Free Trade Area (FTA) ASEAN-China di Mata Pebisnis

Free Trade Area (FTA) ASEAN-China di Mata Pebisnis Free Trade Area (FTA) ASEAN-China di Mata Pebisnis greatwall4
Setidaknya tercatat tiga hari berturut-turut, tertanggal 28, 29, 30 Desember 2009, Kompas mengulas Free Trade Agreement ASEAN-China alias Perjanjian Perdagangan Bebas antara ASEAN dan China yang diberlakukan efektif mulai tahun 2010. Diulas di halaman pertama (headline) dengan tulisan besar-besar yang dilambari nuansa kekhawatiran menyusup diantara ulasan tersebut. Dalam berita itu membeberkan sejumlah pengusaha yang “khawatir” akan serbuan produk China yang menghujani Indonesia di era pemberlakuan pasar bebas. “Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China cepat atau lambat akan menghancurkan sendi-sendi industri di dalam negeri,” papar Kompas edisi 28 Desember.

Membaca laporan di atas, sesaat mengajak ingatan saya mampir di suasana kampus beberapa tahun lalu di Jepang. Kampus saya merupakan sekolah Ekonomi dan Bisnis di Jepang, tetapi menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar kuliahnya. Tak ayal, banyak kolega kampus dari belahan dunia ada di sana, tercatat tidak kurang ada 50 kewarganegaraan dari berbagai bangsa, singkatnya sangat heterogen. Salah satu komunitas Mahasiswa yang terkenal cukup erat, kompak, sekaligus cukup rajin (belajar) adalah komunitas mahasiswa China. Pada perayaan tahun baru China (Gong Xi Fa Choi) di kampus, kehebatan membangun networking antar mereka terlihat erat. Bagaimana mahasiswa dari China daratan dengan mahasiswa China perantauan (hoa xiu) terlihat membaur dan solid. Tercatat mahasiswa China dari Hong Kong, Taiwan, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan kanada disatukan dibawah satu payung, bahasa China. Melihat fenomena itu, saya pribadi memprediksi “kejatuhan Amerika Serikat” sebagai kekuatan ekonomi nomer 1 dunia adalah sebuah keniscayaan (bakal disalip oleh China). Just the matter of time !!

Betapa tidak, ditilik dari kaca mata paling “bodoh” saja, mahasiswa Amerika (dan juga Eropa) datang ke kampus hanya “bermodal bahasa Inggris” saja, bahasa China belum tentu bisa, bahkan bisa bisa dibilang rata-rata tidak bisa. Sementara Mahasiswa China, bahasa China adalah bahasa ibu sedangkan bahasa Inggris, walaupun aksennya “parah” dipastikan, tidak mungkin TOEFL-nya dibawah 550, karena ada passing grade masuknya. Dari segi akademis, apalagi mata kuliah berbau matematika dan statistik, mereka gape banget. Ketekunan yang luar biasa membuat mahasiswa dari China acapkali “menduduki” posisi terhormat di sisi akademis ( Padahal kuliahnya pengantarnya bahasa Inggris lho bukan bahasa China…lol ).

Apa benang merah cerita berita kompas dengan mahasiswa China di kampus saya? Terus terang kita akan “digilas” habis oleh China di era pasar bebas kalau kita tidak menggubah strategi manuver bisnis, seperti nasib mahasiswa Amerika di atas. Lawan tanding bisnis kita adalah sebuah bangsa yang tekun, pantang menyerah, dan menyukai hal-hal detil. Kalau tidak hati-hati, industri yang dibangun dengan susah payah bisa gulung tikar diserbu produk murah dari Negeri Panda ini. Dari sisi manuver bisnis, ada beberapa grand-design bisnis yang perlu dibangun.

Pertama, lawan-bisnis yang kita hadapi adalah bangsa yang kuat pada perihal “detil”. Harus diakui terkadang bangsa kita lemah terhadap hal ini. Tidak sabar untuk menekuni dan menelisik A sampai Z-nya bisnis secara mendalam dan mendetail. Tak heran budaya instan lebih mengemuka. Sangatlah perlu memahami consumer behavior kolega China kita. Beberapa Sekolah di Jakarta saya amati sudah memulai pengajaran bahasa mandarin dari beberapa tahun lalu, saya pikir hal yang positif karena merupakan salah satu pintu masuk mengintip serta memahami karakter dan perilaku konsumen Negeri Tirai Bambu. Ingat penduduk China adalah penduduk terbanyak di dunia. Momentum pasar bebas harus bisa kita manfaatkan, karena sesungguhnya adanya “bisnis” diawali dari kebutuhan (needs), dan kebutuhan bisa didapat kalau kita memahami “perilaku sehari-hari” orang yang butuh tersebut.

