Gamangshite Kudasai !

Gamangshite Kudasai ! Gamangshite Kudasai ! waitsign

Saya mendapatkan teman bicara menarik ketika menapaki sebuah perjalanan menaiki kereta api yang ditingkahi gerimis tipis dan awan gelap menyelimuti di suatu sore. Kebetulan lawan bicara saya seorang pemuda yang berprofesi menjadi pegawai negeri yang berkantor di sebuah departemen di lapangan banteng. Dari perbincangan tersebut, saya bisa tahu pemuda di hadapan saya cukup piawai dan cakap di bidangnya dibalik cara bertuturnya yang taktis dan hidup. Sungguh menggairahkan bicara dengan anak muda dengan struktur pemikirkan visioner seperti dia.

Salah satu topik yang memikat diobrolkan adalah fenomena ritus impor yang gemar dilakukan negeri ini untuk menutupi kebutuhan suatu barang yang dibutuhkan masyarakat. Yang menjadi alat “pembenar” aksi impor ini memang sekilas “sah” dalam kacamata bisnis. Atas nama efisiensi, perilaku impor barang yang kerap dikilahkan karena barang impor mempunyai harga yang lebih murah dengan produk yang lebih semohlai menjadi alasan pembenar kebijakan ini. Alhasil, produk produksi rakyat sendiri—karena disandingkan dengan barang impor–harganya ikut merosot, yang lebih memprihatinkan….ada yang gulung tikar dan kapok menekuni bisnis itu. What’s wrong ?

Perbincangan hangat di atas kereta api di sore itu menggamit saya ke sepenggal pengalaman di Jepang dulu di awal-awal magang bekerja. Kata-kata yang sering dan acapkali disorongkan orang Jepang kepada saya selain kata “ganbante kudasai” (tetap giat dan semangat) adalah untuk bersikap “gamang”, yakni sebuah sikap untuk tabah dan tidak gampang mengedepankan sebuah kemanjaan ketika suatu hal tidak nyaman hadir dalam proses awal menekuni pekerjaan baru. Sambil menepuk bahu, mereka selalu menguatkan kata-kata “Gamangshite kudasai ne Donny-kun!”

Orang Jepang sangat sering mengucapkan kata-kata ini untuk memberi motivasi diri dan orang lain untuk mengedepankan kesabaran dan mengharamkan kemanjaan instan yang terkadang menyelinap membunuh daya juang sebuah proses panjang. Masih segar diingatan, seorang Konosuke Matsuhita, pendiri Panasonic menggunakan pendekatan yang sama ketika depresi ekonomi melanda Jepang kala itu, memutuskan tidak ada langkah PHK walaupun produksi dipangkas sampai separuh, seraya meminta pegawai bersabar (gamang) dan tetap bekerja setengah hari saja untuk itu. Pada titik itu, Panasonic tetap tidak mau ada PHK dalam kondisi seburuk itu, dan karyawan diminta untuk bisa (berkorban) dengan gaji terpangkas dengan kerja setengah hari. Sejarah mencatat bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan “gamang” tulus itu berbuah manis. Matsushita tetap eksis sampai sekarang sebagai salah satu world class company.

Kembali ke obrolan di atas, perilaku untuk mudah mengambil langkah impor untuk produk-produk tertentu yang bangsa ini sudah bisa memproduksinya, dengan alasan untuk menurunkan harga agar turun dan terjangkau. Sehingga harga barang itu menjadi turun karena disaingi keran produk impor yang dibuka secara jangka pendek untuk membereskan reaksi publik yang ingin produk itu hadir dengan produk murah. Tetapi secara jangka panjang, langkah instan ini akan mematikan produk dalam negeri serta semakin mengecilkan daya saing produk dalam negeri. Ini sesungguhnya merupakan perilaku “tidak gamang” yang hanya menuntaskan masalah dari kacamata harga semata, bukan daya saing bisnis produk anak negeri.

Pertanyaan menariknya : sampai kapan kita dijadikan “pembeli” terus-menerus akibat perilaku manja yang kurang sabar ini?

Menurut saya, solusi terbaik adalah, pemerintah harus bisa menahan diri untuk tidak mudah membuka keran impor, khususnya produk ini bisa diproduksi dalam negeri. Kalau pasokan kedelai kurang, bukan diselesaikan dengan impor kedelai dari luar. Atau harga gula merangkak naik, tidak diselesaikan dengan operasi pasar gula impor. Tetapi lebih elok mencontoh langkah yang pernah dilakukan Matsushita di atas, yakni meminta pembeli untuk “bersabar” dengan harga sedikit naik, kemudian proses produksi barang yang kurang diperkuat dan diberdayakan untuk mampu menutupi ketertinggalan produksi itu step by step. Ini agak menyakitkan, karena harga gula menjadi mahal misalnya. Konsumen Indonesia yang biasanya minum 3 gelas perhari akan “dipaksa” mengurangi menjadi 2 gelas perhari. Tetapi dalam strategi bisnis jangka panjang, industri bisnis tersebut akan menggeliat tumbuh dan berkembang.

