Early Adopter dan Pebisnis Pembelajar

Early Adopter dan Pebisnis Pembelajar Early Adopter dan Pebisnis Pembelajar selfcarereadingbreak

Global hyper-competition demands for simultaneous efficiency, responsiveness, and speed mean, quite simply that firm must become better learners” (artikel Responding to Hyper-competition di Organizations Science, oleh : J.H Bauer dan C.C.Snow).

“Sekarang pemasukan menurun tajam, tidak seperti dulu,” ujar seorang patner bisnis dari telepon ketika saya menanyakan kondisi bagaimana bisnis yang dilakoninya. Kolega saya ini termasuk early adopter (pemain awal) di bisnis tersebut, sudah makan asam garam di bidang itu. Walaupun kini sepertinya sudah banyak pesaing yang menerjuni bidang tersebut. “Bulan lalu terpaksa downsizing, beberapa karyawan aku lay off,” sambungnya sembilu. “Beberapa cara sudah dilakukan, bahkan saya berangkat lebih awal dan pulang lebih malam sampai diomelin Keluarga, kondisinya cenderung menurun”, ujarnya pelan. Barangkali ada yang pernah mendengar keluhan seperti ini, atau barangkali sekarang bisnis atau di kantor Anda sedang mengalami situasi yang sama?

Kolega saya ini bertutur kalo bisnis yang dilakoninya tidak seperti beberapa tahun silam. Dulu margin yang dinikmati cukup lumayan dan relatif belum mulai tergerus persaingan. Sebuah kondisi yang tidak bisa dihindarkan. Pelan namun pasti profitnya tergerus. Saya pribadi melihat bisnis modelnya sepertinya mulai diintip pesaing dan ditiru serta dikemas dengan lebih canggih oleh kompetitor, tetapi kolega saya sepertinya “kurang menyadari” perkembangan ini. Beliau masih asyik-masyuk dengan pendekatan lama yang dia lakoni. Sampai akhirnya situasinya kian memburuk yang memaksanya melakukan serangkaian penghematan termasuk downsizing karyawan.

Meskipun early adopter dalam bidang bisnis apapun, lebih diuntungkan dibanding yang datang kemudian, karena lebih dulu menerjuni, bukan berarti posisinya “aman” dari gangguan. Contohnya, salah satu pioneer swalayan terkemuka di tanah air, Makro pun memutuskan sahamnya dijual ke grup Lotte. Padahal waktu awal berdirinya, Makro termasuk swalayan yang menghadirkan konsep baru dan pionir di bidang itu. Walaupun alasan sebenarnya penjualan sahamnya tidak diketahui, tetapi hal ini menunjukkan mengandalkan posisi early adopter semata tanpa dibarengi inovasi dan perbaikan berkelanjutan, di era hyper-competition seperti ini, sangatlah riskan dalam bisnis.

Kembali ke kasus yang mendera rekan saya di atas, seringkali saya melihat posisi early adopter yang merasakan gurih dan renyahnya profit yang cukup besar di awal, karena masih rendah tingkat persaingannya, seringkali terjebak rutinitas berbisnis as usual. Strategi yang dikemas nyaris tanpa inovasi dari tahun ke tahun, karena tanpa itupun, gendutnya margin masuk kantong tanpa harus memeras keringat. Jadi terjebak penyakit “day to day activities” yang akut. Hal yang sama menjangkiti beberapa BUMN di negeri ini yang dimanjakan karena monopoli, ketika hak itu dicabut, beberapa diantaranya kolaps walaupun sudah disuntik pendanaan tambahan.

Penyebab kedua yang sering saya amati adalah lemahnya semangat belajar di lingkungan itu. Baju keren berdasi lengkap dengan aksesori wah, tumpangan mobilnya tidak kalah mengkilap, aroma parfum mahal berhembus kemana-mana. Gayanya chic habis. Akan tetapi ketika dihadapkan dan ditanyakan solusi manuver bisnis agar bisa keluar dari belitan persaingan. Mendadak tergagap-gagap, terbata-bata bahkan blank, tidak punya ide. Hal itu menandakan asupan untuk menambah kapasitas kemampuan diri dalam bisnis mengalami stagnasi.

Bagaimana bisa mendapatkan sejumput solusi menghadirkan serangkaian manuver bisnis menghadapi kompetitor kalau jarang membaca buku-buku bisnis yang relevan, ataupun menyambangi seminar-seminar yang berkaitan dengan bisnis/pekerjaan yang ditekuni ? Karena dalam bisnis, sangatlah tidak mungkin bisa mendesain serta mengayunkan manuver bisnis menghadapi kompetitor hanya mengandalkan intuisi semata, karena dalam bisnis memang separonya merupakan art dan intuisi, tetapi setengah saham lainya dikail dari ilmu (menjadi pembelajar).

Jadi walaupun dalam praktiknya, bisnis bukanlah langkah murni akademisi, tetap disempatkan belajar dalam kondisi sesibuk apapun adalah keharusan. Mungkin tidak harus masuk bangku kuliah untuk itu, tetapi bisa dengan mengikuti seminar, membaca buku, atau mampir di blog ini seperti yang Anda baca sekarang…hehehehe. Kalau memungkinkan, tidak ada salahnya mengirim staf yang kita miliki untuk ikut kursus singkat agar horizon bisnisnya merekah. Kalau hanya terjebak kesibukan ritual pekerjaan yang sama dari hari ke hari, pasti akan gagap kalau kompetitor melancarkan manuver bisnis baru. Karena hari-harinya hanya diisi mengerjakan pekerjaan yang sama dan berulang. Semoga bisnis Anda tidak mengalami kemuraman seperti yang dialami teman saya diatas. Sempatkanlah “membaca” dan Belajar…..Everyplace is a school and Everyone is a teacher.

Credit Photo : www.greatbooksandaudiobooks.com

Previous

Tertarik Menjajal Bisnis Mom-and-Pop ?

Next

Merubah Diri atau Dipaksa Berubah ?

4 Comments

  1. Indradjaja

    Pagi-pagi sudah membaca pengantar bisnis yg menggugah pemikiran. Jadi menambah energi lagi. Dan saya suka tag line yang terakhir.

  2. papayasmin

    Menarik sekali membaca ulasan Mas Donny. Melakukan bisnis sepertinya sama dengan sekolah . Everyplace is a school and Everyone is a teacher.Harus terus belajar dan mengamati perkembangan bisnis kita . Saingan kita dan konsumen kita sebagai stakeholder .

    Untuk mereka yang agak malas belajar, tidak boleh malu meminta tolong kepada konsultan2 bisnis seperti Mas Donny ini. Dan harus berani menganggarkan dana untuk proses tersebut. karena seorang pengusaha adalah orang yang mampu mengelola sumber daya / leverage secara cerdas dan efisien , termasuk sumber daya konsultan.

    Bagaimana pendapat Mas Donny….

    • @Papayasmin : ya memang dalam beberapa kasus karena “ksibukan” tidak ada salahnya mengajak “brainstorming” dengan konsultan yang kompeten di bidangnya agar mendapatkan “amunisi insight” untuk menghadapi dinamika persaingan yang kita mengetat…..sukses untuk Anda…..

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén