Dicari Pegawai Negeri Yang Mempunyai  Government Intrapreneur Mind Set Dicari Pegawai Negeri Yang Mempunyai  Government Intrapreneur Mind Set intrapreneur

The successful  organization of the third millennium will embrace and encourage Intrapreneurship. If you want new and different result, you need new and different ideas.” (Victoria C.DePaul, Creating The Intrapreneur: The Search for Leadership Excellence)

Tidak selamanya benar ada persepsi kalau pegawai pemerintah tidak mempunyai “sense of business”.  Setidaknya seorang Sukamto Padmosukarso, Dirut PT. Pos Indonesia (Posindo) membuktikan hal itu. Bagaimana tidak hadirnya kemudahan surat elektronik (surel) maupun semakin murahnya tarif SMS (short message service) membuat primadona komunikasi lewat surat menjadi terasa jadul dan agak “ketinggalan kereta”. Dulu adalah hal lumrah mengirimkan ucapan Lebaran, Natal maupun Tahun Baru dengan sepucuk surat dengan dibubuhi perangko di pojok surat. Ada suasana khidmat dan hangat menyusup. Tapi jaman sekarang sepertinya meniadakan hal itu, hadirnya SMS, Surel serta maraknya social media, nilai “keramatnya” surat menjadi luntur digantikan kecepatan hentakan tangan di tuts keyboard PC ataupun ponsel telah meluluh lantakan kebiasaan itu.

Bisa ditebak betapa core business yang menjadi tulang punggung Posindo tergerus kecepatan jaman. Di periode 2003-2008, di masa-masa sulit Posindo, laporan keuangan merah menyala-nyala alias merugi hingga 300 miliar lebih. Jelas saja dengan biasa mengantar 13 juta pucuk surat perbulan menjadi  tinggal 4 juta pucuk, itu menggerus pendapatan Posindo. Untungnya Dirut Posindo baru yang diangkat, yakni Sukamto Padmosukarso, adalah tipe pegawai negeri yang berpola pikir Government Intrapreneur di kepalanya.

Government Intrapreneur adalah pegawai abdi negara (PNS) professional yang berpikir layaknya seorang entrepreneur yang pola pikir inovatif, tidak gentar mengambil resiko, dan selalu mempunyai terobosan gemilang untuk mengatasi tantangan. Bukan abdi negera yang pola pikirnya masih birokratis yang biasa kita lihat. Sukamto melihat bisnis utama Posindo sedang “meriang”, konsep CPTD (Collecting, Processing, Transporting, Delivery) jadul yang mengandalkan kotak surat yang sering dipanggil bis surat sebagai andalan, sudah tidak bisa diandalkan lagi. Itu terlalu pasif dan menunggu bola bukan menjemputnya. Maka serangkaian terobosan kreatif pun mulai digulirkan. Ketimbang menunggu collecting dari bis surat di pinggir jalan, tim Posindo proaktif mencari calon klien korporat, misalnya Bank atau Asuransi yang mau menyerahkan pengelolaan suratnya ke Posindo untuk tagihan. Itu lebih baik, ketimbang pasrah menunggu masuknya surat ke bis surat yang jumlahnya semakin sedikit.

Disamping mengurangi kesan “lamban” pengiriman lewat surat sudah mulai dicek dengan tracking dengan adanya proses barcoding khususnya untuk surat-surat kilat laiknya dilakukan perusahaan-perusahaan kurir profesional. Terobosan lain adalah, penggunaan wesel instan yang mengirim uang secepat kiriman SMS. Dengan mempunyai kode PIN, seseorang bisa mengirim uang ke sanak family atau kolega di daerah dengan cara menunjukkan nomer PIN yang sudah ditentukan, yang bisa diuangkan di kantor Pos cabang mana saja. Sederetan gebrakan yang dilakukan oleh jebolan Curtin University of Technology ini merupakan sebuah gebrakan yang ditunggu-tunggu. Ada aliran darah government intrapreneur tercangkok sehingga pola pikirnya jauh dari “gaya birokrasi” yang biasa kita lihat.

Sebenarnya ide tentang Government Intrapreneur itu bukan gagasan baru. Ada beberapa buku lama yang sudah concern menyuarakan tentang hal ini, dan menyadari betapa hebatnya dan dahsyat pengaruhnya kalau kalangan birokrat pemerintahan bisa bertransformasi dengan berpola pikir seperti ini. Salah satunya adalah buku berjudul Reinventing Government: How The Entrepreneurial Spirit is Transforming The Public Sector besutan David Osborne dan Ted Gaebler yang barangkali penting untuk dibaca para birokrat Indonesia. Dengan lajunya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menjulang ini, hasilnya akan lebih hebat lagi kalau banyak insan Government Officers kita bisa menerapkan pola pikir Government Intrapreneur yang dicontohkan oleh CEO PT Posindo di atas. Bukan jamannya lagi mengedepankan gaya paternalistic dan aristrokratik yang terkadang masih terlihat.

Salah satu contoh government officer dunia yang bisa ditasbihkan dan sering dijadikan contoh model government intrapreneur adalah Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura. Lee Kuan Yew diakui banyak pihak adalah seorang pemimpin negara (yang notabene government officer) yang piawai mengelola dan menumbuhkan Singapura dengan jiwa dan kecakapan wirausaha. Lee Kuan Yew paham kewirausahaan dan sekaligus fasih mewujudkan entrepreneurial government. Apa yang terjadi di Singapura selama kepemimpinannya adalah salah satu buktinya. Masak tetangga sebelah bisa, kita tidak bisa?

Tanpa bermaksud pamer, dalam tim kami, ada sudah beberapa kali diundang untuk memekarkan spirit intrapreneur di kalangan birokrat. Silahkan mengundang kami jika berkenan. Sebuah itikad kecil dari kami untuk menjadikan Republik ini menjadi lebih baik di kancah persaingan bisnis dunia yang kian mengetat. Bukan pemain bola saja yang bisa meneriakkan “ada Garuda di dada”, kami pun ingin berkontribusi untuk kepakan Garuda yang lebih tinggi di langit……

Credit Photo: theacaciagroup.blogspot.com