Mengimplementasikan sikap “gamang” ini memang membutuhkan pengertian dua belah pihak, yakni rakyat harus sabar dan melatih diri untuk mengencangkan ikat pinggang untuk tumbuh dan majunya industri di tanah air. Di sisi lain, pemerintah harus menjauhi kebijakan mudah memgimpor barang yang sudah mulai bisa diproduksi anak negeri. Memang akan lebih ribet karena harus mendampingi dan melindungi para insan industri yang “dilindungi” daripada memilih pilihan membeli barang impor yang relatif mudah dengan tinggal membuka keran impor. Tapi dalam jangka panjang, perilaku sabar ini lebih menguatkan pondasi atmosfer bisnis Republik di masa datang.

Zaman ini memang memuja kecepatan dan efisiensi sebagai dewa. Tetapi kesabaran serta menjauhi perilaku instan tetaplah penting. Kalau China yang berpenduduk nomor satu di Asia dan dunia dikenal semakin mengukuhkan perannya sebagai jawara di bidang ekonomi. Sementara India yang berpenduduk nomor dua di Asia juga mulai bangkit dan dikenal sebagai pemasok tenaga IT dunia. Akankah Indonesia sebagai negara berpenduduk nomor tiga di Asia akan terus-menerus dikenal sekedar “pembeli” semata dan pengimpor barang buatan negeri lain. Kalau itu terjadi alangkah menyedihkan sekali.

Jadi…..gamangshite kudasai !!

Credit Photo : reflectedman.blogspot.com

Previous

Barkas : Ketika Barang Seken Di-bisniskan

Next

Membangun Basis Promoter Solid

5 Comments

  1. Nice posting mas Donny..
    persoalan impor2 bangsa kita ini, selain persoalan tidak ada nya rasa “gamang” tadi, salah satu faktor utama pemicunya adalah kepentingan2 kelompok tertentu yg akan mengambil keuntungan besar dari proses impor itu, siapa mereka? ya para importir dan pihak2 yg terkait termasuk pihak2 di pemerintahan.. ini juga mgkin salah satu sebab mengapa pak Fadel Muhammad sbg menteri kelautan yg kita akui kinerjanya sampai diganti oleh bpk SBY, isunya karena beliau berani menolak kebijakan impor garam dan ikan dari luar negeri..dg harapan dpt menjaga eksistensi petani garam dan nelayan..

    lha kalau pemerintah saja kalah dg kepentingan2 bisnis spt ini, apa yg bisa kita harapkan? apa yg bisa kita perbuat? masyarakat mgkin bisa diajak “gamangshite” tetapi banyak2 oknum2 pejabat kita yg tega menggadaikan bangsanya utk kepentingan sesaat.. semoga menjadi perenungan bagi kita2 yg mgkin kelak akan juga dapat giliran jadi pejabat.. 🙂

  2. Agus Winartono

    Memang betul yang kang Donny ungkapkan bahwa orang di negeri ini inginnya cenderung ingin yang ter enak dengan cara instant, tanpa memikirkan efek jangka panjangnya. Tidak saja di dunia perdagangan tapi juga sudah merambah ke dunia politik dengan adanya money politics, dalam budaya berkesenian dengan adanya lomba-lomba idol dan bintang-bintang, yang banyak membuat anak-anak bahkan orang tua berfikir bahwa untuk menjadi kaya tidaklah harus sekolah dan kerja keras.

    Kembali ke masalah gampangnya pemerintah RI membuka keran impor, menurut saya ini juga akibat dari ketidak mampuan pemerintah mengontrol jalur distribusi (supply chain) suatu produk dari supplier awal seperti Petani, peladang, nelayan dll hingga sampai di konsumen akhir. Sudah sering kita melihat harga cabai melambung selangit, tapi petani cabai tetap saja kering keriting seperti cabainya. Harga beras menanjak tinggi, tapi tetap saja petani/pengolah sawah merintih kesulitan untuk membeli benih dan pupuk.

    Dan kita semua tahu, bahwa penikmat kesejahteraan dari kenaikan harga komoditas itu adalah pedagang/tengkulak perantara yang ada di tengah-tengah yang dengan entengnya mempermainkan angka hanya untuk keuntungan dirinya semata.
    Penimbunan barang, pengetatan supply dengan enak dilakukannya tanpa takut akan ada tindakan aparat pemerintah, yang mereka yakini para aparat itu akan mengangguk setuju setelah diberikan amplop berisi lembaran Rupiah warna merah dan biru.

    Apalagi setelah para tengkulak/pedagang amoral ini tahu bahwa mereka didukung orang nomor satu yang dikelilingi manusia-manusia yang tidak punya tabu. Mereka terbahak setelah melihat salah satu menteri yang sok pahlawan, mendadak diturunkan. Padahal sang menteri ini baru saja berusaha meningkatkan taraf hidup petani garam dengan menolak impor garam, dan menginstruksikan untuk merekspor garam impor yang ketahuan ditimbun di Pulau Garam.

    Negeriku ini memang ironis, tapi tetap aku cinta Kau.
    @rek Suraboyo

Tinggalkan Balasan ke Donny Oktavian Syah Batalkan balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén