Fenomena Starts Up di Indonesia : Momentum dan Daya Tahan  Fenomena Starts Up di Indonesia : Momentum dan Daya Tahan internet marketing

Bulan Puasa lalu, saya berkesempatan menyambangi kantor detik.com di kantornya di bilangan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Dari obrol mengobrol dengan rekan-rekan disana, teman di detik mengabarkan bahwa baru beberapa hari ini manajemen detik.com akan dipayungi manajemen baru, saya sempat terperanjat. Kala itu serta merta saya bertanya siapa buyer-nya? Dengan nada guyon, teman di detik.com berseloroh kita akan menjadi saudara sepupu stasiun yang terkenal dengan Opera Java-nya. Mafhumlah saya, pengakusisi detik.com, adalah group Para yang dikomandani Chairul Tanjung. Bisik punya bisik rekan yang bekerja disana menyebut nilai akuisisi-nya ratusan M. Beberapa hari kemudian beberapa berita mewartakan nilai akuisisinya mencapai Rp. 530 M. Wuiiih…..

Sesaat mendengar berita itu, bayangan saya diajak flash back ketika masa-masa reformasi merona, sekitar 13 tahun yang lalu. Kala itu detik.com, walaupun mengguna internet belum sebanyak sekarang, sudah menjadi salah satu rujukan berita yang sering disambangi. Terutama teman-teman Indonesia yang bermukim di luar negeri yang ingin mendapatkan berita yang up-to-date tentang gelegak huru hara yang mengharu biru di Indonesia. Portal yang didirikan Abdul Rahman yang sering disapa Cak Dul bersama Budiono Darsono, wartawan tabloid Detik, harus diakui merupakan salah satu portal berita yang disambut hangat dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat dengan beritanya yang khas : real-time.

Sehingga kala itu boom perusahaan starts up (julukan bagi perusahaan yang bergerak berbasis teknologi dunia maya) di Indonesia juga cenderung mekar. Saya mencatat ada beberapa perusahaan seangkatan detik.com, seperti astaga.com, satunet.com, kaskus.com, indo.com merupakan perusahaan starts up yang lahir di sekitar tahun-tahun itu. Ketika perusahaan starts up di Amerika rontok di era 2000-an, agaknya kecenderungan itu menular pula di Indonesia. Beberapa perusahaan starts up lokal banyak yang berguguran, dintaranya satunet.com, astaga.com. Beberapa kolega saya yang mendirikan perusahaan berbasis starts up, yang kebanyakan lulusan sekolah bisnis dari Amerika Serikat, ada yang terimbas dengan menutup usahanya karena pemasukan dan pengeluaran dirasa njomplang. Sempat kasihan juga sih….

Diantara yang berguguran, beberapa perusahaan starts up lokal ada yang mencoba bertahan, walupun mungkin dugaan saya dengan sedikit tertatih-tatih, tetapi beberapa tetap eksis sampai sekarang. Disamping detik.com, Kaskus adalah salah satunya. Perusahaan yang didirikan oleh Andrew Darwis dkk yang di komunitasnya sering menggunakan kata-kata : buka lapak gan, harga miring gan, sundul gan….juga bertahan sampai sekarang. Bahkan Kaskus dibeli generasi kedua group Djarum lewat Global Digital Prima Ventures yang dinahkodai oleh Martin Hartono. Memutuskan untuk bertahan di masa-masa sulit di tahun 2000-an memanen legitnya memanen hasilnya sekarang.

Fenomena manuver Detik.com, Kaskus memberikan pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam bisnis. Bahwa momentum dalam bisnis memegang peranan dalam kesuksesan berbisnis. Barangkali para pendiri perusahaan starts up di Indonesia barangkali visinya sudah jauh kedepan, kemampuan dan pengalaman juga ok. Tapi momentumnya kurang pas. Diantaranya, jumlah pengakses internet 13 tahun lalu tidaklah sebanyak sekarang dan harga aksesnya belum semurah sekarang. Saya ingat betul, di tahun itu belum banyak warung internet, apalagi punya modem sendiri. Alhasil walaupun arah bisnisnya sudah benar, tapi target yang disasar belum sampai level itu.

Coba bandingkan dengan jaman sekarang, per September 2011 saja, pelanggan Facebook Indonesia sudah melampaui 40 juta users, padahal tahun 2008 belum sampai sejuta users. Majalah Swa memprediksi jumlah internet users di Indonesia di tahun 2015 akan melampaui 167 juta users. Bisa dibayangkan berapa potensi bisnis-nya kalau Anda mempunyai model bisnis starts up yang unik sehingga bisa memikat penggunanya yang jumlahnya makin lama makin melesak naik itu. Sebuah potensi bisnis yang amat menggiurkan.

Kedua, daya tahan untuk tetap di bisnis yang sama (business endurance) juga memegang peranan tidak kalah penting dalam bisnis. Bisa jadi detik.com maupun Kaskus barangkali di tahun 2000an ketika banyak perusahaan starts up rontok, mereka juga terseok-seok atau malah berdarah-darah. Kesabaran serta kekonsistenan untuk tetap melangkah di rel bisnis yang sama sembari menunggu “momentum bisnis” yang tepat, juga merupakan hal tidak boleh dilupakan.

Ketika banyak perusahaan starts up mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan keluar dari gelanggang bisnis, untuk mengurangi kerugian yang lebih besar. Harapannya, kalau kondisi bisnis membaik nanti masuk lagi. Teori secara nalar betul, tetapi diteropong dari kacamata bisnis, masuk ketika kondisinya membaik itu terbaca “terlambat” dalam bisnis. You’ve lost your momentum. Ketika momentumnya mendekat atau tiba, perusahaan yang tetap di jalurnya yang akan menikmati keuntungan pertama karena, posisi sebagai incumbent selalu diuntungkan. Karena konsumen akan “mengenalinya” lebih dahulu.

Jadi, sudahkan momentum dalam bisnis yang Anda tekuni menyambangi Anda? Sudahkan Anda mencoba untuk bertahan sekuat tenaga untuk tetap setia di jalur bisnis yang Anda lakoni? Pilihan sejatinya ada di tangan Anda semua. Sukses untuk Anda !

RIP Steve Jobs (1955-2011), Apple CEO. Dunia Bisnis kehilangan salah satu orang yang banyak memberikan wejangan perihal bisnis. Selamat jalan Steve!

Credit Photo : bisnisukm.com