rubber time Diatur Waktu atau Mengatur Waktu ? Diatur Waktu atau Mengatur Waktu ?  rubber time“Seringkali, karyawan yang kita punyai, ketika membuat skala kerja yang dilakukan, yang dikerjakan dimulai dengan pekerjaan “yang disukai” terlebih dahulu bukan “pekerjaan yang urgen” untuk dikerjakan terlebih dahulu,” papar seorang manajer di sebuah klien yang kita sambangi di bilangan Sudirman, Jakarta. “Alhasil, ketika mendekati deadline pekerjaan, seakan pekerjaan menumpuk yang urgen tetapi barangkali “kurang disukai” tadi menjadi mengejar-ngejar dia”, sambungnya. “Jadi mereka banyak yang “merasa” menjadi Mr. dan Ms.Sibuk.”

Sepenggal obrolan diatas barangkali terjadi juga di keseharian kita manakala kita bekerja di kantor. Mendadak suatu hari terasa waktu mengejar-ngejar kita.  jadi terasa hetic, terkadang under-pressure, bahkan yang gak tidak kuat menahan tekanan tersebut jadi uring-uringan dan menjadi sensitive. Itu adalah implikasi kita kita diatur oleh waktu ketimbang mengatur waktu kita. Pada titik ini. Sangatlah perlu mengatur waktu kita atau Time Management, agar apa yang kita rencanakan bisa tercapai.

Menurut Gordon McDonald dalam bukunya Ordering Your Private World, setidaknya ada 3 efek akibat kita gagal mengontrol waktu:

  • kita akan “dikendalikan” orang lain karena kita tidak mempunyai agenda yang jelas.  Seringkali kita ikut diajak kesana-kesini, sehingga agendanya sendiri yang seharusnya menjadi prioritas diri menjadi sedikit terbengkalai. Pernah mengalami selalu mengamini diajak kesana-kemari oleh seorang kawan di kantor, tahu-tahu baru menyadari target pekerjaan yang dibebankan kepada kita ternyata belum kelar?
  • Selalu dikejar- kejar  hal  yang mendesak. Sehingga kelihatan “sibuk”, padahal hal ini diakibatkan karena kesalahan sendiri melakukan skala prioritas. Contoh kasusnya sama seperti yang dialami oleh anak buah dari klien yang kami tangani yang dipaparkan di atas.
  • Akhirnya meraka hanya mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat saat di waktu produktif di kantor. Misalnya mengecek email-email gak penting, ngobrol dengan teman berlama-lama, malah sibuk mempelototi status kawan di sosial media. Makanya ada di sebuah kantor, laman sosial media ternama diblokir mulai pukul  8 pagi sampai jam 3 sore, baru setelah itu baru bisa dibuka. Tetapi itupun saya menyangsikan keefektifannya, mengingat sosial media sekarang bisa diakses lewat handphone. Ini masalahnya pada mind-set pikiran dalam memainkan waktu, kesalahan bukan ada di tools tapi ada pada pribadi yang menggunakan tools itu.

Jadi bagaimana dong agar kita tidak “diatur waktu” tetapi bisa “mengatur waktu” untuk hidup ynag lebih efisien dan produktif? Ada beberapa hal yang bisa ditempuh :

Pertama, temukan prioritas hidup Anda yang mengakibatkan hasil yang berlipat. Kalau meminjam hukum Pareto,”Carilah 20% prioritas hidup Anda yang menghasilkan hasil sebesar 80%”.  Vilfredo Pareto (1848-1923) penemu hukum Pareto ini berasal dari Itali ini melakukan studi di Italia menemukan fakta bahwa ada 20% orang Italia yang berhasil “menguasai” 80% kekayaan Itali. Hukum ini dalam keseharian manajemen sehari-hari telah dilakukan oleh Bank-Bank yang menghadirkan service untuk nasabah utama (prioritas) yang mempunyai tabungan banyak di bank, yang gak perlu antri di depan karena dilayani “counter khusus”. Jadi temukan fokus tindakan dalam hidup Anda yang paling banyak memberikan efek terbanyak di dalam hidup Anda. Teorinya sederhana, tapi banyak ditemui di lapangan “gagal” melihat hal tersebut dalam hidup.

Kedua, disiplin melakukan skala prioritas dalam hidup dan menyadari tidak semua hal penting dalam hidup itu adalah hal yang kita sukai. Menjadi displin di sini berarti mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan,bukan sekedar mengerjakan apa yang ingin kita kerjakan. Kalau meminjam term Stephen Covey, penulis buku Seven Habit of Highly Effective People, kalau belum terbiasa melakukan pendisiplinan diri, gal yang paling gampang melakukan matriks kegiatan keseharian kita dalam empat kuadran, yakni memilahnya menjadi 4 kuadran. Pertama, aktivitas Penting tapi tidak Genting. Kedua, aktivitas Penting dan Genting. Ketiga, aktivitas Tidak Penting Tapi Genting. Keempat, aktivitas Tidak Penting dan Tidak Genting.

Prinsipnya sederhana, pastikan jangan sampai aktivitas tidak penting dan tidak genting menyeruak menjadi pekerjaan yang dikerjakan terlebih dahulu walaupun itu menyenangkan buat Anda. Tetapi pastikan aktivitas Penting dan Genting menjadi prioritas untuk dikerjakan terlebih dahulu meskipun bukan hal yang menyenangkan hati untuk dikerjakan. Dan akhirnya…..selamat “mengatur waktu” Anda…

Credit Photo : beingpatty.blogspot.com