Kedua, meninggalkan kebiasan “perilaku bak saudagar” dan mulai membangun “perilaku bak produsen”. Serbuan dari Negeri Tirai Bambu ini tidak bisa diantisipasi dengan bermental beli kemudian dijual lagi (hit and run business) tanpa ada polesan nilai tambah. Kalau memungkinan produk atau jasa yang dilahirkan unik dan susah ditiru, syukur-syukur bahan dasarnya cuman ada di Indonesia. Misalnya, bikin mie (noodle) yang bahan dasarnya cuma ada di Indonesia dan cocok untuk lidah orang China (karena bangsa China salah satu Negara pengkonsumsi mie terbanyak di dunia).

Ketiga, saya melihat koordinasi yang “kurang kuat” antara pebisnis dengan pemerintah. Hal ini tercermin dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang “pro-bisnis”, terkadang ada beberapa produk lokal “mati suri” karena kurang dukungan pemerintah. Atau dengan alasan ekonomis, lebih baik mengimpor dari luar sehingga infant product (produk belia) tidak laku karena kalah dengan produk impor yang didatangkan dengan alasan “lebih ekonomis”. Sudah saatnya pebisnis sebagai pelaku langsung yang terlibat “pertempuran Bisnis” dilibatkan dalam penyusunan grand design pasar bebas ASEAN-China ini. Lemahnya implementasi regulasi di lapangan selama ini harus direduksi untuk meningkatkan daya saing melawan China.

Akhirnya, mengutip kata-kata Bapak Sofyan Wanadi, pengusaha sekaligus Ketua umum APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia), “ Bersaing business to business dengan China memang sulit, tetapi kita tidak boleh kehabisan akal.” Sebuah pandangan yang jauh dari nada pesimis yang kudu diapresiasi. Penuh optimisme. Ketukan genderang perang dalam bisnis merupakan sebuah kepastian, serbuan barang “murah-meriah” China bakal datang membanjiri, sebaliknya bisakah kita juga membanjiri negeri Panda dengan produk kita ??? Saatnya “berperang dengan kepala tegak” !!

Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2010 kepada sidang pembaca Blog Manuver Bisnis, semoga di tahun baru kesuksesan selalu menyertai Anda.

Credit Photo by : molas@flickr.com

Previous

Tradisi “Down to Earth” ala Jepang

Next

Agar Tidak Gulung Tikar di Bawah 5 Tahun Pertama

8 Comments

  1. sinta damayanti

    Persaingan dalam usaha …BIASA!! syukur2 persaingan sehat ngga spt disini setiap pedagang masih percaya adanya “sisi lain” utk memuluskan usahanya… so.. China emang tangguh, hebat, org2nya cerdas dibalik itu yg saya ketahui sedikit tentang mrk.. yaitu mrk rata2 mementingkan kuantitas product dgn polesan yg sedemikian menarik dgn harga jual ….menggiurkan konsumen.. tp apa product mereka akan menyerbu semua lapisan.. menurut saya mungkin awalnya ya..tp demi kesehatan, keamanan, kenyamanan sang konsumen yg akan menentukan.. jd klo diambil kesimpulan boleh kita kuatir dgn serbuan produk mrk, tp kekuatiran tsb sbg pembelajaran ke depan sebagai langkah yg harus kita ambil n tetap mempertahankan kualitas produk sendiri, shg diharap kita bisa bersaing dgn mereka.. toh dengan adanya persaingan bukannya kita akan semakin hebat bukan??

    • @Sinta : Nasihat yang tepat Bu Direktur 🙂 Kita harus melihat “kompetisi” dalam bisnis dalam prespektif yang selalu positif dan penuh optimisme….kita ikut mendoakan semoga bisnis Anda di tahun ini menjadi “lebih baik”…..sukses selalu Bu Direktur….

  2. Siapkah Indonesia???

    • @Boeding : Sepertinya mau tidak mau harus siap, perjanjian sudah diteken…siap-siap “perang” Pak, ndak ada pilihan :), terima kasih bersedia mampir di Blog Manuver Bisnis…..

  3. Thanks udah berkunjung,
    ini kunjungan balasan,
    salam kenal.

  4. angga

    Pengalaman di IUJ masih sama Mas.. tapi kalo di sini kita masih menang kok.. Yang pastinya kentara dari segi kuantitas:)
    Terus berkarya Mas!

    • @ Angga : Kolega kita dari China merupakan “kompetitor tangguh”, bagaimanapun mereka menang secara kuantitas. Terima kasih atas atensinya, saya usahakan posting seminggu sekali di Blog, tetep mampir kalo waktunya lega

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén