahan pembeli dari warung sate sebelahnya, pemiliknya “melek” pentingnya laba moderat untuk perluasan usaha. Tidak mengejar omset. Alhasil bisnisnya berkembang dan punya pelanggan sendiri. Setelah 10 tahun terlihat perbedaannya bukan?

Credit Photo : www.ehow.com

Previous

Ikan, Cabe dan Strategi Bisnis Agro

Next

CSR atau Customer Loyalty Program?

2 Comments

  1. afi

    nice share, Mas. Sepertinya, pemilik UKM lebih tertarik dengan angka omzet.

    Saya pernah mengelola operasional BaksoGranatz Sumpiuh dan menghitung net profit adalah pekerjaan terberat. He3…

    • @Afi : Terima kasih berkenan mampir, perlu tuh di-share pengalaman menghitung net profit BaksoGranatz, biar kita semua belajar, every one is a teacher 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén