Era Milik Pemain Amatir

Era Milik Pemain Amatir Era Milik Pemain Amatir snailfree

The reign of the dilettante….” (Crowdsourcing : Why The Power of The Crowd is Driving the Future of Business, karangan Jeff Howe).

Minggu-minggu terakhir ini berita tentang lagu dangdut beraksen disko berjudul Keong Racun jadi pembicaraan dimana-mana. Dua Perempuan jelita mojang Bandung yang berstatus mahasiswa (bukan penyanyi profesional) bernama Jojo dan Shinta yang melakukan lipsynch lagu itu mendadak jadi popular. Dari sebuah “keisengan” semata dengan menaruh klip video lagu di youtube dengan ditingkahi goyang kepala yang menurut saya hal yang baru (saya sempet senyum-senyum sendiri pas lihat gaya mereka “berjoget kepala”…asyik juga ya..heheheheh), bahkan menjadi trending topic di situs mikroblog twitter. Dari “keisengan” tadi, ternyata hasilnya tidak “iseng”, tawaran iklan serta tawaran menjadi model iklan mendadak deras menghampiri. Padahal konon, penyanyi profesional asli lagu Keong Racun sendiri malah tidaklah sepopuler Jojo dan Shinta.

Cerita tentang Jojo dan Shinta, mengingatkan saya akan cerita penulis buku Lasykar Pelangi, Andrea Hirata. Sejatinya, Andrea bukanlah penulis professional, dia hanyalah seorang profesional yang bekerja di kantor. Menulis hanyalah hobi, kebetulan ada temennya yang membaca naskah itu dan mengirimkan ke publisher. Hasilnya kita semua tahu bahwa buku itu menjadi best seller yang dicari banyak orang, dan bahkan sequel film yang dilempar di pasar pun nasibnya setali tiga uang….sukses besar. Di beberapa kasus, walupun beritanya tidak “seheboh” dua narasi di atas, beberapa pemain amatiran photographer memasang beberapa hasil bidikan fotonya di laman flickr, mendadak hasil fotonya “ditawar” untuk dibeli layaknya hasil jepretan photographer professional.

Jeff Howe, contribution editor majalah Wired dari Amerika Serikat menyebut fenomena di atas sebagai “the reign of the dilettatante”….sebuah era milik sang amatiran. Dalam bukunya berjudul Crowdsourcing : Why The Power of The Crowd is Driving The Future of Business, beliau menjelaskan para amatiran yang kebanyakan bermodalkan “passion” ketimbang “talent” dengan kondisi kesejagatan sekarang ini bakal mampu “bersaing” dengan sang professional. Kekuatan “kerumunan” di masa datang sangatlah hebat, dan menurut Howe ini merupakan cikal bakal bisnis di masa mendatang. Kalau sempat, dalam blog ini akan saya coba resensi buku itu yang menurut saya cukup menarik.

Jadi apa pelajaran yang bisa dipetik dari fenomena ini? Hati-hatilah dengan hobi dan kesenangan Anda, jangan-jangan kesenangan kecil itu bisa berdampak “luas” seperti yang dialami Jojo dan Shinta. Menjadi sebuah ladang bisnis yang datangnya dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Walaupun banyak yang mengatakan fenomena di atas adalah “kebetulan” semata. Tetapi saya sendiri melihatnya bukan sebuah “luck”. Meminjam istilah Howe, barangkali para amatir-an tidak memiliki talenta atau bakat bak pemain profesional, tapi mereka memiliki passion (gairah yang menggebu). Ini yang membedakan.

Pelajaran menarik lainnya dari kasus di atas adalah di tengah persaingan yang ketat dan kebutuhan yang melambung, tidak ada salahnya Anda mengikuti kata hati menekuni hobi “amatir” Anda, barangkali itu bakal menjadi “sumur kedua” penghasilan Anda. Beberapa kolega yang pernah melakukan hal itu, ternyata hobinya malah penghasilannya lebih besar dari penghasilan utamanya.

Ada cerita dari seorang rekan yang keluar dari kantor, karena hobi masak kuenya lama kelamaan menyedot pesanan yang tidak bisa digarap lagi sebagai pekerjaan sampingan. Padahal dulu berawal “iseng”, idem ditto seperti kasus Jojo dan Shinta, membawa kue buatannya untuk dicicipi oleh kolega kantornya. Mula-mula dipesan beberapa teman kantornya sekedar untuk acara ulang tahun keluarga, sampai akhirnya bergulir dari mulut ke mulut, hobi itu tidak bisa lagi digarap sambil lalu, pesanan semakin banyak. Koki kue amatiran tersebut telah bermetamorfosis menjadi chef kue profesional sekaligus menjadi pengusaha kue.

Jadi, hati-hatilah dengan hobi Anda………racun bisnis-nya amatlah menggairahkan dan tidak disangka-sangka.

Credit Photo : snailfree

Previous

Alat Takar itu Bernama KPI

Next

Komunitas dan Investasi Emosional

3 Comments

  1. sinta damayanti

    Amin… semoga demikian adanya… hobby adl kecintaan seseorang pada sesuatu… dirasakan dengan hati yg mendalam utk menghasilkan suatu karya yang bisa dibanggakannya… tidak perduli jerih payah yg dilakukan utk mengasah hobby… pada dasarnya org yg memiliki hobby.. dia tidak tertuju semata karena materi tapi bagaimana dia dapat menampilkan hobby miliknya tsb utk diterima dan disukai sekitar… kepuasan pokok utamanya…

    asahlah hobby kita itu ..adl talenta yg tidak ternilai harganya… selain membuat hati kita terpuaskan krn bisa memenuhi hobby tsb juga bisa menghasilkan sesuatu yg semula sama sekali tidak diperkirakan… amin..

    • @ Sinta : Sepakat Bu Sinta, seperti yang Anda lakukan sekarang sesungguhnya merupakan kesungguhan dalam mengasah talenta yang terkadang terlupakan……

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén